Beranda Metropolis Empat Bulan, Baru Lelang Tiga Proyek

Empat Bulan, Baru Lelang Tiga Proyek

MASUK LELANG: Pembangunan joging track Taman Sempur senilai Rp2,1 miliar masuk lelang di ULP Kota Bogor

BOGOR–RADAR BOGOR,Meski sudah memasuki bulan keempat, rupanya baru tiga proyek Pemkot Bogor yang masuk lelang di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kota Bogor. Padahal, pada 2018, paket proyek yang bersumber dari APBD Kota Bogor itu jumlahnya lebih dari 200 paket.

Kepala Administrasi Pembangunan dan Pengadaan Barang Jasa (Adalbang) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bogor, Rahmat Hidayat menjelaskan, baru tiga proyek yang masuk lelang. Tiga proyek tersebut, antara lain, pembangunan joging track Taman Sempur senilai Rp2,1 miliar, renovasi gedung Bappeda senilai Rp1 miliar, serta pemeliha­raan gedung Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor senilai Rp600 juta.

“Ada sekitar 120 paket konstruksi, lelang baru masuk tiga,” jelasnya kepada Radar Bogor, kemarin (18/4).

Kondisi tersebut membuat anggapan bahwa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Kota Bogor lamban melelang proyek. Untuk itu, Rahmat menggagas sistem baru untuk pelayanan lelang. Aplikasinya bernama Sistem Informasi Penyampaian Berkas Tender (Sipete).

“Penyampaian berkas lelang dilakukan secara online, tidak lagi berkas manual,” terangnya.

Sistem berbasis online ini memang lebih efisien dibanding yang konvensional. Di mana pun ketua ULP berada, bisa mendisposisi berkas langsung ke kasubag. “Kalau sekarang kan seperti kemarin saya diklat, berkas numpuk buat disposisi. Efektivitas dari sisi waktu. Ada surat-menyurat ke dinas, itu membutuhkan waktu. Melalui aplikasi ini, kaji ulang juga lewat chatting,” kata Rahmat.

Selain itu, sistem ini juga diyakini bisa menghemat penyimpanan berkas secara manual. Pasalnya, pada kondisi sekarang banyak arsip lelang dengan berkas menumpuk.

“Jadi pusing nyimpennya. Padahal berkas lelang itu masa aktifnya hanya 10 tahun. Kalau ada kejadian, temuan itu berkas harus ada. Kalau online kan semua bisa,” tuturnya.

Kemudian, keuntungan lainnya yaitu dari segi akunta­bilitas lebih terjaga. Karena, menurut Rahmat, jika berbentuk kertas masih ada kemungkinan tercecer atau lupa menaruhnya.

“Akhir tahun ini sudah launching. Daerah lain belum, baru Kota Bogor. Jadi hanya berbentuk softcopy, melalui aplikasi ini bisa terdata dengan baik,” tukasnya.(fik/c)