Beranda Metropolis Kisah Perawat Rumah Sakit PMI di Pengungsian Rohingya

Kisah Perawat Rumah Sakit PMI di Pengungsian Rohingya

Nelvi/radar bogor
MISI KEMANUSIAAN: Iwan dan Khusnul Nugrahini (Nunik), dua perawat Rumah Sakit PMI Bogor yang dikirim ke camp pengungsian Rohingya di Bangladesh belum lama ini.

BOGOR – RADAR BOGOR, Di tengah situasi yang rawan, Khusnul Nugrahini tetap gigih menjalani profesinya sebagai perawat. Perempuan kelahiran Bogor 1981 ini bersama rekannya Iwan ditugaskan menjadi relawan di daerah pengungsian Rohingya. Seperti apa kisahnya?

Oleh: Usman Azis

Sejak pukul 08.30 WIB, antrean pengungsi Rohingya menjadi peman­dangan yang selalu terlihat di posko cross border, posko kesehatan di Distrik Coxs Bazar, Bangladesh. Para korban kejahatan kemanusiaan ini datang dengan aneka ragam penyakit. Dari luka bekas tembakan hingga penyakit dalam.
Para pasien yang sekiranya harus menerima perawatan segera dilarikan ke poli rawat posko relawan. Namun, karena keterbatasan ruang dan obat, membuat protokol menentukan batas maksimum pasien yang harus mendapat tindakan medis segera.

universitas nusa bangsa unb

Ingatan itu mengawali kisah Khusnul, satu perawat yang juga relawan dari RS PMI yang ikut misi kemanusian di Rohingya. Nunik –sapaannya- ditugaskan bergabung dengan para tim medik dari berbagai negara untuk menangani para pengungsi yang sakit di posko kesehatan area perhutanan karet. Dengan keterbatasan, Nunik dengan timnya harus memanfaatkan fasilitas dan obat-obatan yang ada. “Di sini serba ada, kalau di sana memanfaatkan yang ada,” kata jebolan Akademi Pera­wat Wijaya Husada 2013 ini.

Perjalanan yang dimulai sejak 26 Desember hingga 28 Januari ini, dianggapnya paling berkesan. Sebab, kasus kemanusiaan di Rohingya banyak menyita perhatian para pegiat sosial dan tak banyak yang dapat pergi ke lokasi dan memberikan pertolongan. “Saya dapat kesempatan ini. Dan itu saya anggap keberun­tungan,” katanya.

Karena itu, meskipun tugasnya cukup menyita tenaga, Nunik tetap melayani pasien yang datang dengan senang hati dan fokus. “Mulai buka sampai jam sembilan malam, yang datang bisa 190 pasien. Semua harus kami layani,” kisahnya.

Beberapa persoalan kerap kali diselesaikannya dengan cara yang baru ia lakukan. Seperti saat menghadapi cuaca ekstrem, membuatnya harus menahan buang hajat kecil hingga berjam-jam.

“Kalau keluar malam toilet tidak terlihat. Karena lingkungan sudah ditutupi kabut. Jadi, harus pandai mengatur minum, jangan sampai buang hajat di saat tidak tepat,” tuturnya.

Saat siang hingga sore hari, cuaca mencapai 22 derajat Celsius. Kemudian saat jarum jam menunjukkan pukul 19.00 suhu mencapai 2 derajat Celsius. Kondisi cuaca itulah yang membuat banyak relawan sakit.

Ia bercerita, pernah satu malam sekitar pukul 01.00 di area camp perkemahan. Saat beristirahat dan tiba-tiba hendak buang air kecil, Nunik terpaksa melawan takutnya untuk keluar dari perkemahan. Saat keluar, tak ada yang ia dapat lihat kecuali gumpalan kabut.

Tebalnya kabut membuat wc umum yang tersedia tak terlihat. Meskipun jarak wc dengan campnya tak terlampau jauh. “Jaraknya hanya lima meter dan toilet diberi warga merah terang. Tetap saja tidak bisa saya lihat,” tukasnya. Usai insiden itu, Nunik berusaha mengatur waktu untuk meng­hila­ngkan dahaganya. Berharap, agar waktu-waktu istirahatnya tak tertanggu buah hajat.

Tak hanya itu, Nunik juga pernah mengalami kejadian menegangkan. Saat serdadu militer dari pemerintah hendak memasuki posko pengobatan. Namun, para pria bersenjata itu dapat mengurungkan niatnya. “Kami coba jelaskan bahwa, area ini dilarang untuk dimasuki militer bersenjata. Untungnya mereka bisa memahami aturan tersebut,” tuturnya.

Selain itu, sempat terdengar isu pengembalian pengungsi ke tempat tinggalnya. Hingga membuat para pengungsi takut dan m­embuat suasana mence­kam hingga sempat terjadi blokade. Beberapa tanta­ngan itu mampu dilaluinya. Dengan kesabaran dan kekompakan tim, Nunik menjalani tugasnya tanpa ekses yang merugikan dan fatal.
Dalam misi itu juga membuat Nunik banyak mengenal karakter perawat di manca­negara. Seperti Swiss, Norwegia, Selandia Baru dan Hongkong. Para perawat mancanegara itu bersama Nunik bersinergi membantu para pengungsi. “Kita komunikasi dengan baha­sa Inggris. Tetap kadang punya kesulitan saat menghadapi para pasien,” ujarnya.

Meski terdapat penerjemah bahasa yang menjelaskan maksud dari para dokter dan perawat pada pasien, tak jarang informasi tak sesuai dengan harapan dokter dan perawat.

Sementara itu, perjalanan tugas kemanusiaan yang dilakoni Nunik bukan kali pertama. Dalam menggeluti profesinya sebagai perawat, Nunik dipercaya terbang ke mancanegara dengan mengemban misi kemanusiaan. Dia pernah beberapa kali menjalani misi pertolongan pada korban bencana di negara lain, seperti Myanmar pada 2012, Filipina pada 2013, dan Banglades. “Dari semua itu, yang paling berkesan adalah tugas ini (Rohingya, red),” katanya.

Keberhasilan misi tersebut, kata Nunik, ditunjang dari beberapa pelatihan yang dilakukan olehnya. Baik di dalam maupun luar negeri. Karenanya, antara ujian praktik di bangku perkuliahan dan pelatihan tak berbeda jauh dengan kondisi di lapangan.

“Semua yang saya lakukan sesuai dengan apa yang ada di pembekalan atau pelatihan yang sudah kami terima. Jadi, semua lancar-lancar saja,” tuturnya.

Di balik cerita kegigihan Nunik menolong orang lain, ada cerita kegigihan sang ibu dalam mengarahkannya untuk lebih maju. “Jika saja saya tidak menuruti keinginan ibu saya untuk menjadi perawat, saya tidak akan bisa berbuat banyak untuk orang lain dan melangkah sejauh ini,” tukasnya.(/c)