Beranda Bogor Raya Kalau Macet Butuh Dua Jam

Kalau Macet Butuh Dua Jam

MELDRIK/RADAR BOGOR
RUTIN: Kemacetan di kawasan Cibubur sudah menjadi ‘sarapan’ warga setiap harinya.

CIBUBUR–RADAR BOGOR, Kemacetan di kawasan Cibubur masih men­jadi pekerjaan rumah (PR) empat pemerintah daerah, Kabu­paten Bogor, Kota Depok, Jakarta Timur, dan Kota Bekasi.

Bisa dikatakan, situasi ini su­dah menjadi ‘sarapan’ rutin warga Cibubur, yang seolah tidak ada menu pengganti. Warga pun sangat berharap, pem­bangunan LRT dan tol yang saat ini tengah dikerjakan menjadi solusi mengurai kemacetan.

Penelusuran Radar Bogor, ada beberapa titik simpul kemacetan yang harus dibenahi. Di antaranya, Mall Cibubur, Plaza Cibubur, Buperta, perem­patan Cikeas (Gunungputri) Jalan Raya Transyogi, flyover Cileungsi, Perumahan Duta, dan pertigaan Metland. Kema­cetan di titik inilah yang paling krodit, terutama sore hari.

universitas-nusa-bangsa

Dari arah Cibubur menuju Cileungsi, pengendara bisa membutuhkan waktu hingga dua jam. Padahal, dalam kon­disi normal pengen­dara hanya membutukan sekitar 30 menit.

Penumpukan kendaraan di titik-titik ini biasanya terjadi pada pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. “Sudah enggak aneh kalau ma­cet di sini (Cibubur) apalagi waktu jam pulang kerja,” kata Dimas (32) warga Perumahan Nusa Indah Blok I, Desa Bojong­kulur, Kecamatan Cileungsi.

Menurut dia, kemacetan biasanya terjadi di hari kerja. Sementara saat akhir pekan atau libur, kemacetan di jalur alternatif Cibubur-Transyogi justru tidak terlalu parah.

Terpisah, pengamat trans­portasi, Budi Arif, menyebut pemerintah harus paham jika Cibubur merupakan daerah yang tingkat sosial ekonominya mayoritas berada di menengah ke atas. Sehingga, setiap warga dipastikan memiliki kendaraan yang bergerak dari Cibubur ke Jakarta.

“Pastinya volume kendaraan tinggi, karena kan punya mobil semua, “katanya.

Untuk meminimalisasi peng­gu­naan kendaraan pribadi, keberadaan moda transportasi massal menjadi solusinya. Hanya saja, pemerintah tetap harus melakukannya secara komprehensif.

“Butuh pemetaan pergerakan kendaraan pribadi, berikut dengan pekerja yang sifatnya membutuhkan kendaraan untuk mondar-mandir di lapangan. Jadi, bus tidak hanya beroperasi di jam-jam tertentu,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi jika sistem ganjil genap bukanlah solusi yang tepat. Sebab, sistem ini masih bisa diakali.

“Masyarakat juga tidak hanya memiliki satu mobil, artinya me­reka punya dua mobil dengan pelat sesuai aturan ganjil genap,” tandasnya.(cr2/c)