Beranda Metropolis Bakal Ada Trem di Kota Bogor, Bima Arya: Bukan untuk Gantikan Angkot

Bakal Ada Trem di Kota Bogor, Bima Arya: Bukan untuk Gantikan Angkot

Walikota Bima Arya Tinjau Bangunan Tua Pasar Bogor
Wali Kota Bogor Bima Arya meninjau kawasan Pasar Bogor bersama jajaran direksi PD Pasar Pakuan Jaya serta sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) t

BOGOR-RADAR BOGOR,Wali Kota Bogor memastikan kehadiran angkutan transportasi publik, Tramway atau Trem, di kota hujan tidak akan meminggirkan angkot.

Namun melengkapinya. Sebab, angkot secara perlahan akan hilang dengan sendirinya lantaran program konversi 3:1 atau tiga angkot menjadi satu bus.

Matikan Pengusaha Angkot, Organda Kota Bogor Tolak Transportasi Trem

universitas pakuan unpak

“Trem melengkapi bukan menggantikan angkot karena skema konversi sudah berjalan, Transpakuan menggantikan angkot secara bertahap,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat (23/8).

Saat ini, kata Bima, berdasarkan catatan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, angkot trayek kota yang beroperasi tersisa 2.400 unit.

Tahun ini akan berkurang sebanyak 800 unit, karena telah afkir atau memasuki usia tua. Artinya, dengan pengurangan tersebut, akan tersisa 1.600 yang beroperasi di tahun 2020.

“Dalam 2022 angkot sudah hilang, secara alamiah karena sudah lama akan berkurang, tapi kita kan harus pikirkan kemana mereka setelah itu, makanya ada konversi,” ungkapnya.

Namun, pola konversi saat ini akan berbeda. Bima menerangkan, jika badan hukum sebelumnya berjalan sendiri, ke depan akan berkolaborasi dengan pihak lain untuk bisa berinvestasi ke Trem.

“Ini yang sekarang kita lobi. Untuk masuk, untuk berinvestasi dengan badan hukum ini berbagi saham disini. Modelnya seperti itu,” tuturnya.

Saat ini, Pemkot Bogor juga sudah berkomunikasi dengan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) untuk segera melakukan kajian.

Kajian itu juga akan dianggarkan di dalam APBD Kota Bogor, serta BPTJ dengan estimasi senilai Rp 200 juta.

Pemkot Bogor Dapat Hibah Trem Listrik dari Belanda, Dedie Rachim: Kita Kaji Dulu

Karena itu, Bima sendiri belum mengetahui konsep dan siapa yang akan mengelola trem tersebut. Bahkan, dalam waktu dekat, wakilnya, Dedie A Rachim, ditugaskan untuk berangkat ke Utrecht, Belanda, melihat perkembangan Trem di negara tersebut.

“Yang penting kajiannya dulu. Dari kajian itu kita lihat kelayakan Kota Bogor untuk trem tadi. Kalau misalnya cocok dengan trem yang di Utrecht ya bisa. Tapi kalau tidak trem nya bisa darimana saja,” jelasnya.

Yang jelas, sambung Bima, perencanaan trem sudah ada di di Bogor Transportation dengan rute di sekitaran Kebun Raya Bogor, Stasiun Bogor, Suryakencana dan kembali lagi ke Jalan Padjajaran.

Namun, perlu kajian detail untuk mengetahui berapa pembiayaan dan berapa lama pekerjaannya, apakah perlu perluasan atau tidak, serta pembiayaan dari mana saja.

“Kalau dibangun kapan, paralel saja dengan LRT. Kita tidak tahu, kalau LRT mulus tahun depan, tapi trem tetap berjalan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Bogor tegas menolak rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk menghadirkan transportasi penunjang penumpang, yaitu Trem. Yang rencananya akan masuk di Kota Bogor pada 2020 mendatang.

Penolakan disampaikan langsung Ketua DPC Organda Kota Bogor, M Ischak. Sebab, kata dia, rencana itu dirasa akan mematikan pengusaha angkutan yang selama ini telah kooperatif mengikuti kebijakan Pemkot Bogor. Mulai dari rerouting, konversi hingga pembentukan badan usaha.

“Pengadaan trem hanya menguntungkan investor besar atau asing. Namun mengabaikan pengusaha kecil, seperti para pengusaha angkot,” ungkapnya. (gal/pkl8/c)