25 radar bogor

Warga Dua Desa di Cigombong Tolak Penggusuran Ribuan Makam, Ini Alasannya

CIGOMBONG-RADAR BOGOR,Puluhan warga Kampung Ciletuh Hilir RT 01/02 dan RT 03/06 Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong menolak eksekusi lahan makam, Rabu (23/1/2019).

Penolakan mereka disampaikan dalam bentuk unjukrasa terhadap PT.MNC Group, yang akan membongkar lahan makan di Kampung Ciletuh. Musabab dari penolakan tersebut, dikarenakan tidak seluruh ahli waris menyepakati adanya pembongkaran.

Kekecewaan warga terhadap pihak-pihak yang hendak menggusur ribuan makam pada lahan seluas 1,5 hektare tersebut, turut dilontarkan melalui spanduk-spanduk yang terpampang di area sekitar makam. Warga bersikukuh agar lahan makam tidak dibongkar, karena sudah lebih lama ada, sebelum perusahaan mengklaim kepemilikan lahan.

Berdasarkan pantauan Radar Bogor, sempat terjadi kegaduhan lantaran adanya kesalahan penggalian terhadap makam. Akan tetapi, kericuhan tersebut reda saat ratusan petugas gabungan TNI-Polri beserta Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) hadir untuk memberikan pengamanan. Akibat dari kesalahan penggalian, proses ekesekusi lahan makam pun akhirnya terhenti.

Ketua RW 06 Kampung Ciletuh, Jaja mengatakan, proses eksekusi lahan makam ini sudah ketiga kalinya. Menurutnya, pembongkaran makam dilakukan secara sepihak, karena tidak semua ahli waris menyepakati hal tersebut.

“Pembongkaran ini kalau memang dasarnya sudah jelas, ahli waris sudah tanda tangan semua, buat apa kami pertahankan ?,” kata dia.

Dari puluhan ahli waris, kata dia, hanya tujuh orang yang menyepakati pembongkaran makam dan pemindahan jenazah. Sementara, beberapa ahli waris lainnya tidak menyepakati, adanya pembongkaran.

“Ada 33 makam yang sudah disepakati alih waris. Sementara, kurang dari 2.000 makam lainnya belum ada kesepakatan dari alhli waris,” bebernya

Ia juga menceritakan terkait kesalahan penggalian jenazah. Jenazah yang sudah diangkat dari liang lahat juga tidak dikembalikan lagi. Sehingga, warga berinisiatif melakukan pemakaman ulang terhadap jasad-jasad, yang sudah sempat masuk ke dalam mobil ambulance untuk dipindahkan.

“Terkait dengan salah penggalian, saya akan menuntut siapa yang mengajukan penggalian, bukan ke perusahaannya. Tadi ada lima makam yang salah gali. Empat jasad sudah dikuburkan, tapi satu lagi dibawa untuk dipindahkan,”terangnya

Disinggung terkait kepemilikan lahan, Jaja mengatakan, dasar dari kepemilikan lahan makam Kampung Ciletuh sedang dalam proses. Dirinya tidak menampik bahwa kedua belah pihak saling mengkalim lahan tersebut.

“Perusahaan katanya punya surat. Tapi kita punya fisik. Terkait ini, kalau ada mediasi yang lebih baik, harapan saya mediasinya kita bertemu di pengadilan untuk mempertanyakan tanah ini milik siapa ?, makam ini sudah ada sejak 1938,” pungkasnya.(rp1/c)