Beranda Bogor Raya Budi Daya Ikan di Saluran Irigasi, Kampung Naringgul Ciasin

Budi Daya Ikan di Saluran Irigasi, Kampung Naringgul Ciasin

BUDI DAYA: Salah seorang warga memberi makan ikan di kolam saluran irigasi.

Mungkin sudah biasa jika memelihara ikan di kolam atau tambak. Namun bagaimana jika ratusan ikan hidup di saluran irigasi? Itulah cara warga Kampung Naringgul Ciasin RT 03/10, Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi, memanfaatkan lingkungan kampungnya.

Laporan : Andika Try Wiratama

Sudah tiga tahun lamanya, budi daya ikan di saluran irigasi di Kampung Naringgul Ciasin terus menunjukkan perkem­bangan. Ikan–ikan tumbuh dengan sehat dan memiliki ukuran cukup besar.

universitas-nusa-bangsa

”Kesadaran warga semakin ke sini semakin baik. Sekarang, ada 40 sekat memanjang di 300 meter irigasi yang ada saat ini. Satu sekat, minimal ada 50 kilogram ikan atau 300–400 ekor ikan,” beber Aedi Zuhri, ketua RT setempat sekaligus kader Ecovillage di Desa Bendungan.

Dalam mengurusi ikan–ikan tersebut, warga hanya bertang­gung jawab untuk memberi makan dan sesekali mem­bersih­kan kotoran yang me­nem­pel pada saluran irigasi. Tak ayal, banyak pengun­jung yang datang sengaja melihat keunikan ikan di saluran irigasi tersebut.

Aedi bercerita, irigasi tersebut merupakan saluran yang menjadi hilir pada daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung. Untuk selanjutnya, aliran tersebut menghantarkan air ke areal persawahan yang ada di kampung. Namun sayangnya, areal persawahan tersebut kini sudah tak seefektif dulu.

”Jadi, ya, air mengalir lagi ke Ciliwung. Jangan sampai air itu tidak bergerak mengalir, karena itu yang membuat ikan–ikan di sini sangat baik pembesaran dan penggemukan ikannya,” bebernya.

Sebelum datang ke Kampung Naringgul Ciasin, untuk enam ekor ikan beratnya hanya satu kilog­ram. Namun setelah dilaku­kan penggemukan, ikan bisa men­jadi satu kilogram tiga ekor.

Menurutnya, saat ini penjua­lan ikan yang dipelihara warga sangat mudah. Meski masih belum diperkenankan dijual ke pasaran, namun distribusi semakin kencang. Hingga saat ini, warga hanya menyuplai ikan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perika­nan wilayah Ciawi.

Untuk ikan yang paling besar, bisa dihargai sampai Rp500 ribu. ”Kami tidak menerima pesanan dari luar dulu, kalau mau ya paling lang­sung ke UPT. Paling banyak itu kirim dua ton,” terangnya.

Pemakaian irigasi menjadi wa­dah pengembangbiakan ikan–ikan tersebut muncul atas dasar keprihatinan warga terha­dap sampah. Saat irigasi belum dinormalisasi, warga bisa mengangkat hampir 50 kilogram sampah setiap harinya.

”Sampah sebelumnya membuat kotor saluran irigasi yang mengalir ke Ciliwung. Tapi atas kesadaran mereka sendiri, warga sudah tidak mau buang sampah sembarangan lagi, meskipun masih harus kami pantau terus,” tukasnya.

Sekadar informasi, di Kampung Naringgul Ciasin RT 03/10 terdapat 240 kartu keluarga (KK) dalam satu lingkungan RW. Sementara, ada 400 warga yang menetap di satu RT tersebut.(c)