25 radar bogor

Mencicipi Puding Instan Asal Empang Diproduksi Bersama Suami, Langganan Hingga Lampung

BOGOR-RADAR BOGOR,Di tangan Yetty Herawati, puding biasa menjadi lebih menarik karena menghadirkan beragam rasa buah-buahan. Hasil racikannya pun tak sembarangan. Hidangan dessert tanpa pengawet itu terasa lembut ketika mendarat di lidah.
Yetty mungkin tidak pernah bermimpi jika dirinya akan menjadi seorang pengusaha kuliner seperti sekarang. Meski brand miliknya belum besar, bagi dia ini adalah sebuah torehan besar di dalam hidupnya.
Berawal dari hobinya memasak, owner Nata Puding Instan ini mengawali bisnis rumahannya yang sudah berjalan hampir tiga tahun terakhir. Kepada Radar Bogor, ia menceritakan jatuh bangunnya ketika membuka usaha rumahan ini.
Dia menceritakan, niat awal hanya membuat kue untuk kebutuhan hari raya. Seiring berjalannya waktu, ia semakin gemar untuk memasak dan mengulik agar enak juga sehat.
Sejak menemukan racikan yang tepat, Yetty mulai memberanikan diri untuk memasarkan puding buatannya kepada kerabat. “Waktu itu iseng membuat puding biasa, ternyata banyak yang bilang enak. Lalu dicicipi keluarga dan teman-teman. Dari situ, muncul ide untuk membuat Nata Puding Instan ini,” ujarnya saat ditemui di bazar pangan lokal, Botani Square kepada Radar Bogor.
Dia pun menjelaskan, saat ini Tetty membuat rasa puding yang khas dari Bogor yakni talas. Rasa ini lah yang kemudian makin membuat usahanya semakin besar.
“Awalnya puding dengan rasa coklat, stroberi, jeruk, vanila, mangga. Nah, karena Bogor khas dengan talas, maka dibuatlah rasanya. Ke depan, akan membuat juga varian buah nangka,” katanya.
Sampai sekarang, dia tak pernah putus untuk terus melakukan inovasi rasa untuk menyesuaikan lidah anak muda zaman sekarang.
Baginya, bukan hal mudah untuk membuat bisnis rumahan seperti ini. Tentu saja banyak tantangan yang harus dilalui.
Dia bersyukur, karena memiliki banyak teman dan keluarga besar. Mereka semua ikut berkontribusi  dalam memperkenalkan produk milik Yetty.
Sejak itu, yang awalnya memasarkan lewat satu teman ke teman yang lain, kini puding nya pun sudah tersebar dan menjadi langganan tetap di beberapa hotel yang ada di Kota dan Kabupaten Bogor.
Tak sekedar itu, dia juga memasarkan melalui aplikasi online. Hampir tiga tahun Yetty menjalani bisnis ini, ia mengaku reseller semakin banyak. Itu artinya, perpanjangan tangannya akan lebih luas lagi.
“Tentu saja, saya tidak mau usaha saya diam di tempat. Maka, saya sudah bekerjasama dengan beberapa hotel di Kota maupun Kabupaten Bogor. Puding ini pun bisa dibeli melalui online,” katanya.
Sebagai seorang pelaku usaha makanan lokal, tentu saja Yetty harus melakukan lebih kreatif dan banyak banyak melakukan inovasi. Karena, menurutnya usaha ini bukan hanya bersaing dengan makanan luar, namun sesama pangan lokal pun tampak bersaing.
Ia menuturkan, usaha kecil dan menengah (UKM) nya ini tergabung dalam komunitas Badan Kuliner (Bakul) yang diketuai oleh istri Walikota, Yane Ardian. Maka, ia mengaku kini sudah memiliki label Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) serta izin dari BPOM, dan bahan-bahannya sudah berizin dari Dinas Kesehatan (Dinkes).
Menurutnya, yang membedakan puding miliknya dengan yang di toko, dibuat dari bahan pilihan yang sehat tanpa ada bahan pengawet tambahan. Kini, ia memproduksi di rumah sendiri yang berada di Jalan Sadane, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, dibantu sang suami juga beberapa karyawan.
Ia menargetkan, segera memasarkan produknya ke pasar oleh-oleh yang ada di Kota Bogor agar semakin dikenal. Pudingnya dibanderol dengan harga satu poch nya Rp30 ribu. Dirinya mengaku, lebih senang memiliki banyak reseller karena jaringannya semakin luas. Alhasil, produknya kini sudah sampai ke Lampung.
Ia berharap memiliki kios sendiri karena saat ini masih order melalui online.
“Semoga bisa memasarkan sampai ke luar negeri,” pungkasnya.(*/c)