Beranda Female Sehat dan Percaya diri jadi Kunci Kulit Eksotis

Sehat dan Percaya diri jadi Kunci Kulit Eksotis

ilustrasi

BOGOR-RADAR BOGOR, Indonesia dianugerahi beberapa warna kulit yang berbeda. Ada yang putih, kuning langsat, dan sawo matang. Tiap warna kulit memancarkan keunikan dan kecantikannya masing-masing.

CANTIK itu harus putih. Hal tersebut tentu tidak benar. Di berbagai belahan dunia, terdapat macam-macam warna kulit. Ada kulit putih bak porselen seperti masyarakat Eropa dan Amerika. Atau, kulit putih kekuningan seperti masyarakat Asia Timur (Tiongkok, Korea, Jepang).

Di Indonesia, ada tiga jenis warna kulit yang paling banyak. Yakni, kuning langsat, sawo matang, dan hitam. Umumnya perbedaan warna kulit itu disebabkan adanya campuran ras.

universitas nusa bangsa unb

Misalnya, kulit putih di Indonesia biasanya dimiliki orang berdarah campuran Tiongkok dan Indonesia. Sedangkan kulit hitam biasanya ada pada masyarakat Indonesia bagian timur.

Berbicara tentang warna kulit tentu berkaitan dengan jumlah pigmen di dalamnya. ”Semakin gelap warna kulit, tentu pigmennya semakin banyak,” terang dr Leni Kumalasari Dipl AAAM.

Clinic director Emdee Clinic Surabaya itu menuturkan bahwa pigmen bekerja seperti batu yang melapisi permukaan tanah. Pigmen melindungi kulit lapisan bawah.

Semakin banyak pigmen, akan banyak sinar matahari yang terserap. Dengan begitu, kulit lapisan bawah lebih terlindungi. ”Tuhan itu menciptakan adil kok. Di Indonesia kan iklimnya tropis, makanya warna kulitnya cenderung gelap untuk melindungi dari paparan matahari yang cukup kuat,” ungkapnya.

Sedangkan di Eropa, lanjut dia, sinar matahari tidak begitu kuat terpancar. Karena itu, kulit putih porselen dengan pigmen sedikit pun tidak terlalu bermasalah. Karena minim pigmen, kulit yang putih biasanya tidak mudah terbakar.

Reaksi terhadap sinar matahari yang muncul, biasanya kulit menjadi bersemu merah. ”Juga rentan timbul flek. Kalau kita lihat kan bule itu sering ada flek di bagian dadanya,” kata Leni.

Sebaliknya, kulit berwarna gelap akan lebih mudah terbakar. Karena itu, warna kulit tidak bisa menjadi tolok ukur kecantikan. Adanya stereotipe bahwa cantik itu putih justru ”memaksa” perempuan untuk menjadi putih. Akibatnya, hasilnya menjadi tidak alami.

Leni menyebutkan, banyak sekali perempuan yang ingin kulitnya menjadi lebih putih. ”Ada yang mau suntik vitamin C dosis tinggi sampai memakai krim dengan kandungan hidroquinon yang berlapis-lapis,” ungkapnya.

Hal itu justru membahayakan tubuh dalam jangka panjang. Di masa tua nanti, ada ancaman kanker. Sekarang, ketika rutin mengaplikasikan saat masih muda, mungkin belum terasa apa-apa.

Dia berpesan agar perempuan Indonesia lebih menghargai warna kulitnya. Serta, menjaga kesehatan dan kebersihannya. ”Mau putih, sawo matang, kuning langsat, apa pun itu kalau kulitnya sehat, pasti aura cantiknya keluar dan harus percaya diri,” tegasnya. (adn/c7/nda)