Beranda Nasional Terungkap, Ini Dalang Kerusuhan Aksi 22 Mei di Bawaslu hingga 7 Nyawa...

Terungkap, Ini Dalang Kerusuhan Aksi 22 Mei di Bawaslu hingga 7 Nyawa Melayang

Suasana rusuh demo di Bawaslu Jakarta, kemarin.

JAKARTA –RADAR BOGOR, Siapa dalang kerusuhan 22 Mei di Bawaslu Jakarta, mulai terungkap.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto tak memungkiri bahwa tokoh di balik layar dari kekacauan yang terjadi di ibukota kemarin berasal dari elite partai politik (parpol). Sedangkan polisi menyebut ada keterlibatan ISIS di dalamnya.

“Jadi begini ya, kita kan punya aparat intelijen ya, yang terus mengamati perkembangan situasi sebelum pemilu, pada saat pemilu maupun setelah pemilu, kita ikuti. Kalau saudara-saudara jeli mengamati berbagai kasus yang terjadi, kan ada satu keterkaitan antara kasus satu dengan yang lain,” ucap Wiranto menjawab pertanyaan dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, belum lama ini.

universitas pakuan unpak

Seperti diketahui, tujuh nyawa melayang, ratusan korban terluka, 25 mobil terbakar, sejumlah fasilitas umum rusak dan roda perekonomian terganggu akibat kericuhan massa yang terjadi di Jakarta sejak Selasa hingga Rabu (21-22/5) malam.

Aparat menyebut pemicu kericuhan berasal dari massa bayaran yang berlaku brutal dan anarkis dalam aksi damai di depan Kantor Bawaslu.

Menurut dia, berdasarkan rangkaian peristiwa hingga kerusuhan 22 Mei pecah, pihaknya melihat ada upaya membuat kekacauan nasional.

Hal itu, kata dia, terlihat dari pernyataan tokoh-tokoh yang kemudian menyalahkan aparat keamanan atas jatuhnya korban jiwa.

Wiranto melihat ada upaya membangun kebencian hingga antipemerintah. Padahal, lanjut dia, ada aksi brutal yang dilakukan kelompok lain selain pengunjuk rasa adalah preman bayaran.

Ketika ditanya sekali lagi terkait kemungkinan dalang tersebut merupakan elite salah satu partai politik pengusung calon presiden, Wiranto tak menjawab lugas. Namun, dia menegaskan pemerintah telah mengetahui dalang aksi-aksi rusuh.

“Makanya kita simpulkan bahwa dalang itu kita sudah tahu dan sedang dalam kajian penyelidikan lebih dalam lagi. Jangan dikira kemudian kita tidak tahu, kita tahu. Tetapi kan ada hal-hal yang menyangkut hukum yang harus kita taati,” ucap Wiranto.

Adapun dari tujuh korban yang meninggal, hingga kemarin identitasnya belum diungkap satu persatu oleh polisi. Polri hanya memastikan para korban tidak termasuk bagian massa aksi damai. Seluruhnya teridentifikasi sebagai perusuh yang memprovokasi aparat keamanan.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan berdasarkan data yang sudah masuk, sedikitnya ada tujuh korban meninggal dunia. Jumlah ini naik dari sebelumnya enam korban.

”Bahwa yang meninggal dunia adalah massa perusuh. Bukan massa yang sedang berjualan, massa yang beribadah,” kata dia.

Untuk memastikan penyebab mereka meninggal dunia, Polri membentuk tim investigasi.

Menurut Iqbal, tim tersebut dibentuk oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Adalah Irwasum Polri Komjen Moechgiyarto yang ditugasi memimpin tim investigasi tersebut.

”Untuk mengetahui apa penyebabnya (massa perusuh meninggal dunia) dan semua aspek. Sehingga ada korban dari massa perusuh,” bebernya.

Sempat beredar informasi korban meninggal dunia mengalami luka tembak. Namun, Polri masih mendalami.

Sebab, mantan kepala Polres Metro Jakarta Utara itu menyampaikan kembali, aparat keamanan dari TNI maupun Polri tidak dibekali senjata api. Mereka juga tidak dibekali senjata dengan peluru tajam.

”Kami menangani unjuk rasa yang dikedepankan persuasif, humanis,” terang dia.

Tindakan yang dilakukan untuk memukul mundur massa diambil tidak lain karena petugas diprovokasi oleh massa perusuh.

Lebih lanjut, Iqbal menyebutkan bahwa peluru tajam yang ditemukan saat bentrok pecah di bilangan Slipi, Jakarta Barat bersumber dari mobil seorang komandan batalyon Brimob yang dijarah oleh massa.

”Didalamnya memang ada peluru tajam. Itu tidak dibagikan kepada personel keamanan,” jelasnya.

Peluru tajam tersebut, lanjut dia, hanya dimiliki oleh tim anti anarkis yang sama sekali tidak diturunkan. Iqbal menyebutkan bahwa tim anti anarkis tersebut dipimpin oleh seorang perwira menengah Polri berpangkat kompol.

Mereka tidak asal bergerak lantaran punya standar operasional yang sangat ketat. Selain massa perusuh, dia menyebutkan bahwa aparat keamanan juga ada yang terluka saat bentrok terjadi. Sampai kemarin jumlahnya sembilan orang. Mereka terluka akibat massa perusuh melempari barikade petugas.

Dia jugai memastikan bahwa aksi damai yang berlangsung pada Selasa (21/5) dan Rabu (22/5) ditunggangi massa perusuh dari dua kelompok berbeda. Satu kelompok diduga terafiliasi dengan ISIS. Mereka ingin menebar teror.

Sedangkan kelompok lainnya menguasai senjata api ilegal. Kelompok ini berniat membikin kerusuhan supaya masyarakat antipati kepada aparat dan pemerintah. “Kelompok pertama bernama Garis. Yakni Gerakan Reformis Islam,” ungkap dia.

Mereka berasal dari luar Jakarta. Aksi damai sengaja mereka tunggangi untuk beraksi. Hal itu berdasar penjelasan sejumlah tersangka yang sudah diamankan oleh aparat kepolisian. Di antara tersangka itu ada anggota Garis. ”Kami menemukan bukti-bukti yang sangat kuat,” ujar dia.

Tidak hanya terafiliasi ISIS, kelompok itu pernah mengirimkan kader ke Suriah. Ketua dewan syuro Garis juga bukan orang sembarangan.

Salah satu ketua dewan syuro-nya Ustad ABB.ABB yang dimaksud Iqbal adalah Abu Bakar Ba’syir.

Iqbal menekankan kembali, temuan-temuan yang diperoleh aparat kepolisian menunjukan bahwa aksi damai pada Selasa dan Rabu lalu sudah ditunggangi oleh kelompok yang hendak membuat onar.

”Dua kelompok yang menunggangi aksi massa ini untuk menciptakan kerusuhan. Sehingga masyarakat tidak percaya atau apriori kepada aparat keamanan,” tegasnya.

Menambahkan keterangan Iqbal, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan bahwa sampai kemarin massa perusuh yang ditangkap sudah mencapai 442 orang.

Terdiri atas massa perusuh yang ditangkap pada 21 – 22 Mei dini hari sebanyak 257 orang. Juga massa perusuh yang ditangkap 22 – 23 Mei dini hari sebanyak 185 orang. ”Dari 185 masih didalami perannya masing-masing,” ungkap dia. (syn/oni)