25 radar bogor

Ramai-ramai, Kepala Daerah Minta Harga Tiket Pesawat Diturunkan

BOGOR – RADAR BOGOR, Tingginya harga tiket maskapai tujuan domestik berpengaruh langsung terhadap merosotnya tingkat kunjungan wisatawan domestik. Bahkan, melambungnya harga tiket pesawat juga memukul para UKM karena sepinya wisatawan pengunjung juga memicu tingkat inflasi yang tinggi.

Hal tersebut membuat beberapa kepala daerah mengambil kebijakan melayangkan surat langsung ke perusahaan maskapai. Bahkan, ada yang langsung menyurati pusat seperti kementerian, tak terkecuali di Kepulauan Riau.

Atas terpukulnya beberapa pelaku UKM dan merosotnya tajam tingkat kunjungan wisawatan domestik ke Kepri, Gubernur Kepri, Nurdin Basirun menegaskan, pihaknya beberapa hari lalu sudah melayangkan keberatannya atas melambungnya harga tiket pesawat domestik ke hampir seluruh perusahaan penerbangan domestik.

“Soal itu, saya sudah menyurati perusahaan maskapai. Isi surat itu ya kami minta melambungnya harga tiket pesawat tujuan domestik itu ditinjau ulang, kalau bisa diturunkan lah seiring pemerintah pusat menurunkan harga avtur, bahan bakar pesawat. Kalau itu saya pun sudah melakukan upaya itu,” ujar Nurdin dikutip Batam Pos (Jawa Pos Grup), Selasa (5/3).

Pihaknya juga akan mencoba menyampaikan ke kementerian terkait atas mahalnya harga tiket maskapai domestik yang berdampak pada merosotnya perekonomian masyarakat pelaku UKM.

“Kami dari Pemprov Kepri merespon keluhan para pelaku ukm dan masyarakat terkait mahalnya harga tiket pesawat tujuan domestik. Upaya itu yang saat ini sudah kami lakukan seperti menyurati maskapai dan rencananya ke kementerian terkait,” jelasnya.

Sebelumnya, kebijakan komersialisasi bagasi maskapai diikuti melambungnya harga tiket maskapai tujuan domestik memukul sektor para UKM di Batam meski masih baru rencana. Hal tersebut ditegaskan oleh manajer operasional oleh-oleh Nayadam Batam, Syarif Hidayatullah kepada Batam Pos beberapa waktu lalu.

“Jujur, meski baru sebatas rencana terkait kebijakan mengkomersialisasikan bagasi penumpang di pesawat, omzet kami di beberapa outlet, khususnya di Bandara Hang Nadim Batam menurun drastis. Biasanya Sabtu dan Minggu kami mampu mendapatkan omzet Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Adanya rencana kebijakan penghapusan jatah bagasi gratis penumpang pesawat mengiki omzet kami Sabtu-Minggu sekarang ini hanya mampu mendapatkan omzet paling banyak Rp 2 juta,” kata Syarif.

Biasanya wisatawan lokal yang masuk ke Batam melalui Bandara Hang Nadim Batam, sebelum kembali ke daerah asalnya, lanjutnya, minimal selalu berkunjung ke konter tempatnya bekerja minimal membeli satu dus oleh-oleh Nayadam.

“Tapi dengan adanya rencana aturan zero baggage atau mengkomersilkan bagasi penumpang di pesawat, wisatawan itu jadi berpikir dua kali untuk membeli oleh-oleh dari Batam. Mereka takut barang bawaannya seperti oleh-oleh akan dikenakan tarif bagasi yang juga tak murah. Itulah dampaknya dari UKM. Itu baru rencana. Bagaimana nantinya kalau hal itu dijalankan dan dipatenkan. Saya yakin akan mengikis wisatawan untuk bepergian masuk ke Batam,” tegasnya.

Apalagi Batam adalah daerah yang hanya bisa diakses melalui jalur laut dan udara. Kebijakan mengkomersilkan bagasi penumpang di pesawat akan memukul telak usaha UKM di sektor penjualan oleh-oleh atau buah tangan.

“Mungkin kalau seperti wilayah daratan semisal Jawa, Sumatera Daratan maupun daerah lain, tak terlalu terdampak. Tapi kalau daerah kepulauan yang hanya bisa diakses jalur udara dan laut saja, itu akan memukul sektor UKM dan berujung pada berkurangnya kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara ke Batam,” ujar Syarif.

Harga tiket pesawat untuk penerbangan domestik masih belum jua beranjak turun. Tiket Batam tujuan Jakarta, masih berada dikisaran Rp 1 juta. Lalu, Batam menuju Padang masih dijual kisaran Rp 700 ribu. Tingginya harga tiket ini, membuat lesu penjualan paket-paket tur domestik.

“Berkurang dan terasa,” kata Sekretaris Jenderal Asita Kepri Febriansyah.

Beberapa agen travel, terpaksa menaikan harga paket domestik yang mereka jual. Karena tidak dapat bertahan dengan harga paket, sebelum adanya kenaikan harga tiket.

“Tiket itu adalah komponen yang terbesar dan penting,” imbuh Febri.

Walaupun beberapa agen sudah menyiasati dengan berbagai cara. Namun tidak bisa mengurangi biaya perjalanan. Ia mengatakan seharusnya saat low season di Februari dan Maret, harga tiket turun di ambang batas bawah. Tapi kenyataanya, harga tiket masih berada dikisaran ambang batas atas. Tak jauh beda dengan harga tiket pesawat full service.

“Baru kali ini dalam sejarah, saat low season harganya menyamai ketika peak season,” tegasnya.

Masih terkait harga tiket, Febri mengatakan bahwa Asita Kepri sudah mengadukan hal ini ke Asita pusat. Dan juga telah menyampaikan ke Kementrian Pariwisata serta Kementrian Perhubungan.

“Sampai ke presiden juga, tapi harga tiket tetap masih tinggi,” pungkasnya.

Febri mengaku tidak tahu harus berbuat apa. Karena segala cara sudah dilakukan, agar harga tiket kembali turun seperti sediakala.

“Saya harap maskapai mempertimbangkan menurunkan harga tiket,” tuturnya.

Walaupun harga tiket tinggi, Febriansyah mengaku terus berupaya mempromosikan pariwisata Indonesia. “Tiket mahal ini memberikan dampak besar terhadap wisatawan nusantara,” pungkasnya.