Beranda Uncategorized Blind Date Cinema, Bioskop Khusus bagi Penyandang Tunanetra

Blind Date Cinema, Bioskop Khusus bagi Penyandang Tunanetra

BERDAMPINGAN: Tania Samantha (kanan) di sela-sela pemutaran film untuk tunanetra di Blind Date Cinema, Jakarta Selatan, Minggu (14/1).

Blind Date Cinema bukanlah bioskop biasa. Hanya memutar film sebulan sekali setiap Minggu kedua. Penontonnya pun khusus untuk penyandang tunanetra.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

Adalah Tania Samantha yang menggagas bahwa penyandang tunanetra pun bisa nonton kapan pun dan di mana saja. Keyakinan tersebut dibuktikan melalui Blind Date Cinema. Sebuah bioskop khusus bagi penyandang tunanetra. Januari tahun lalu menjadi awal perjalanan Tania bersama sinema yang masih bernama Bioskop Bisik itu. Tempatnya di Paviliun 28, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

universitas pakuan unpak

Sejak itu, nonton bareng penyandang tunanetra dilaksanakan rutin. Sekali sebulan, setiap Minggu kedua. Konsisten sampai saat ini. Kepada Jawa Pos, dia mengisahkan kembali alasan kuat yang membuat dirinya bersusah payah mempertahankan Blind Date Cinema setahun belakangan. ”Karena kita harus hidup berdampingan dengan penyandang disabilitas,” ucap perempuan yang akrab dipanggil Nia itu.

Dia percaya, keterbatasan tidak lantas menghalangi mereka berbuat lebih dari yang lainnya. Termasuk penyandang tunanetra yang selalu ingin menikmati film. Sebelum menjalankan Blind Date Cinema sebagai program sosial, Nia sama sekali tidak pernah bersentuhan langsung dengan penyandang disabilitas. Namun, semua berubah ketika salah seorang temannya bercerita tentang penyandang tunanetra yang hobi nonton film.

Adalah Cici Suciati yang menceritakan itu kepada Nia. Kali pertama mendengar cerita tersebut, dia sempat bingung. Bagaimana mungkin seorang penyandang tunanetra bisa menonton film. Pertanyaan itu terjawab setelah dia berjumpa langsung dengan penyandang tunanetra yang dimaksud Cici. Ternyata bukan hanya satu atau dua orang. Melainkan banyak penyandang tunanetra di tempat Cici bekerja yang hobi nonton film. Dari sana, Nia tergugah. Dia langsung menyanggupi begitu Cici bertanya apakah Paviliun 28 bisa memfasilitasi penyandang tunanetra nonton bareng.

Sebagai kedai yang juga art space dan ruang publik, menurut Nia, Paviliun 28 cocok dijadikan bioskop untuk para penyandang tunanetra. Untuk itu, dia tidak ragu menjadikan Blind Date Cinema sebagai salah satu bagian dari program creative social responsibility yang dilaksanakan pengelola art space tersebut. Apalagi, ketika Blind Date Cinema kali pertama berjalan, belum ada yang punya program serupa. Beruntung, Nia punya banyak jaringan. Karena itu, program yang dibuat khusus untuk penyandang disabilitas tersebut bisa dimulai. Diawali membangun bioskop mini di pojokan Pavilion 28, program itu melangkah perlahan.

Ruangannya tidak besar. Hanya cukup untuk 40 orang. ”Idealnya 20 penyandang tunanetra, 20 relawan pembisik,” ucap dia. Layaknya bioskop pada umumnya, tempat duduk penonton dibuat berundak-undak. Dengan pengeras suara di setiap sudut ruangan, penyandang tunanetra maupun relawan pembisik bisa mendengar jelas setiap bunyi dari film yang diputar. Kualitas suara menjadi penting lantaran itu dibutuhkan agar penyandang tunanetra bisa merasakan atmosfer film yang mereka nikmati.

Pavilion 28 menempatkan proyektor di bagian belakang bioskop. Lengkap dengan layar di bagian paling depan. Fungsinya untuk membantu relawan pembisik menceritakan adegan, kondisi, situasi, dan berbagai macam hal yang muncul di monitor tersebut saat film diputar. Di bioskop itulah saban bulan Nia nonton bareng bersama penyandang tunanetra dan relawan pembisik. Terakhir dia menyelenggarakannya pertengahan bulan lalu. Tepatnya pada Minggu, 14 Januari. ”Ada lima film pendek yang diputar,” tutur perempuan berambut sebahu itu.

Satu film karya Kiki Febriyanti berjudul Calalai In Betweenness dan empat film lainnya karya Orizon Astonia. Yakni, Pingitan, Lewat Sepertiga Malam, Gadis Berkerudung Hitam & Manusia Serigala, serta Pelacur & Seekor Anjing. Biasanya memang hanya satu film yang diputar setiap kali nonton bareng dilaksanakan. Namun, pertengahan bulan lalu tidak demikian. Sebab, film yang diputar adalah film pendek dengan durasi yang tidak terlampau panjang. Alhasil, Blind Date Cinema bisa memutar lebih banyak film.

Seperti biasa, nonton bareng dilaksanakan saat siang. Dimulai sekitar pukul 12.00 WIB. Rombongan penyandang tunanetra dari Yayasan Mitra Netra tiba di Pavilion 28 bersamaan sebelum pemutaran film. Disusul relawan pembisik yang bergantian sampai. Layaknya kerabat dekat, Nia menyapa mereka satu per satu. Menanyakan kabar sambil sedikit berbagi canda. Meski ada yang baru pertama ikut nonton bareng, sebagian sudah sering hadir. Karena itu, dia tidak pernah lupa menyisipkan salam perkenalan dari relawan pembisik kepada penyandang tunanetra.

Salam perkenalan itu wajib. Sebab, setiap tunanetra harus kenal dengan pembisik mereka sebelum masuk bioskop. Demikian pula sebaliknya. Dengan begitu, mereka tidak akan canggung ketika nonton bareng. Berjam-jam duduk bersebelahan sambil terus berinteraksi. Ya, seperti sebutannya, relawan pembisik bertugas membisikan setiap hal yang muncul dalam layar bioskop. Tidak harus semua memang. Tapi, semakin banyak semakin baik. ”Mengalir saja, nggak kaku,” ucap dia ketika ditanya bagaimana penyandang tunanetra bisa menikmati film di bioskop.

Karena itu, Nia tidak pernah banyak obrol apabila ada yang berminat jadi relawan pembisik tapi belum punya pengalaman sama sekali. Dia hanya meminta kesediaan mereka untuk datang, kemudian diberi sedikit penjelasan dan dikenalkan dengan para penyandang tunanetra. Setelah itu, mereka nonton bareng. ”Relawan pembisik jadi mata untuk penyandang tunanetra,” imbuhnya. Meski tidak banyak yang dijelaskan Nia kepada relawan pembisik, mereka bisa melaksanakan tugas dengan baik. Menyampaikan sebanyak-banyaknya yang mereka lihat kepada penyandang tunanetra.

Lantaran sangat sederhana, banyak relawan pembisik yang datang berkali-kali. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian nonton bareng di luar Blind Date Cinema bersama penyandang tunanetra yang mereka dampingi. Itu terjadi karena Nia juga tidak pernah lupa meminta relawan pembisik bertukar nomor telepon dengan penyandang tunanetra. Tujuannya tidak lain agar hubungan mereka tidak putus setelah nonton bareng selesai. Melainkan terus berlanjut. ”Karena mereka (penyandang tunanetra) juga punya WA (WhatsApp). Mereka sudah terbiasa dengan itu,” kata Nia.

Siapa sangka, dari niat baik tersebut, Blind Date Cinema menjadi jalan bagi seorang penyandang tunanetra dan relawan pembisik untuk menjalin hubungan lebih serius. ”Ada yang jadian. Tahun ini rencananya menikah,” tutur Nia. Pasangan yang dia maksud adalah seorang penyandang tunanetra bernama Alent dan relawan pembisik bernama Osse Kiki. Keduanya kini rutin hadir setiap kali Blind Date Cinema memutar film. Termasuk dalam nonton bareng terakhir pertengahan bulan lalu. Sejak Oktober 2017, sudah empat kali mereka datang bersama.

Nia yakin Alent dan Kiki juga sering nonton bareng di luar. Sebab, mereka sudah terbiasa nonton berdua. Kisah keduanya hanya satu di antara banyak cerita penyandang tunanetra dan relawan pembisik lainnya. Meski tidak tahu secara terperinci seberapa jauh hubungan masing-masing penyandang tunanetra dan relawan pembisik, Nia amat bahagia lantaran upaya yang dia lakukan punya manfaat untuk banyak orang. Karena itu, dia amat sayang dan semakin kukuh mempertahankan program tersebut di Pavilion 28.

Meski tidak sedikit kendala harus dilalui, Nia tetap jalan. Dia tidak segan berulang-ulang menghubungi kreator film untuk meminta izin agar bisa memutar film yang mereka buat di Blind Date Cinema. Mulai kreator film indie sampai film layar lebar. Bukan hanya itu. Dia juga selalu bersemangat setiap kali harus mengajukan proposal kepada rumah produksi untuk mendapat lampu hijau supaya setiap bulan ada film yang bisa dimainkan di bioskop kesayangannya. Walau tidak selalu berjalan mulus, dia percaya setiap kebaikan punya jalan untuk sampai tujuan.(*/c10/oki)