25 radar bogor

DBD Semakin Mewabah di Bogor, Sudah 231 Warga jadi Korban, Tiga Meninggal Dunia

kasus DBD
Ilustrasi kasus DBD di Kota Bogor meningkat.

BOGOR-RADAR BOGOR, Warga kota dan Kabupaten Bogor saat ini patut waspada dengan mewabahnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Hingga penghujung bulan ini saja, sudah 231 warga kota dan kabupaten Bogor menjadi korban. Tiga diantaranya meningga dunia.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota dan Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 231 orang positif DBD di tiga pekan pertama Januari 2019. Perinciaanya 118 kasus di Kota Bogor dan 113 kasus di Kabupaten Bogor. “Total ada tiga korban yang meninggal dunia akibat DBD,” ujar Kasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular dan Surveilance (P3MS) Kota Bogor, Sari Chandrawati.

Dia menjelaskan mayoritas korban meninggal masih berusia anak-anak. Setelah diinvestigasi, pihaknya mendapati sejumlah sekolah ternyata tidak aman. Didapati adanya sarang perkembangbiakan jentik nyamuk di beberapa tempat. “Korban yang meninggal ada yang berusia empat tahun,” ucapnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Rubaeah menambahkan Kota Bogor termasuk wilayah endemis DBD. Itu terjadi lantaran perilaku, lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Pihaknya juga mendapai nyamuk yang mulai resisten (kebal) terhadap obat-obat fogging karena banyaknya fogging yang berkeliaran bebas dan tidak sesuai dengan aturan. “Ini yang selalu terjadi setiap saat karena banyaknya permintaan fogging,” bebernya.

Menurut Rubaeah cara yang paling ampuh mengatasi DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) plus. Plusnya yaitu menggunakan obat anti nyamuk setiap pagi sebelum kerja, memelihara ikan untuk membasmi jentiknya.

“PSN juga tidak bisa hanya dilakukan sekali karena perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa hanya satu minggu. Jadi PSN harus dilakukan setiap minggu secara rutin, berkesinambungan dan serentak,” tukasnya.

Sementara, Kepala bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Agus Fauzi, mengatakan, kasus DBD tersebar di 15 dari 40 kecamatan di Kabupaten Bogor. Jumlah terbanyak disebutkan terjadi di Kecamatan Cibinong yang mencapai 34 kasus. “Meski begitu, kami belum menjadikan penyakit DBD ini masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB),” kata Agus.

Dia menjelaskan kalau bupati telah membuat surat tentang peningkatan sistem kewaspadaan dini (SKD) dan diedarkan kepada para camat, kepala desa, puskesmas, dan rumah sakit tentang penanggulangan DBD. Dia meminta masyarakat tidak resah.

“Tapi bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, berperilaku sehat, dan segera membawa ke fasilitas kesehatan terdekat bila ada korban dengan gejala DBD,” tegasnya. (gal/d)