25 radar bogor

Harga Tiket Naik, Belanja Online tak Lagi Murah

belanja online (Dok. JawaPos.com)

BOGOR-RADAR BOGOR, Bagi warga Bogor yang sudah keranjingan belanja online, kini harus mengubah strategi belanjanya. Pasalnya, belanja online kini tidak lagi murah.

Ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang menaikan harga tiket maskapai penerbangan. Kondisi ini jelas berimbas pada harga ongkos kirim (ongkir) belanja online yang menggunakan jasa ekspedisi pengiriman barang.

Akibatnya, harga barang yang dijual kepada pembeli juga ikut naik. Euis Sutiah (35) salah satu konsumen belanja online sudah merasakannya beberapa minggu ini. Harga ongkos kirim yang naik sangat memberatkan.

“Harga pokok barang memang murah dibandingkan di pasar. Tapi, jika disatukan dengan ongkos kirim harganya ternyata jadi lebih mahal,” tutur warga Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea itu.

Seperti diketahui biaya ongkos kirim (ongkir) belanja online selama ini dibebankan kepada pembeli. Kecuali di beberapa ecommerce yang menawarkan gratis ongkos kirim. Itupun ada batasnya.

Biasanya gratis ongkir hanya berlaku untuk pembelian satu barang di hari itu juga. Makanya dengan adanya kenaikan ongkir, Euis harus kembali memperhitungkan lagi jika akan belanja sesuatu melalui online. “Kalau di pasaran tak ada lagi, baru pesan di online,” katanya.

Kenaikan tarif ini juga dikeluhkan pengusaha online yang biasa mengirim barang keluar pulau Jawa. Salah satunya Yuliani. Pedagang Online Shop (Olshop) asal Kota Bogor itu mengatakan kenaikan ongkos kirim mulai terjadi sejak awal Januari 2019.

Menurutnya, kenaikan harga tiket yang “gila-gilaan” berimbas pada harga pengiriman barang dari Bogor ke luar Pulau Jawa. “Kalau barang-barang kecil tidak terlalu berpengaruh ke ongkos kirimnya, tapi jika barang-barang besar seperti, barang rumah tangga terasa naik ongkos kirimnya,” kata dia.

Dia mengambil contoh jika sebelumnya mengirim barang dari Bogor ke Kalimantan hanya Rp43 ribu/kg, kini naik menjadi Rp50 ribu/kg. “Jalan keluarnya kita harus naikin harga, karena ongkos kirimnya naik. Pelanggan juga nanya kenapa naik. Tapi, kita jelasin dan mereka maklum. Tapi ada juga harga yang enggak kita naikkan, ya berimbas ke keuntungan,” sebutnya.

Hal senada diungkapkan pemilik bisnis online Simple 8, Karlina. Menurut dia, mulai tahun ini tarif pengiriman ke luar Jabodetabek mengalami kenaikan.

Meski demikian, untuk jumlah pengiriman produk masih normal. Agar tak kehilangan pelanggan, saat ini ia memberikan potongan ongkos kirim. “Kami melakukan subsidi ongkos kirim untuk luar jabodetabek,” tuturnya.

Sementara itu, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) mengaku, tidak bisa terus melakukan penyesuaian.

Bahkan, JNE sudah menghentikan penggunaan cargo udara. “Ke depan, anggota Asperindo lain akan melakukan hal sama,” ujar Presiden Direktur PT JNE, Mohamad Feriadi.

Alternatifnya, kata dia, menggunakan jalur darat. Pihaknya mendesak, maskapai penerbangan menurunkan kembali tarif kargo. “Kalau tarif airline diturunkan, kami akan seperti sedia kala,” ujar pria yang juga Ketua Umum Asperindo itu.
(all/jp/c)