25 radar bogor

Jumat Keramat Asrama Latimojong

Oleh : Hazairin Sitepu

KAMIS sore 27 April 2017 berita eksekusi Asrama Latimojong viral di beberapa grup media sosial di Bogor. Grup WA Bogor dan Sahabat salah satunya.

Meski akhirnya ditunda, video dan foto-fotonya memberi kesan mengerikan. Ratusan petugas berhadap-hadapan dengan puluhan mahasiswa.

Harlan Bengardi (Kang Harlan), melalui pesan WA, Kamis malamnya meminta saya membantu menyelesaikan masalah itu. Saya merenung. Harus melakukan apa. Harus memulai dari mana. Dengan cara apa. Harus bicara dengan siapa. Kang Harlan adalah CEO (chief exekutive officer) dari grup satu perusahaan besar di Bogor.

Hari Jumat 28 April 2017 pagi saya ke Pesantren Al-Ghazaly bertemu Kiay Toto. Nama lengkapnya KH Mustofa Abdullah Bin Nuh. Kiay Toto adalah pemilik Pesantren Al-Ghazaly. Saya kenal baik. Sering bertemu di majelis-majelis, terutama di Universitas Ibnu Khaldun. Kebetulan saya dewan penyantun di universitas itu.

Tujuan ke Al-Ghazaly untuk dua hal. Pertama, memohon kepada Kiay Toto supaya eksekusi berikutnya jangan buru-buru dilaksanakan. Akan banyak jatuh korban jika dipaksakan tanpa ada jalan keluar yang komprehensif. Beri saya waktu untuk bertemu beberapa pihak.

Kedua, ingin tau legalitas Al-Ghazaly atas lahan dan bangunan Asrama Latimojong.

Dalam perjalanan dari rumah saya di Taman Yasmin-5 ke Al-Ghazaly, muncullah gagasan mencari lahan untuk membangun asrama baru bagi mahasiswa Sulawesi Selatan di Bogor. Ini untuk mengakhiri sengketa puluhan tahun, sekaligus menghindari munculnya konflik antaretnis.

Usai dari Al-Ghazaly, saya bersama Awaluddin Sarmidi (ketua KKSS Kota Bogor) juga Nichrawati, Aswan Achmad ke RS Azra untuk menjenguk adik-adik mahasiswa korban eksekusi hari Kamis.

Usai salat Jumat, saya bertemu Sekda Kota Bogor Ade Syarif (Kang Ade). Membicarakan cara terbaik memecahkan masalah Asrama Latimojong itu. Meminta lahan ke Kang Bima (Walikota Bogor Bima Arya) untuk dihibahkan ke Pemprov Sulsel. Biar Sulsel yang membangun dengan anggarannya sendiri. Kang Bima setuju.

Hari Jumat 5 Mei 2017 saya bertemu Sekda Prov Sulsel Pak Abdul Latif di ruangan kerjanya. Membicarakan bahwa asrama yang nantinya dibangun itu akan benar-benar menjadi aset pemerintah Sulsel.

Jumat hari itu juga bertemu Ketua Bappeda Sulsel Muhammad Jufri bahwa semua anggaran pembangunan asrama menjadi tanggung jawab pemerintah Sulsel. “Saya akan siapkan dalam anggaran belanja modal,” kata Jufri.

Hari Jumat 16 Juni 2017, saya mempertemukan tim dari Pmprov Sulsel dengan Kang Bima di Sentul. Tim dipimpin Ruslan Abu, asisten administrasi Sekda Sulsel. Kita salat Jumat di Sentul.

Hari Jumat 25 Agustus 2017, saya bersama Kang Ade Syarif, Awaluddin Sarmidi, mengantar tim Pemrov Sulsel melihat lahan di bilangan Kota Paris. Tim Sulsel memang selalu dipimpin Pak Ruslan Abu. Kita salat Jumat di Masjid Al-Khaeriyah, Kota Paris.

Hari Jumat 8 September 2017, saya mempertemukan utusan dari Biro Aset Pemrov Sulsel dengan Kang Bima di Hotel Salak.
Hari Jumat 10 November 2017, saya bertemu Kang Ade Syarif di Sentul untuk mematangkan rencana hibah.

Saya lupa apakah para pimpinan DPRD Kota Bogor, termasuk ketuanya Untung Maryono datang ke tempat saya untuk membicarakan prihal hibah tanah di Kota Paris itu pada hari Jumat juga.

Tetapi asrama itu akhirnya diresmikan oleh Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah pada hari Jumat 28 Desember 2018.

Gagasan pembangunannya tanggal 28, diresmikan tanggal 28. (Foto-foto peristiwa lihat di instagram hazairinsitepu)

Gagasan dan hampir semua peristiwa dalam proses pembangunan Asrama Latimojong Bogor terjadi pada hari Jumat. Semua berjalan tanpa disadari, tanpa diatur. Allah-lah yang mengatur.
Ini asrama luarbiasa. (*)