25 radar bogor

Ubah Siteplane, Proyek Hotel Sayaga Terancam Berantakan

Ubah Siteplane Hotel Sayaga Terancam Berantakan
Gedung Hotel milik PT Sayaga Wisata yang belum rampung pembangunannya.

CIBINONG-RADAR BOGOR, Polemik proyek Hotel milik PT Sayaga Wisata tidak menutup kemungkinan akan berujung temuan.

Perubahan desain yang dilakukan saat pengerjaan konstruksi masih berlangsung, dianggap berpotensi menabrak aturan.

Kini, gara-gara siteplane-nya diubah menyesuaikan persiapan pembangunan konstruksi tahap dua, proyek pembangunan konstruksi tahap satu yang menelan biaya Rp36 miliar berantakan, alias molor dari target.

Pengamat Perkotaan, Yayat Supriatna mengungkapkan, tak semestinya pelaksana mengubah desain yang mengakibatkan proyek molor.

Pasalnya, ketika proyek hotel ini lama dibangun, maka akan semakin menghambat alur investasi Pemkab Bogor.

“Jangan mentang-mentang pakai APBD bisa seenaknya. Jadi harus bisa benar dipertanggungjawabkan. Kegagalan bangunan bisa membuat kegagalan investasi ke depan,” ungkapnya kepada Radar Bogor, Kamis (28/2/2019).

Ia juga mempertanyakan Feasibility Study (FS) yang tidak mempertimbangkan akan adanya proyek konstruksi tahap dua. Yayat menganggap adanya ketidakseriusan Pemkab Bogor menentukan desain awal Hotel yang dibangun di tepian Jalan Raya Tegar Beriman itu.

“Kalau (tahap dua) bersifat dadakan, siapa yang buat desain pertama, kenapa kemudian disetujui?” tuturnya.

Rencana pelaksanaan proyek pembangunan konstruksi tahap dua ini memang timbul setelah PT Sayaga Wisata mendapat Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) tambahan sebesar Rp87,8 miliar pada APBD Perubahan 2018 Kabupaten Bogor. Tapi, menurut Yayat, pemberian PMP tambahan pun bukan tergolong hal yang darurat.

Karena, PT Sayaga Wisata bisa melakukan pembangunan tahap dua menggunakan uang hasil dari keuntungan pembangunan konstrukti tahap pertama ketika beroperasi.

“Kenapa tiba-tiba ada penyertaan modal. Aturannya, ketika tahap pertama selesai, operasional kemudian bisa membackup dana (pembangunan tahap) kedua,” kata Yayat.

Sebelumnya, Direktur Utama (Dirut) PT Sayaga Wisata, Supriyadi Jufri menjelaskan bahwa pertimbangan melakukan adendum terhadap pengerjaan konstruksi hotel milik PT Sayaga Wisata.

Hal itu didasari atas bisa diselesaikannya bangunan hotel di tepian jalan raya Tegar Beriman itu. Sebab, jika tidak diberlakukan adendum, pekerjaan akan terjeda lantaran mencari kontraktor pengganti.

“Sebenarnya bisa saja kita putus kontraknya, tapi pertimbangnnya kalau diputus kontrak itu harus tender ulang, RAB (Rencana Anggaran Biaya, red) nya harus dibikin baru,” jelasnya kepada wartawan, Rabu (27/2).

Belum lagi, jika melakukan tender ulang menurutnya harga material akan bertambah hingga mencapai Rp5 miliar dari angka yang sudah dianggarkan pada tahun 2017 itu.

Sehingga, pihaknya terpaksa memberlakukan masa denda selama 90 hari untuk PT Amarta Karya. Jika masa dendanya dihitung hingga hari ke 90, maka total denda yang akan dikenakan ke PT Anarta Karya senilai Rp3,6 miliar.(fik/c)