Beranda Metropolis Rute Bus Terminal Baranangsiang Dipecah, Pengamat: Feeder Harus Memadai

Rute Bus Terminal Baranangsiang Dipecah, Pengamat: Feeder Harus Memadai

Terminal Baranangsiang

BOGOR–RADAR BOGOR,Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memecah rute bus Terminal Baranangsiang ditanggapi positif oleh berbagai kalangan. Salah satunya Pengamat Transportasi dari Universitas Pakuan (Unpak) Budi Arif.

Dirinya menilai, fungsi Termi­nal Baranangsiang menjadi strategis lantaran berada tak jauh dari pintu Tol Jagorawi. “Tapi, terpenting, bagaimana mengintegrasikan dengan kendaraan feeder-nya, jadi misalnya sekarang dari wilayah Leuwiliang, Dramaga, bagai­mana menuju Terminal Baranangsiang,” kata Budi.

Pemecahan Rute Trayek Bus di Terminal Baranangsiang Harus Didukung Angkutan Lain

universitas pakuan unpak

Dikatakan Budi, satu alternatif yang ada kini, yakni Trans Pakuan, melalui lima koridor yang ada berintegrasi dengan Terminal Baranangsiang. Namun, feeder lainnya pun meski kuat untuk mengurangi pergerakan di jalan raya.

“Sehingga akhirnya, orang cenderung menggunakan public transportation, kata kuncinya begitu. Dan di sisi lain di setiap feeder harus menyediakan park and ride, bagi mereka yang menggunakan motor dan mobil bisa berpindah misalnya ke Trans Pakuan, menuju Terminal Baranangsiang dan menggunakan LRT menuju Jakarta,” jelasnya.

Tak kalah penting untuk diperhitungkan, kata Budi, tarif yang digunakan bisa terin­tegrasi satu moda transportasi ke moda transportasi lainnya, selayaknya tiket terusan.

“Ini juga menarik, sehingga dengan model seperti itu enggak terlalu banyak transaksi, kalau pindah-pindah dan ngetap lagi kan jadi tidak efisien. Tapi tiket terusan ini juga harus jelas harganya sesuai tujuan, sehingga pelayanan bisa optimal,” paparnya.

Di sisi lain, sambung Budi, soal hibah trem dari Belanda yang akan difungsikan pada 2020 mendatang. Pun harus dipertimbangkan, nantinya trem berada di jalur mana saja. “Trem itu kan berada di rel dengan satu bidang jalan, dengan kendaraan lain. Kondisi mati listrik, seperti yang akhir-akhir ini terjadi harus diper­timbangkan. Kira-kira ada opsi lain semisalnya menggunakan bahan bakar solar,” ungkapnya.

Rute Bus di Terminal Baranangsiang Bakal Dipecah

Masih kata Budi, masalah akan muncul jika nantinya trem beroperasi. Apakah buda­ya atau perilaku masyara­kat bisa menyesuaikan? Harus ada sosialisasi tentang attitude berkendara di jalan dengan adanya trem.

“Hal-hal itu perlu, edukasi tentang transportasi, berlalu lintas. Karena kan sistem transportasi merupakan wujud peradaban manusia, kalau transportasinya ngawur itulah wujud bangsa kita, coba dilihat di Eropa, orang yang disiplin itu transportasinya bagus,” tegas dia lagi.

Artinya, sambung Budi, harus ada law enforcement. Dengan semakin beragamnya moda transportasi di Kota Bogor, jangan sampai, Budi mene­gaskan, besar pasak daripada tiang.

“Bagaimana willingnees to pay, keinginan untuk mau membayar dan kemampuan orang berbayar, harmonis. minimal biaya operasional dan tarif tertutup. Istilahnya push and pull, mendorong dari kendaraan pribadi, menarik ke transportasi umum. tapi harus bersistem, jangan setoran,” tandasnya.(wil/c)