Beranda Metropolis Yoga Supriyatna, Penderita Penyakit Langka Osteogenesis Imperfecta

Yoga Supriyatna, Penderita Penyakit Langka Osteogenesis Imperfecta

NELVI/RADAR BOGOR
BUTUH BANTUAN: Yoga ditemani ibundanya, hanya bisa berbaring di kasur dan rumahnya yang sederhana.

Nasib kurang beruntung dialami pemuda 22 tahun, yang selama empat tahun belakangan ini hanya bisa terbaring di kasur sederhana milik ibunya. Dia adalah Yoga Supriyatna. Yoga mengidap penyakit Osteogenesis Imperfecta, yaitu bentuk kelainan genetik pada tulang yang memengaruhi proses produksi kolagen.

Laporan: Nova dan Rany Puspitasari

Semua berawal ketika Yoga berenang bersama teman-temannya. Tak disangka, ia terjatuh dan menyebabkannya tidak bisa berjalan sampai saat ini, dikarenakan pinggul dan sendi di lututnya terasa sakit.

universitas-nusa-bangsa

“Sebelumnya, Yoga juga sudah pernah jatuh, tujuh kali dan jatuh di kolam renang itu yang terparah. Pas jatuh itu, saya lagi di Kalimantan, dan baru bisa pulang ketemu Yoga empat bulan kemudian, kondisinya sudah parah,” ungkap Nina (38), ibunda Yoga.

Setelah kejadian itu, Yoga kemudian di­bawa ke RSUD Kota Bogor dan diperiksa dokter ahli tulang. Hasil diagnosa, ia meng­idap Oseteogenesis Imperfecta. Penyakit itu menyebabkan tulang Yoga begitu rapuh. Bahkan tulang rusuknya naik ke atas dan badannya pun semakin meng­ecil. Sangat terlihat hanya tulang yang dilapisi kulit.

Di rumahnya yang seder­hana, di daerah Pancasan RT 04 RW 12 Kelurahan Pasirjaya, Keca­ma­tan Bogor Barat, Nina mengurus sendiri anak semata wayangnya tersebut. Yoga sebelumnya diurus sang ayah, Yudi Supriyadi, sebelum akhirnya pindah ke Kali­mantan. Setelah kejadian Yoga terjatuh dan sakit seperti sekarang ini, Nina memu­tus­kan pindah lagi dari Kalimantan ke Bogor, bertukar dengan suaminya.

“Saya sama bapaknya Yoga kan udah gak sama-sama, jadi kami tukeran. Sekarang saya yang urus Yoga,” cerita Nina.

Sebelum dibawa ke rumah sakit, Yoga hanya dipijat. Ketika sudah mau sembuh, ia terjatuh lagi yang menyebabkan sakit pada tulang ekornya, dan akhirnya dibawa ke RSUD Kota Bogor. Pada awal pemeriksaan, Yoga rutin dibawa ke rumah sakit sebanyak dua kali dalam seminggu. Namun, sekarang hanya dua kali dalam satu bulan.

“Yoga gak bisa makan banyak, karena kata dokter takut kena tulangnya.

Tulangnya kan rapuh. Tapi untuk makan sih gak ada pantangan, seperti biasa aja,” tambahnya.

Dokter ahli tulang menyaran­kan Yoga dan ibunya untuk membeli alat uap, supaya bisa melakukan uap sendiri di rumah secara rutin. Dengan harga yang tak murah, akhirnya Nina membelikan alat uap seharga 700 ribu rupiah demi membantu anaknya.

“Setiap hari itu harus diuap, sehari dua kali, pagi dan sore, untuk bantu pernapasannya juga. Tulang rusuknya itu kan naik, nekan paru-parunya karena tiduran terus. Tapi alhamdulillah paru-parunya gak bermasalah,” beber Nina.

Saat ini, Yoga masih terus rutin mengonsumsi obat yang diberikan dokter dibantu juga BPJS. Pria kelahiran Bogor, 11 November 1995, tersebut hanya bisa berbaring lemas dan diurus sendiri sang ibu.

“Udah gak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa tiduran, duduk juga gak bisa. Hiburannya ya nonton tv aja,” ungkap Yoga.

Karena keterbatasan ekonomi, Yoga hanya bisa tidur di kasur kapuk lusuh yang diletakkan di lantai rumah. Sang ibu tidak bekerja dan hanya fokus untuk mengurus putra kesayangannya tersebut. Nina tidak tega meninggalkan putranya sendiri dengan keadaan yang sudah tidak bisa apa-apa.

Dengan mata berkaca-kaca, Yoga dan ibunya mengung­kapkan ingin sekali membeli tempat tidur dan kasur layaknya di rumah sakit. Supaya Yoga juga bisa santai dan tidak melulu berbaring.

“Saya sih pengennya beli tempat tidur, tapi uangnya gak ada. Kasihan Yoga kalau harus tiduran terus. Kan kalau pake tempat tidur itu bisa diatur gitu biar Yoga bisa bangun, tanpa harus keluar dari tempat tidur,” kata Nina dengan air mata mengalir.(*/c)