Beranda Berita Utama Neni Muhidin, Pembangkit Semangat Literasi dan Petani Kopi di Sulteng

Neni Muhidin, Pembangkit Semangat Literasi dan Petani Kopi di Sulteng

OPTIMISTIS: Neni Muhidin saat ditemui di rumahnya sekaligus perpustakan dan kedai kopi dengan nama Kedai Kopi Buku Komunitas Nemu Buku di Jalan Tanjung Tururuka, Kelurahan Lolu, Palu Sulteng (27/1).

Pulang ke kampung halaman di Palu membuat Neni Muhidin bisa melakukan banyak hal. Mulai membangkitkan budaya literasi masyarakat hingga mengedukasi para petani kopi lokal.

Gunawan Sutanto, Palu

SEORANG lelaki sibuk di meja panjang di samping rumah di ujung Jalan Tanjung Balantak, Palu. Lelaki muda itu memilah biji kopi yang disebar di tampah. Green bean yang mengalami defect dan menghitam disisihkannya.

universitas pakuan unpak

Tak lama kemudian, datang seorang perempuan membantunya. Perempuan itu sebelumnya memilah-milah buku, tak jauh dari tempat si lelaki muda beraktivitas. Keduanya merupakan relawan Nemu Buku. Sebuah perpustakaan yang digagas Neni Muhidin.

Tak berapa lama kemudian, Neni Muhidin, si empunya rumah, datang dengan mengendarai motor bebek. Sempat melihat koleganya memilah kopi, dia lalu mengajak ngobrol di bagian depan rumahnya yang dipenuhi meja memanjang.

Meja-meja itu difungsikan sebagai tempat nongkrong di kedai kopinya. Sebelum kedai kopi berdiri, meja-meja itu hanya jadi tempat ngobrol seputar buku dan film. Neni dan buku memang satu hal yang tak bisa dipisahkan.

Sejak 10 tahun lalu Neni men­dirikan perpustakaan di rumahnya sekembali dari merantau di Tanah Pasundan, Bandung. Perpustakaan itu diberi nama Nemu Buku. Akronim Neni Muhidin. ”Sekarang aktivitas kami ya buku, ya kopi,’’ ujar Neni sembari menyuguhkan secangkir kopi susu yang diseduh dengan Vietnam drip.

Penulis sejumlah buku itu lantas membuka perbincangan soal perpustakaannya yang kini memiliki 5.000-an judul buku. ’’Sejak kuliah di Bandung, sebe­narnya kegiatan saya ya seputar ini (perpustakaan),’’ kata alumnus hubungan internasional FISIP Universitas Pasundan itu.

Hobi mengumpulkan buku membuatnya tergerak membuat perpustakaan swadaya di Bandung. Ketika asyik dengan kegiatan literasinya di Kota Kembang tersebut, Neni diminta pulang oleh ibundanya.

Anak kedua di antara tiga bersaudara itu tentu tak bisa menolak. Sebab, tak ada saudaranya yang bisa menemani sang bunda. ’’Kebetulan, saudara-saudara saya dapat pekerjaan di luar Palu,’’ ungkapnya.

Perantauannya pun berakhir. Neni memutuskan pulang ke kota Mutiara Khatulistiwa itu dengan membawa ribuan judul buku koleksinya.

Sesampai di Palu, Neni memu­tuskan untuk tetap melanjutkan membuat perpustakaan swadaya. Pada 2007, Nemu Buku resmi berdiri. Lewat perpustakaan itu, Neni ingin mengem­bangbiakkan budaya literasi di kota kelahirannya.

’’Kata ibu, sudahlah, kau pakai saja rumah ini tidak apa-apa,’’ ungkap pria yang pernah mengambil kelas ekstensi filsafat di Universitas Parahyangan tersebut. Dan jadilah beberapa bagian rumah dijejali dengan rak-rak buku.

Neni sengaja tak terlalu mengo­mersialkan perpustakaannya. Mereka yang berminat menjadi anggota hanya diminta membayar Rp50 ribu. Setelah itu, mereka bisa meminjam buku apa pun. Tapi, per minggu dibatasi dua buku.

’’Awal-awal ya berat karena banyak buku yang dipinjam, tapi tak kembali. Jadi, harus beli judul yang sama berulang-ulang,’’ ungkap pria yang produktif menulis buku dan puisi tersebut.

Berbagai cara dilakukan Neni untuk menumbuhkan minat baca masyarakat, terutama anak-anak muda di Palu. Mulai rajin menggelar road show taman baca sampai nonton dan review film. ’’Seusai nobar, saya lanjutkan dengan diskusi. Lalu, mendorong anak-anak untuk menuliskannya. Saya ingin menumbuhkan sikap kritis pada mereka,’’ tuturnya.

Dari kegiatan itu, Neni sempat menyelenggarakan workshop membuat film pendek. Pembicaranya dihadirkan dari Jakarta. Beberapa film pendek dari tangan-tangan berbakat anak muda di Palu dan sekitarnya lahir dari kegiatan tersebut.

Bukan hanya itu. Sejak dua tahun lalu, Nemu Buku punya program yang diberi nama Hagala Buku. Kegiatan tersebut menjembatani para donatur buku untuk menyumbang buku di tempat-tempat terpencil. ’’Saat ini sudah ada lima taman baca. Terdapat di Kabupaten Banggai Laut, Morowali Utara, Poso, dan Sigi,’’ katanya.
Di Banggai Laut, taman baca terdapat di Pulau Labobo. ’’Di sana belum ada sinyal,’’ imbuhnya.

Di setiap taman baca, setidaknya disediakan 100–120 buku dengan jenis ensiklopedia anak dan fiksi remaja. Neni menargetkan, di setiap kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah ada tempat terpencil yang bisa didirikan taman baca lewat program Hagala Buku.

Kini upaya Neni tak berhenti pada urusan literasi. Sejak beberapa bulan terakhir, dia punya aktivitas baru. Yakni, mengedukasi petani kopi di Sulawesi Tengah. Sekaligus mengedukasi masya­rakat sekitar Palu soal ngopi. ’’Agar mereka mengenal betul asal usul kopi yang diminumnya,’’ tegas Neni.

Masyarakat Palu memang secara turun-temurun sudah punya bu­daya minum kopi. Warung-warung kopi sejak lama berdiri. Bahkan ada yang merupakan warisan orang-orang Tionghoa yang dulu memang berbisnis kopi di Donggala, Palu, dan sekitarnya.

Budaya ngopi masyarakat Palu sama dengan kebanyakan masyarakat Melayu dan pecinan. Kedai-kedai kopi di sana menganut aliran kopitiam. Menyajikan kopi yang diseduh dengan tarikan dari teko dan saringan kain panjang.

Neni ingin mendorong para petani memaksimalkan penanaman dan pengolahan robusta. Sebab, untuk bersaing di penanaman dan pengolahan arabika, para petani setempat sudah tertinggal jauh dari petani di daerah lain seperti Toraja.

’’Tidak apa-apa, para petani di Sulteng ini mainnya di fine robusta saja. Saya berharap kelak orang dari daerah atau negara lain tahunya kopi Sulawesi tak hanya Toraja,’’ ujarnya. Neni dan komunitas di Palu juga sempat menggelar festival kopi untuk mengenalkan kopi-kopi dari tanah Sulawesi Tengah. (*/c5/oki)