Beranda Bogor Raya Setiap Hari Difabel Di-Bully

Setiap Hari Difabel Di-Bully

Acara kegiatan Global Action Week (Gawe)

CIBINONG–RADAR BOGOR,Kasus bullying masih marak terjadi di Kabupaten Bogor. Buktinya, Diffable Action Indonesia masih menerima laporan terkait perundungan (bully).

Hal itu juga yang menjadi perhatian Diffable Action Indonesia bekerja sama dengan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengadakan kegiatan Global Action Week (Gawe) 2018, di lingkar luar Stadion Pakansari, kemarin (22/4).

Gawe kali ini mengangkat tema Pendidikan yang Berkualitas, tentang Pendidikan Inklusi.

universitas-nusa-bangsa

Ketua Diffable Action Indonesia, Teguh Prasetyanto mengatakan, Gawe merupakan agenda rutin dengan memilih lokasi yang berbeda-beda.

Jika tahun lalu diadakan di Jakarta, maka tahun ini Kabupaten Bogor dipilih menjadi lokasi Gawe 2018.

“Karena menurut kami pendidikan inklusi di Bogor, ada beberapa yang perlu dibenahi.

Terpenting, anak-anak difabel yang ada di sekolah umum mendapatkan perhatian khusus,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Teguh menjelaskan, ada beberapa keluhan dan curhatan dari orang tua dan anak-anaknya sendiri tentang perundungan yang skalanya besar. “Itu mengganggu aktivitas mereka dalam pembelajaran,” tuturnya.

Sebab itulah, sambung Teguh, pihaknya mencoba untuk mengampanyekan tentang pendidikan inklusi. Bagaimana pembauran antara anak-anak difabel dan nondifabe.

“Untuk laporan perundungan hampir setiap hari ada di beberapa tempat dengan situasi yang berbeda.

Ada yang dikunciin di kamar mandi, ada yang ketika di kelas dijauhkan,” beber dia lagi.

Lebih lanjut Teguh menuturkan, pihaknya ingin mengetengahkan apa yang terjadi pada anak-anak difabel. Semisal, guru lebih konsen kepada anak-anak difabel, karena memang mereka membutuhkan perhatian dua kali lebih banyak dari anak-anak pada umumnya.

”Iini menjadi gesekan sosial, anak difabel dan biasa,” pungkasnya.

Di sisi lain, Diffable Action Indonesia mencatat di Kabupaten Bogor ada 2.000 anak-anak difabel yang tersebar di 40 kecamatan.

Jumlah tersebut, sambung Teguh, cukup besar. Dan 60 hingga 80 persen di antaranya, paling maksimum hanya mengenyam pendidikan sebatas SMP.

“Karena itu, kebijakan dari Disdik Kabupaten Bogor, setiap sekolah harus menerima anak difabel.

Tapi kembali lagi anak-anak itu dikhawatirkan menjadi korban bullying, ketakutan orang tua, anak anaknya diapa-apain, karena terlalu sayang, jadinya enggak disekolahkan,” keluhnya.

Tindak lanjut dari Gawe ini, kata Teguh, pihaknya akan, menggandeng Pemkab Bogor untuk membuat kualitas pendidikan lebih baik bagi difabel.

”Kami berencana, mau mengadakan social camp, memadukan difabel dan nondifabel dalam satu wadah,” tuturnya.

Dan untuk anak-anak non difabel, masih kata Teguh, akan diberi nuansa difabel, agar merasakan bagaimana menjadi difabel.

Semisalnya diminta untuk berjalan 10 meter, dengan mata tertutup. Berinteraksi dengan teman, namun dengan telinga ditutup. “Jadi dari situ, harapan kami akan adanya empati sosial, sehingga untuk bullying bisa kita minimalisir,” tandasnya.(wil/c)