25 radar bogor

Hari Perempuan Internasional, Hotel Renotel Olympic Sentul Gelar Talkshow

 

BABAKAN MADANG –RADAR BOGOR, Hotel Renotel Olympic Sentul turut memeriahkan Hari Perempuan Internasional dengan menggelar Talkshow bertajuk Woman Empowerment & Gender Equity, kemarin (8/3).

Sederet narasumber kenamaan pun dihadirkan, antara lain Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Bogor Syarifah Sopiah, Miss Indonesia 2005 Imelda Fransisca, Owner PT Bara Anna Hartawan dan Ketua Bogor Womens Club Dewi Puspitasari.

“Pemerintah memiliki program pengarusutamaan gender, termasuk pemberdayaan perempuan. Bicara kesamaan maka tidak boleh ada lagi diskriminasi. Kita punya budaya, bagaimana di masyarakat masih ada yang mengutamakan lelaki dibanding perempuan, sehingga pemerintah masih memberikan pemberdayaan,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Bogor Syarifah Sopiah.

Dikatakannya, pertama pemerintah harus memiliki komitmen, tidak akan ada diskriminasi, tapi itu tidak cukup, dan harus ada kebijakan, ada peraturan maupun surat keputusan. Menurutnya, jika perempuan tidak didorong, seperti di politik harus ada keterwakilan, artinya harus dipaksakan, karena tak sedikit yang masih tidak mengutamakan perempuan.

“Program pemerintah sendiri di Kabupaten Bogor, yang namanya penyuluhan pembinaan kita lakukan dengan mengembangkan umkm. Karena pemernntah ada kewenangan maka punya kewajiban mengurus warganya,” kata Ifah, begitu dirinya biasa disapa.

Lalu, Miss Indonesia 2005 Imelda Fransisca menilai, saat ini dirinya melihat secara kultur perempuan Indonesia erat dengan kultur asia, disebut berambisi, terlalu banyak yang ingin dicapai hingga melupakan keluarga dan anak.

“Padahal ambisi dan mimpi perempuan harus didukung, karena ambisi dan mimpi perempuan menentukan kualitasnya yang bisa ditiru anak dan orang di sekitarnya,” paparnya.

Menurutnya, ketika ibu memiliki ambisi bukan berarti melupakan anak dan suami. Tapi suami juga harus memiliki pandangan terbuka, bahwa istri jangan hanya mengurus keluarga, tapi juga memiliki porsi lebih luas.

“Disini seorang peremouan bukan berarti melupakan semuanya, saya rasa itu adalah pendapat salah, bahwa setinggi apapun pendidikan perempuan, harus tahu bahwa kodrat sebagai perempuan jangan sampai dilupakan. Saya yakin negara kuat berasal dari keluarga kuat,” katanya.

Senada, Owner PT Bara, Anna Hartawan memaparkan, perempuan dalam kehidupaan dan pekerjaan memang targetnya masih dibawah minim. Tapi asal berambisi dan bekerja keras, asal disiplin, maka semua yang dikerjakan akan membuahkan hasil.

“Harus berani bermimpi, berbuat nyata dan kerja keras akan membuahkan hasil Maksimal. Misalkan sama suami dilarang, harus menunjukkan bahwa kita pun bisa, meski secara kodrat tidak bisa melampaui lelaki,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Bogor Womens Club, Dewi Puspitasari menilai, Woman Empowerment dan Gender Equity kini sudah sangat jauh lebih baik dibandingkan dulu.

“Sekarang untuk pekerjaan pun perempuan dan lelaki sama, dulu perempuan yang gampang-gampang saja. Sebenarnya secara value di Indonesia kesetaraan sudah ada,” katanya. (wil)