Beranda Female Sangat Tinggi Gula, Rendah Protein

Sangat Tinggi Gula, Rendah Protein

SELAMA sepekan terakhir, ramai pemberitaan kontroversi seputar susu. Bahkan, BPOM mengungkapkan bahwa kadar gizi susu kental manis (SKM) kontras dengan susu formula, UHT, maupun susu yang sudah dipasteurisasi. Padahal, banyak orang tua yang memberikan SKM untuk pelengkap gizi.

Menurut dr Meta Hanindita SpA, susu penting untuk mendukung pertumbuhan anak. ’’Selain air susu ibu (ASI), susu bisa diberikan mulai usia di atas 12 bulan.

Pemberiannya sebaiknya dengan konsultasi dokter,’’ papar dokter spesialis anak yang berpraktik di RSUD dr Soetomo Surabaya tersebut.

Susu punya kandungan kalsium yang tinggi dan mudah diserap tubuh. Selain membangun tulang dan gigi yang kuat, mineral itu memastikan otot dan saraf bekerja dengan baik. Pemberian susu secara tepat membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak, terutama yang baru belajar makan.

’’Karena masih ’perkenalan’, anak belum makan teratur. Jadi, banyak kandungan gizi yang kurang bisa dilengkapi lewat konsumsi susu,’’ kata mantan penyiar radio tersebut.

Meski susu dirancang padat kandungan gizi, kebutuhan nutrisi harian anak tidak lantas bisa dipenuhi hanya dengan meminumnya. Asupan utama tetap berasal dari makanan. Porsi susu hanya sekitar 30 persen dari total kebutuhan harian. Pemberian susu pun, kata dia, tidak boleh terlalu sering.

’’Anak akan mudah kenyang, akhirnya enggak doyan makan,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan susu kental manis (SKM)? ’’Karena melalui proses evaporasi (penguapan) dan penambahan gula, ia tinggi kandungan gula, tapi rendah protein,’’ ungkap alumnus FK Unair tersebut.

Sementara itu, Qonita Rahma MSc (nutria & diet) menjelaskan bahwa suatu produk bisa dikatakan mengandung susu jika terdapat protein minimal 2,8 persen. Di dalam susu kental manis, terdapat 4 persen protein dalam satu takaran saji (4 sendok makan atau 40 gram). Meski begitu, yang paling dikhawatirkan adalah kandungan gula. Dalam satu sajian susu kental manis, kandungan gulanya sekitar 21 gram. Kebutuhan gula bagi orang dewasa adalah 10 persen dari kebutuhan kalori per hari.

Anak usia setahun yang membutuhkan asupan kalori 1.100 kkal hanya butuh 25 gram gula. ’’Kalau sudah minum satu sajian SKM saja, itu sudah hampir memenuhi
kebutuhan gula. Belum manis-manisan lainnya. Apalagi, anak-anak sangat suka manis,’’ tutur konsultan gizi di Ahligizi.id tersebut.

Menurut Meta, konsumsi gula berlebih bisa menimbulkan beragam gangguan kesehatan terhadap si kecil. Apalagi jika dikonsumsi rutin. Misalnya, masalah gigi, obesitas, malanutrisi (kelebihan karbohidrat dari gula, tetapi kekurangan protein, vitamin, dan mineral), hingga risiko diabetes.

’’SKM sangat tidak disarankan bagi balita dan anak-anak,’’ tegas Meta.

Anak-anak, lanjut dia, lebih disarankan mengonsumsi susu pertumbuhan, UHT, maupun pasteurisasi. ’’Dalam prinsip 4 sehat 5 sempurna, bukan susu kental manis yang dimaksud,’’ sambung Qonita.

SKM, menurut dia, tidak bisa digunakan sebagai sumber nutrisi harian. Terutama dalam mencukupi asupan kalsium. Si kecil memerlukan asupan 1.000–1.300 mg kalsium per hari. Disesuaikan dengan tahapan usia. Terlebih, kalsium dibutuhkan anak-anak untuk pembentukan tulang. Hal itu didukung zat gizi lain. ’’Misalnya, vitamin D yang membantu kerja kalsium,’’ sebutnya.

Dewasa perlu asupan kalsium cenderung lebih sedikit. Sekitar 1.000 mg per hari. Sebab, kemampuan absorptif menurun. Ya, Qonita menuturkan bahwa kalsium tidak bisa disimpan dalam tubuh.

Karena itu, cukup sesuaikan dengan kebutuhan. Yakni, mengonsumsi protein nabati 2–3 porsi per hari plus protein hewani 2–3 porsi per hari dengan susu sapi (bukan SKM, Red) sebagai pengisi porsi protein hewani.(fam/adn/c14/nda)