Beranda Bogor Raya Populasi Burung Garuda Makin Berkurang

Populasi Burung Garuda Makin Berkurang

Andika/Radar Bogor
MASKOT INDONESIA: Keeper hewan bersama elang Jawa saat penandatanganan MoU Taman Safari Indonesia (TSI) dengan PT Smelting, kemarin.

CISARUA–RADAR BOGOR, Melihat jumlah elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) yang kian berkurang tiap tahun di alam, Taman Safari Indonesia (TSI) fokus dalam program konservasinya. Minggu (4/2) pagi kemarin, lembaga konservasi eksitu ini menandatangani memorandum of understanding (MoU) bersama perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga PT Smelting.

Direktur Utama TSI Jansen Manansang menjelaskan, usai penandatanganan perjanjian ini, kedua pihak akan melanjutkan pembahasan program yang akan dituangkan dalam konservasi satwa langka dan dilindungi. ”Dalam hal ini, bagaimana bisa mengembangbiakkan elang Jawa,” bebernya pada awak media.

Jansen menjelaskan, fokus terhadap elang Jawa bukan tanpa sebab. Satwa ini dipilih karena dianggap identik dengan burung garuda yang merupakan lambang Negara Indonesia. Pada 1992, elang Jawa juga ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, termasuk di antaranya bersama Komodo.

universitas pakuan unpak

Melalui kerja sama ini, Jansen menambahkan, TSI akan menambah fasilitas untuk perawatan elang Jawa sekaligus meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang). Terutama, di bidang pengembangbiakkan. ”Hal ini sesuai dengan keinginan pemerintah pusat yang ingin menambah populasi satwa langka lima sampai sepuluh persen pada 2025 nanti,” ucapnya.

Nantinya, ilmu dari kegiatan ini bisa disebarkan ke masyarakat luas. Secara jangka panjang, Jansen berharap, kerja sama bisa membantu meningatkan awareness masyarakat terhadap elang Jawa yang kini kian langka.

Saat ini, menurut IUCN Red List, elang Jawa berada dalam kondisi genting. Dari data yang dimiliki TSI, pada 2015, hanya ada 188 pasang di alam liar. ”Jumlah ini menurun dari 415 pasang pada 2005 dan 315 pasang pada 2010,” ujar kurator satwa burung di TSI, Imam Purwadi.

Menurut Imam, banyak faktor yang menyebabkan satwa endemik Jawa ini semakin sulit ditemui. Di antaranya, alih fungsi habitat mereka menjadi pemukiman dan perkebunan yang menyebabkan pengurangan terhadap pohon bertengger dan bahan makanan elang Jawa.

Salah satu fokus kerja sama ini adalah konservasi pohon besar seperti damar, kayu manis hingga cemara. Pohon ini biasa dimanfaatkan sebagai tempat bersarang indukan garuda. ”Dengan adanya tanaman ini, diharapkan TSI kelak bisa menjadi habitat elang Jawa,” kata Imam.

Selain itu, TSI juga berencana membangun penangkaran yang terstandar dengan ukuran 12 x 12 meter dan tinggi 14 meter untuk sepasang elang Jawa. Kandang ini digunakan sebagai tempat perkembangbiakkan untuk mendapat anakan yang dipersiapkan guna pelepasliaran.

Sementara, Presiden Direktur PT Smelting Hiroshi Kondo menjelaskan, pihaknya senang dapat menjadi bagian keluarga TSI dalam konservasi elang Jawa. ”Ini merupakan komitmen kami sebagai perusahaan pengolahan tembaga pada perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia,” kata dia.

Tidak hanya elang, ke depan, kerja sama ini juga akan diperluas dengan menjangkau satwa lain seperti harimau Sumatera dan badak. (dka/c)