25 radar bogor

Lahan Terus Berkurang, Kota Bogor Krisis Tanah Makam

ilustrasi

BOGOR-RADAR BOGOR, Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kota Bogor terus menyusut dan terancam krisis. Dari 120.463 makam yang disediakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor hingga 2019, sisanya tinggal 32.529 petak lagi yang tersebar di delapan TPU.

Bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya, ketersediaan tanah makam tak sebanding. Ini mengingat jumlah penduduk Kota Bogor yang mencapai 735.627 jiwa.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemakaman Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Bogor, Toto Guntoro menyebutkan, Kota Bogor memiliki delapan TPU yang tersebar di enam kecamatan, dengan luas total sekitar 610,585 hektare.

”Dari 120.463 makam yang disediakan Pemkot Bogor, saat ini masih menyisakan 32.529 petak yang tersebar di delapan TPU. Memang jumlahnya masih terbatas,” ujar Toto.

Ia pun merinci dari delapan TPU yang dimiliki Kota Bogor, ada tiga TPU yang saat ini sudah hampir penuh, yaitu TPU Dreded seluas 6,4 hektare di Bogor Selatan yang telah terisi hingga 88,46 persen. Disusul TPU Blender seluas 6,6 hektare juga telah terisi 92,6 persen dan TPU Cipaku seluas 2,1 hektare telah terisi 97,7 persen.

“TPU ini menjadi favorit warga karena faktor jarak yang lebih terjangkau. Alasan lain ada almarhum keluarganya yang dimakamkan di sana sehingga ingin berdekatan. Titik ini yang mengalami krisis,” bebernya.

Di samping itu, ia pun menga­kui pemanfaatan lahan makam saat ini belum merata. Sejumlah makam lebih menjadi favorit warga karena faktor jarak yang lebih terjangkau.

Ia berharap warga berkenan beralih ke TPU lain yang masih menyediakan banyak lahan untuk pemakaman. Misalnya ke TPU Mulyaharja yang baru terisi 0,15 persen atau TPU Situgede yang persentase terisi­nya masih 0,3 persen. ”Bisa juga karena ada almarhum keluarganya yang tadinya dimakamkan di sana sehingga ingin berdekatan,” imbuh Toto.

Sementara TPU Gununggadung tercatat paling luas, yakni 36 hektare. TPU dengan daya tampung 54.000 makam itu kini telah terisi 51.872 makam. Sedangkan TPU Situgede seluas 37.654 meter persegi dan TPU Blender 66.715 meter persegi. ”Hingga kini, UPTD Pemakaman belum mendapatkan lahan baru dari aset,” katanya.

Menurut Toto, krisis tanah makam bisa tertutup untuk menga­komodasi 735.627 jiwa penduduk Bogor bila para pengembang yang membangun di Kota Bogor diwajibkan menyisihkan dua persen dari total lahan untuk pemakaman. “Kalau pengembang menyiap­kan fasos dan fasum untuk pe­makaman, kebutuhan akan lahan pemakanan masih bisa terpenuhi,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Bogor Dodi Setiawan mengaku sangat prihatin dengan ketersediaan lahan pemakaman di Kota Bogor yang semakin menyurut.

Bahkan hanya menyisakan 25 persen dari luas lahan yang ada yakni 610,585 hektare. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap lahan pe­makaman menjadi suatu yang penting dan perlu dipikirkan pemerintah sebagai pihak ber­wenang untuk pengadaan fasilitas tersebut.

Dalam hal ini tentunya pemerin­tah juga berhak mengatur kebija­kan yang berkaitan erat dengan pemakaman tersebut. Termasuk memastikan setiap mengeluarkan izin pengembangan perumahan wajib menyiapkan lahan fasos dan fasum.

“Jika pengembang peru­mahan mereka melengkapi lahan fasos dan fasum, ketersediaan lahan pemakanan di Kota Bogor bakal aman. Namun jika tidak tersedia, bakal berdampak buruk. Ini yang menjadi PR Pemkot Bo­gor, harus lebih selektif dalam mengeluarkan izin perumahan,” tutupnya.(ads/c/feb/run)