Beranda Berita Utama Pasca Diguncang Gempa, Muncul Lumpur dan Tanah Bergerak di Sulteng. Lihat Videonya!

Pasca Diguncang Gempa, Muncul Lumpur dan Tanah Bergerak di Sulteng. Lihat Videonya!

Kondisi salah satu ruas jalan di Palu pasca tsunami.

SULTENG-RADAR BOGOR, Pasca gempa 7,4 SR mengguncang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah disusul tsunami, Jumat (28/9/2018) kini muncul fenomena lumpur dan tanah bergerak.

Fenomena itu terekam dalam sebuah video dan beredar di media sosial. Seperti yang diunggah Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di akun twitter-nya, @Sutopo_PN, Minggu (20/9/2018).

Dalam video itu tampak lumpur muncul dari permukaan tanah sehingga membuat amblasnya bangunan dan pohon serta mengalir hingga membawa rumah warga.

Dari postingannya, Sutopo mengatakan peristiwa itu terjadi di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu dan disebut dengan fenomena likuifaksi.

“Munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon di Kabupaten Sigi dekat perbatasan Palu akibat gempa 7,4 SR adalah fenomena likuifaksi (liquefaction). Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan,” ungkapnya.

Dikutip dari laman Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), likuifaksi merupakan suatu proses yang membuat kekuatan tanah menghilang dengan cepat. Kekuatan serta daya dukung tanah menurun dikarenakan getaran yang diakibatkan gempa maupun guncangan lainnya.

“Likuifaksi bertanggung jawab atas banyaknya kerusakan yang mengerikan dalam sejarah gempa bumi di seluruh dunia,” tulis laman iagi.or.id.

Likuifaksi dapat terjadi jika terdapat material lepas berupa pasir dan lanau yang berada di bawah muka air tanah, sehingga ruang poriantar butir terisi oleh air.

Tanah yang terlikuifaksi tidak dapat menahan berat apapun yang berada di atasnya, baik itu berupa lapisan batuan di atasnya maupun bangunan yang akhirnya mengakibatkan hilangnya daya dukung pada pondasi bangunan.

Efek yang dapat ditimbulkannya adalah menurunnya permukaan tanah di tempat terjadinya likuifaksi.

Penurunan permukaan tanah dapat membuat permukaan menjadi dekat atau malah berada di bawah muka air tanah. Hal ini akan lebih buruk lagi jika ternyata terdapat struktur-struktur geologi di daerah tersebut.

Sebelum di Palu, gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta pada Mei 2007 juga telah memperlihatkan gejala likuifaksi. Terjadi kerusakan yang serius pada bangunan dan infrastruktur di Yogyakarta, termasuk daerah Pleret. (ysp)