25 radar bogor

Musim Hujan Belum Selesai, Warga Kota Bogor Masih Diintai DBD

Ilustrasi Nyamuk Malaria

BOGOR-RADAR BOGOR,Sejak dinyatakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Bogor masih akan dilanda hujan dan angin kencang sampai Maret ini.

Dinas Kesehatan (Dinkes) memperketat pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Meski jumlah pasien dan korban meninggal akibat DBD belum bertambah, namun Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Dinas Kesehatan Kota Bogor, Lindawati mengatakan bahwa perkiraan cuaca dari BMKG hingga Maret di Kota Bogor akan memengaruhi peningkatan DBD.

Dia menjelaskan, hal tersebut dikarenakan tingkat kelembaban yang ada berpotensi untuk penyebaran tingkat DBD. Ia menambahkan, bahwa pada dasarnya khusus bagi kota Bogor, penyebaran DBD tidak hanya terjadi di musim hujan saja, melainkan sepanjang tahun.

Hal tersebut dikarenakan Bogor memiliki tingkat kelembaban yang lebih tinggi dbanding daerah lainnya di Jabodetabek. Dia melihat, setiap triwulan di tahun pertama, tingkat DBD memang menjadi waktu dengan kerentanan tertinggi.

“Terus kalau di daerah Jakarta atau Depok sudah mulai panas, nyamuk akan bermigrasi ke Bogor, oleh karena itu penduduk Bogor harus lebih waspada setiap waktu karena memiliki cuaca yang lebih lembab,” ujar Lindawati.

Ia menambahkan, bahwa pada dasarnya telur nyamuk bisa bertahan lebih dari enam bulan. Oleh karena itu ia menyarankan agar masyarakat bukan hanya menguras air dalam bak penampungan air saja, tetapi juga membersihkannya dalam rentang waktu tujuh hari sekali.

Selain itu, dengan memelihara ikan pemakan jentik, menutup penampungan air dan juga menanam tanaman pengusir nyamuk bisa menjadi alternatif dalam menjaga keluarga dari DBD .

“Siklus hidup untuk menjadi nyamuk seutuhnya adalah tujuh hari, dengan alasan itu masyarakat harus membersihkan tempat penampungan airnya, dan mengaktifkan gerakan satu rumah satu Jumantik,” ujar Lindawati.

Ia juga mengingatkan, apabila ada anggota keluarga yang mengalami demam selama tiga hari berturut-turut maka harus mendapat pertolongan dan cek darah agar tidak berakibat fatal.

Hingga Maret mendatang selama seminggu sekali, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor dan pihak dari rumah sakit di Bogor akan terus berkordinasi untuk melakukan program Gerakan serentak (Gertak) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Dia meyakini, bahwa program tersebut dilakukan dengan cara menguras tempat penampungan air dengan membersihkan dindingnya, dimana nyamuk tersebut menempelkan jentik-jentik.

Sebelumnya tiga hingga empat bulan terakhir di kota Bogor merupakan kenaikan gejala DBD yang tinggi di masyarakat Kota Bogor.

Hal itu diutarakan oleh Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUD Kota Bogor, Taufik Rahmat. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah menambah personel di Instalasi Gawat Darurat dan juga menambah tempat tidur untuk pasien, serta berkordinasi dengan Dinkes Kota Bogor untuk melakukan PSN.

“Peningkatan pasien DBD ada di antara Oktober hingga Januari, tapi selama bulan februari hingga sekarang penurunannya sudah lebih dari 50 persen,” ujar Taufik.

Taufik menambahkan bahwa ada siklus lima tahunan dalam kasus DBD, meskipun puncaknya ada pada akhir tahun kemarin dan tidak bisa dihentikan apabila masyarakat tidak merawat lingkungannya sendiri.

Oleh karena itu, ia berharap agar masyarakat Bogor selalu melakukan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).(rp3/*)