Beranda Metropolis Lahan Pertanian Kota Bogor Tambah Tipis, Jumlah Petani Menurun

Lahan Pertanian Kota Bogor Tambah Tipis, Jumlah Petani Menurun

Sawah di Kota Bogor. (Nelvi/Radar Bogor)

BOGOR-RADAR BOGOR,Minimnya lahan pertanian di Kota Bogor menjadi salah satu alasan mengapa harga komoditi di pasar jauh lebih mahal. Para pedagang di pasar-pasar tradisional terpaksa membeli pasokan melalui pengepul dari luar kota, dengan harga yang jauh lebih mahal.

Dari data yang diterima Radar Bogor, setiap tahun angka petani di Kota Bogor semakin krisis. Menurut data 2018 kemarin, jumlah petani di Kota Bogor sekitar 3339 dan mayoritas sudah sepuh. Jumlah tersebut terbagi menjadi petani laki-laki 1507 dan perempuan 1832.

Kepala Seksi Metode dan Informasi Pertanian Dinas Pertanian (Distani) Kota Bogor, Santi Adisti mengatakan, jumlah petani di Kota Bogor terus menurun signifikan. Hasil penjualan dari hasil pertanian mereka yang kurang menguntungkan, membuat banyak petani memilih untuk menjual lahan mereka.

mitra-10-shop-vaganza

Karena itu, lanjut dia, Distani mendorong untuk petani yang ada di Kota Bogor agar beralih ke sistem pertanian organik. Hasil pertanian organik dinilai lebih memiliki nilai jual karena masyarakat perkotaan mulai melirik komoditas tersebut.

“Kini, luas lahan di Kota Bogor pun tidak terlalu besar lagi, pola pikir masyarakat sudah berbeda. Apalagi kaum muda sudah mulai bergeser dengan tidak melirik profesi seorang petani sebagai tolok ukur kesuksesan,” terangnya.

Dengan jumlah petani yang ada, saat ini Distani Kota Bogor berupaya mendorong petani untuk beralih ke konsep pertanian perkotaan. Sistem tersebut dinilai lebih efisien untuk meningkatkan produksi pertanian. Salah satu konsep pertanian perkotaan yang perlu dilakukan yakni dengan sistem hidroponik dan aquaponik. Petani dapat menggunakan lahan yang sempit, namun produksi tetap optimal.

“Ada beberapa kelompok petani tertentu yang sudah mulai memikirkan masalah kesehatan. Jadi mereka membidik pasar masyarakat yang ingin hidup sehat, sehingga memilih sayuran yang organik. Pangsa pasarnya banyak diperkotaan, jadi kami ingin petani di Kota Bogor bisa memenuhi pangsa pasar tersebut,” ucapnya.

Menurut Santi, harga hasil pertanian organik dinilai lebih menjanjikan. Selain itu, sistem tanamnya juga terbilang cukup mudah karena tidak memerlukan lahan yang luas, dan alat khusus. Petani organik cukup membuat sistem kebun vertikal menggunakan pipa-pipa plastik untuk budidaya sayuran organik.

“Kami dorong anak-anak petani untuk bisa melanjutkan usaha orangtuanya guna mengikuti perkembangan konsumen masyarakat dengan istilahnya petani milenial. Distani berikan penyuluhan dan pemahaman tentang peluang menjanjikan pertanian organik, harga produk organik lebih mahal,” tuturnya.

Ia mengaku, petani memang kesulitan masuk akses pasar, biasanya tidak ada akses ke pengumpul. Namun menurutnya, petani dikawal oleh masing-masing penyuluh pertanian dari Distani supaya harganya tidak jauh beda dengan di pasaran. “Rata-rata pengumpul itu mereka petani juga. Petani yang mungkin perekonomiannya lebih baik, lalu mereka membeli ke sesama petani. Terus membantu untuk membawa ke akses pasarnya,” jelasnya.

Sambung dia, para pengumpul ini banyaknya petani juga. Jadi tidak mungkin menaikan harga terlalu jauh. Mereka menjembatani untuk mencari pengumpul yang memang petani juga. “Intinya petani di Kota Bogor sudah di cover untuk tidak terlalu mendapatkan harga jual yang berbeda jauh dengan harga yang di pasar,” katanya.

Saat ini, Distani Kota Bogor fokus melakukan pembinaan Kebun Organik Herbal Bejo di 68 kelurahan se-Kota Bogor. Selain program tersebut, Distan juga tetap melaksanakan program pendahulunya yakni kebun organik terpadu Bersih Indah Sehat dan Asri (BISA).

Kepala Bidang Penyuluhan Distan Kota Bogor Dian Herdiawan mengatakan, kedua program itu terus dilakukan pengembangan dan sosialisasi.

Menurutnya, hal itu intinya untuk menggairahkan pertanian urban farming. Dengan lahan yang terbatas di perkotaan, dia menuturkan warga tetap bisa memaksimalkan potensi dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.

“Jadi menanamkan budaya bercocok tanam kepada masyarakat, selain itu tanaman juga bagus bagi penghijauan di Kota Bogor. Dengan lahan sedikit masyarakat bisa menanam cabai dan beberapa kebutuhan dapur,” jelasnya.

Selain menanam untuk kebutuhan dapur, Dia menyebutkan ada pilihan menanam tanaman herbal yang banyak manfaatnya. Selain lebih mudah, hasil dari tanaman yang bisa dikonsumsi itu relatif lebih aman.

Dia menambahkan, pihaknya mengembangkan tanaman herbal yang sifatnya masyarakat bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada.(rp3/c)