25 radar bogor

Pemilu 2019, Masyarakat Diminta Kuatkan Persatuan dan Jaga Kondusifitas

JAKARTARADAR BOGOR, Momentum Pemilu 2019 harus dijadikan pihak sebagai sarana saling menguatkan. Kendati berbeda pilihan, masyarakat diminta tak mudah terpancing isu-isu yang memicu disintegrasi bangsa.

Semua harus saling menjaga kondusifitas demi proses demokrasi yang sehat dan beradab.

Hal tersebut diungkapkan sejumlah tokoh dalam kegiatan istighotsah dan doa bersama di Masjid Miftahul Jannah, Komplek Rusun Benhil, Jakarta Pusat Jumat (15/2) malam. Kegiatan digelar Generasi Muda Muslim Indonesia (GMMI).

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Harry Kurniawan mengajak kepada seluruh elemen masyarakat khususnya di wilayah Jakarta Pusat untuk tetap menjaga kondusifitas termasuk dalam menyikapi pemilu 2019.

“Berbeda pilihan politik saat itu dan alhamdulillah tidak ada masalah karena perbedaan itu hal yang biasa dan tidak membuat satu dengan yang lainnya saling membenci,” kata Kombes Pol Harry.

Menurut perwira polisi berpangkat melati tiga itu, perbedaan dalam urusan pandangan dan pilihan politik adalah hal yang sangat lumrah di negara demokrasi seperti di Indonesia. Dia lantas menceritakan apa yang dirasakannya saat masih kecil dulu.

Di mana baik ayah dan ibunya memiliki preferensi politik yang berbeda namun kondisi keluarga sangat baik-baik saja dan tetap harmonis.

“Pesta demokrasi itu seharusnya dilakukan dengan riang gembira. Bahkan saat kecil saya melihat bapak saya juga pasang bendera salah satu partai, ibu saya mendukung calon tertentu dan biasa saja,” kisahnya.

Maka dari itu, Kombes Pol Harry berpesan betul kepada warga khususnya yang tinggal di Rusun Benhil dan sekitarnya agar bersama-sama menjaga kondusifitas dalam pemilu, bukan justru membuat situasi tidak aman dan membuat pesta demokrasi terasa mencekam.

“Kalau pemilu berjalan dengan mencekam dan menakutkan lantas ke depan siapa yang akan meneruskannya nanti,” tuturnya.

“Saya ingin penerus-penerus saya dan bapak ibu semua menikmati Indonesia yang tentram, bagaimana yang diwariskan bapak dan ibunya dilanjutkan seperti bisa ke masjid dengan berbahagia,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Harry juga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk menghindari berita bohong alias hoax.

“Hoax tinggalkan, jangan percaya adanya hoax. Tinggalkan berita bohong,” pungkas eks Kapolresta Depok itu.

Senada, Ketua GMMI, Muhammad Yuda Pratama menyatakan bahwa pihaknya akan terus menggelorakan semangat untuk memerangi politisasi tempat ibadah, berita hoax, radikalisme dan ujaran kebencian di seluruh penjuru Indonesia.

“Kami berkomitmen akan terus melakukan kegiatan deklarasi tolak politisisasi tempat ibadah, berita hoax dan radikalisme se Indonesia,” tegas Yuda.

“Insya Allah sebagai generasi muda yang peduli dengan keutuhan bangsa, kami akan mempererat keutuhan bangsa,” lanjutnya.

Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat, Letkol Inf Wahyu Yudhayana mengajak masyarakat untuk lebih mengedepankan rasa bijaksana dalam menyikapi perbedaan tersebut.

“Makanya kita harus bijaksana menyikapi perbedaan untuk menghargai para pejuang kita. Bagaimana perjuangan para tokoh agama untuk kesampingkan perbedaan itu. Tapi kenapa setelah kita merdeka malah kita persoalkan perbedaan itu,” tuturnya.

Bahkan perbedaan itu dikatakan Letkol Wahyu tidak hanya berada di antar suku dan bangsa saja, bahkan sekalipun di dalam satu agama tertentu pasti ada perbedaan terjadi. Dan lagi-lagi ia katakan itu hal yang wajar.

“Gak usah beda agama, satu agama saja kita pasti berbeda. Itu lumrah,” pungkasnya.