Beranda Bogor Raya Rusun Lansia Pertama di Cibubur

Rusun Lansia Pertama di Cibubur

foto-foto : MELDRIK/RADAR CIBUBUR
GEDUNG BARU: Tampak kondisi Rusun Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti pertama dan satu-satunya yang dibangun Kemen-pupr di kawasan Cibubur.

CIBUBUR–RADAR BOGOR, Direktorat Jenderal Penye­diaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-pupr) membangun rumah susun (rusun) yang dikhususkan bagi orang lanjut usia (lansia) di Jalan Karya Bhakti No. 1 -3 RT 08/ 07 KM 17 Cibubur, Jakarta Timur.

Hunian dengan nama Rusun Sasana Tresna Werdha (STW) Karya Bhakti ini merupakan bangunan pertama dan satu-satunya di Indonesia yang dikerjakan Kemen-pupr dan dialokasikan secara khusus bagi masyarakat berkebutuhan khusus maupun lansia.

Kepala STW, Ns. Ibnu Abas mengatakan, saat ini STW sendiri memberikan pelayanan kepada 390 lansia yang berasal dari sekitar wilayah Cibubur. Terhitung, 62 lansia telah menetap di Rusun STW bentukan Kemen-pupr di bawah naungan Yayasan Ria Karya Bhakti Pembangunan tersebut.

universitas nusa bangsa unb

”Nah, banguan yang kami miliki di luas tanah kurang lebih 1,8 hektare ini berusia 30 tahun, karena dibangun sejak 1944. Untuk kenyamanan dan keamanan lansia yang kami rawat, tentu kami harus melakukan inovasi atau pembaharuan dari gedung-gedung kami yang lama,” jelasnya.

Melalui komunikasi pihak yayasan dan Kemen-PUPR terkait program bantuan rumah susun, lanjut Ibnu, sebetulnya yang diminta yayasan ialah bantuan berupa renovasi gedung. Namun dari pihak Kemen-PUPR hanya ada program bantuan gedung. Sehingga, konsepnya STW menyediakan lahan untuk menerima bantuan gedung sesuai kapasitas yang dibutuhkan.

”Sehingga dirumuskan pada 2016, kami mendapatkan bantuan gedung tiga lantai berkapasitas 90 unit kamar dengan luas 24 meter persegi (m2),” ujarnya.

Pada proses perencanaan, pihak STW pun dilibatkan, sehingga banyak masukan yang bisa diberikan kepada Kemen-PUPR terkait spesifikasi yang disesuaikan dengan karakteristik lansia.

Ibnu menjelaskan, di sini membuktikan bahwa ada beberapa fasilitas-fasilitas yang harus terpenuhi dan berorientasi kepada keamanan, kenyamanan serta aksesibilitas bagi para lansia.

”Fasilitas lift, tangga untuk lansia, kemudian disediakan untuk kondisi kedaruratan, misalkan mati lampu, bencana alam yang tidak mungkin mengakses lift untuk mereka yang memiliki keterbatasan atau menggunakan kursi roda dan sebagainya,” urainya.

Terkait keamanan dan kebutuhan lansia di dalam gedung, Ibnu menuturkan, pada setiap ruangan terdapat hand rail, yang dipasang untuk lansia agar dapat berpegangan. Selain itu, kebutuhan seperti ruang makan, ruang kegiatan serta ruang teater juga disediakan.

Kemudian di dalam kamar juga telah dibentuk sedemikian rupa, mulai dari ventilasi udara yang relatif besar, daun pintu yang lebar agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan proses evakuasi tidak sulit, hingga bagian tempat tidur furniturnya di-setting tidak terlalu tinggi maupun pendek.

”Jadi para lansia bisa terfokus dalam ruangan dan bisa melakukan aktivtas seperti menonton bersama, mendengarkan musik, maupun untuk kebutuhan spiritual, CCTV 24 jam juga turut terpasang,” terangnya.

Ibnu menambahkan, rusun ini merupakan percontohan pengeloaan rusun bagi para lansia di Indonesia. Karena, tidak hanya anak muda milenial yang perlu diperhatikan, lansia saat ini juga banyak kegiatannya yang perlu diperhatikan.

”Mulai dari olahraga pagi, berkreasi dengan membuat karya seni, bermain musik serta ’day care’ bagi para lansia yang berada di sekitar rusun juga ada,” pungkasnya.(cr2/c)