Beranda Bogor Raya Rusun Lansia Pertama di Indonesia Belum Miliki Tangga Darurat dari Luar

Rusun Lansia Pertama di Indonesia Belum Miliki Tangga Darurat dari Luar

ilustrasi rumah susun lansia (kemen pupr)

CIBUBUR–RADAR BOGOR,Pembangunan rumah susun (rusun) bagi orang lanjut usia (lansia) yang dibangun pemerintah melalui Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Peker­jaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, masih menyisakan evaluasi.

Demikian disampaikan Kepala Sasana Tresna Werdha, Ns Ibnu Abas saat ditemui Radar Cibu­bur, belum lama ini.

Menurut Ns Ibnu Abas yang juga pengamat lansia ini, rusun tersebut memiliki fasilitas seperti ramp dan handrail bagi penghuni berkebutuhan khusus. Ada pula lift serta fasilitas penunjang lainnya seperti meubelair yang membuat para lansia betah untuk tinggal.

universitas pakuan unpak

”Keunggulannya lift dan tangga untuk lansia juga bisa dipergu­nakan bagi yang berkebutuhan khusus. Ramp kedaruratan juga bisa digunakan, misalkan mati lampu, bencana alam yang tidak mungkin mengakses lift untuk mereka yang memiliki keterbatasan atau menggunakan kursi roda,” tuturnya.

Namun, kata dia, belum adanya tangga darurat yang bisa diakses dari luar gedung, dinilai masih jadi kekura­ngannya. Karena, saat ini, untuk lift, ramp, dan tangga hanya berada di dalam gedung.

”Ketika terjadi bencana, kami masih harus tetap menggu­nakan fasilitas di dalam gedung. Ini sudah melalui hasil evaluasi bersama antara pihak pengelola serta para lansia yang menghuni rusun,” tegasnya.

Pembangunan rusun selesai pada 2016 dengan total anggaran Rp15 miliar. Spesifikasi teknis rusun yang dikelola yayasan disesuaikan bagi mereka yang berkebutuhan khusus maupun lansia. Untuk rusun terdiri dari tiga lantai, tersedia 90 unit ruangan dengan tipe 24 meter persegi (m2).

Ibnu Abas menjelaskan, fasilitas lain ada ruang-ruang kegiatan bagi lansia di setiap lantai, kelengkapan CCTV yang beroperasi 24 jam juga turut disediakan guna keamanan dan kenyamanan bagi penghuni. Pada lantai dasar, terdapat ruang teater, ruang kreasi untuk menonton hingga memenuhi kebutuhan spiritual seperti pengajian.

”Kemudian taman di bagian tengah gedung untuk mencip­takan nuansa hijau. Gedung yang berdiri 1984 ini (bukan 1944 seperti ditulis sebelumnya, red), tertutup dan terlindungi dari hujan. Jadi, meski ada taman, air hujan tidak tampias dan membasahi permukaan lantai hingga membahayakan bagi lansia. Musala juga kami sediakan,” ungkapnya.

Untuk fasilitas kamar, lanjut­nya, di-setting untuk memper­mudah dan memberikan kenya­manan bagi penghuni. Mulai dari ventilasi udara yang relatif besar, daun pintu yang lebar, hingga furniture tempat tidur yang tidak terlalu tinggi atau pendek.

”Kamar mandi kami minta closet duduk dan ada pega­ngannya dan ada tempat duduk, agar mereka mandi tidak harus berdiri. Kami juga pakai shower, tidak bak mandi, supaya lansia tidak pegal ketika mandi,” ucapnya.(cr2/c)