Ribuan Lulusan SMK di Kota Bogor Jadi Pengangguran Pencari Kerja

PENUH: Ribuan pelamar padati kegiatan Job Fair di Pusat Grosir Bogor (PGB), kemarin (14/5).
Ribuan pelamar padati kegiatan Job Fair di Pusat Grosir Bogor (PGB), Selasa (14/5/2019) lalu.

BOGOR–RADAR BOGOR, Jumlah pengangguran pecari kerja di Kota Bogor saat ini cukup melimpah. Mayoritas didominasi oleh lulusan SMK.

Berdasarkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Bogor, jumlah pengangguran pencari kerja yang terdata di mereka terhitung hingga April tahun ini sebanyak 1096. Dengan kategori lulusan mulai dari sekolah dasar (SD) hingga hingga S3.

Kepala Disnakertrans Kota Bogor, Samson Purba menjelaskan, jumlah pengangguran tersebut merupakan data pengangguran Kota Bogor yang statusnya pencari kerja.

“Karena ada dua tipe, ada pengangguran yang mau cari kerja, ada juga yang tidak, karena status ekonomi, mungkin. Nah, data kita pengangguran yang mencari kerja dan mengajukan permohonan kartu kuning atau AK-1,” bebernya kepada Radar Bogor, Kamis (16/5/2019).

Dari data yang ia berikan, jumlah pengangguran yang mendominasi terlihat pada tingkat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

Yaitu sebanyak 487 orang atau hampir setengahnya dari jumlah total pengangguran tahun ini. Dengan di dominasi oleh kaum laki-laki.

Sementara posisi kedua terbanyak, yaitu lulusan SMA. Dari total jumlah perempuan dan laki-laki, jumlah pengangguran tingkat SMA ada sebanyak 236 orang. Posisi selanjutnya yaitu lulusan Diploma 3 (D3) dengan jumlah pengangguran sebanyak 100 orang.

Samson mengatakan, berbagai macam permasalahan yang melatar belakangi para pencari kerja, terutama lulusan SMK terbanyak. Lantaran kurangnya mental, kemampuan atau skill dan faktor memilah-memilih lowongan pekerjaan. “Maklum, terkadang banyak yang minder sebelum mencoba, karena mental belum tertanam dan kurangnya skil dalam bidang yang diminati masing-masingnya,” singkatnya kepada Radar Bogor.

Menanggapi itu, Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Barat, Dadang Ruhyat menjelaskan, ketentuan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2007, yang merubah kebijakan berdirinya SMK harus lebih banyak dibanding SMA, dengan persentase 70% SMK dan 30 % SMA dirasa Dadang menjadi salah satu penyebab mendominasinya lulusan SMK yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Saya juga memantau di provinsi, bagaimana pesatnya sekolah-sekolah SMK bermunculan, tentu hal tersebut berpengaruh kepada jumlah lulusan yang lebih banyak,” terangnya.

Meski begitu, kata dia, tentu kedepan perlu ada pembenahan terkait kualitas lulusan SMK agar lebih terampil. Dadang juga mengatakan, bahwa KCD saat ini pun masih mendata untuk melihat perkembangan 105 SMK di Kota Bogor yang sudah menjamur selama ini.

Ia pun tak menampik, keberadaan SMK saat ini banyak yang kurang mengedepankan mutu, terlebih jika pada SMK tersebut jumlah siswa-siswinya terbatas.

“Untuk SMK tertentu yang mengedepankan mutu, pasti akan menentukan keberhasilan muridnya untuk siap kerja dibursa kerja,” ujarnya.

Berbeda dengan lulusan SMA. Kata Dadang, lulusan SMA lebih banyak yang terserap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Jumlahnya sangat banyak, sekitar 80 persen dari total lulusan, karena SMA konsepnya melanjutkan pendidikan.

Tetapi, jika di SMK hanya 20%-30% yang melanjutkan ke bangku kuliah. “Makanya, wajar saja kalau Disnakertrans mendata bahwa salah satu pengangguran terbanyak itu dari SMK, dan itu bukan hanya di Bogor saja,” tukasnya. (cr2/c)

Berita Lainnya