Beranda Metropolis Sedih Ditinggal Istri, Nendra Jadi Musafir Keliling Jawa

Sedih Ditinggal Istri, Nendra Jadi Musafir Keliling Jawa

MINTA BANTUAN: Nendra Nurfiriandi (kiri) saat mendatangi Baznas Kota Bogor dan mengaku kehabisan uang saat berkeliling Pulau Jawa.
Frustrasi tidak melulu berujung bunuh diri. Seperti yang dialami Nendra Nurfiandi (35). Guru honorer ini memilih jadi ibnu sabil atau musafir sejak ditinggal sang istri. Dia mencari ilmu agama dari kota ke kota hingga akhirnya sampai di Kota Bogor. Bagaimana kisahnya?
Laporan:  M. Aprian Romadhoni
Pria yang dipanggil Andi ini baru saja mengurus surat pengantar dari Polsek Bogor Timur. Ia mengaku, kehabisan perbekalan uang. Keterangan polisi itu digunakannya untuk meminta bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bogor.
Kepada Radar Bogor, pria ini merawikan kisah pilu yang dialaminya. Pada awal 2017 tepatnya April siang itu, Andi tak mendapati istri dan anak lelakinya di rumah. Dua bulan berselang, ia mendapat kabar dan nomor telepon sang istri.
Namun bak tersambar petir, yang mengangkat adalah seorang laki-laki. “Dia mengaku suami dari istrinya. Waktu mau mencari nomor itu sudah tidak aktif. Saya sedih kalau ingat itu,” tuturnya tersedu.
Selepas Idul Fitri kemarin, Andi memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Selain berziarah di pusara orang tuanya, ia merajut kembali ilmu agama di pondok pesantren, di Jombang.
Selepas itu, hasil salat istikarah, dirinya mengambil keputusan untuk merajut kehidupan baru di wilayah lain. Dengan tekad kuat, Andi merapikan beberapa stel pakaian dan memasukkannya ke tas punggung.
Namun sebelum mencari kota untuk melangsungkan hidupnya,  Andi ingin mendatangi makam para penyebar Islam di Pulau Jawa. Mulai Sunan Ampel,  Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati. Hingga akhirnya, Andi mengunjungi makam Syeh Hasan di Cicurug, Cijeruk. Dari lokasi ini, guru itu singgah di masjid namun tersasar di Kota Bogor.
“Saya kehabisan ongkos, jadinya jalan kaki dari sana (Cicurug) dan singgah di masjid. Saya mau ke Baznas,” tuturnya.
Dari Kota Bogor, Andi berencana melanjutkan hidup baru di Kota Santri, Tasikmalaya. Ia juga membawa ijazah sarjananya, dari Jurusan Pindidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Lambung Mangkurat. Salah satu universitas negeri ternama di Kalimantan.
“Saya masih bingung mau mengajar di mana. Rencana dari sini saya mau ke Tasik. Mencoba mencari pekerjaan di sana,” kata guru yang pernah mengajar di sekolah dasar selama enam tahun itu.
Kini Andi meninggalkan rumahnya di Perumahan PT Singalend Asetama, Kelurahan Gantung, Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Sementara itu, setibanya di Baznas Kota Bogor, Andi diterima Wakil Ketua Komisioner Dua Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Rusli Saimun. Menurut Rusli, ibnu sabil adalah orang dalam perjalanan yang berhak menerima zakat.
Namun, Baznas akan selektif mengklarifikasi kebenaran ibnu sabil sendiri. Hal ini mengingat banyaknya yang mengaku ibnu sabil mulai dari identitasnya. Sebab, ada ibnu sabil yang palsu, hanya mengaku untuk mendapatkan uang. Seharinya, rata-rata Baznas membiayai 7 sampai 10 orang. “Kami pastikan dulu. Nanti kami biayai mulai dari makan hingga perbekalan sampai ke kota tujuannya,” katannya.(/c)