Beranda Metropolis Yang Berbeda dari Nongkrong di Waroeng Re Poeblik

Yang Berbeda dari Nongkrong di Waroeng Re Poeblik

AJAK BERBAGI: Budiman Nityo bersama sang istri, Indras Wari di warung kuliner mereka.

Mayoritas pebisnis biasanya bicara untung rugi. Berbeda jika Anda berkunjung ke Waroeng Re Poeblik yang didirikan Budiman Nityo Hendrianto (40) dan istrinya, Indras Wari (36). Usaha yang memadukan kafe kopi dan UMKM ini, menyumbangkan hasil usahanya untuk para penghafal Alquran.

Laporan :
M.Aprian Romadhoni

Berlokasi di Jalan Ahmad Yani Bogor, Waroeng Re Poeblik didirikan seorang penekun IT lulusan Gunadarma dan Muhammadiyah Jakarta. Mereka menamakan usaha kulinernya dengan Gerakan Ekonomi Sedekah.

universitas pakuan unpak

“Pengusaha menitikberatkan pengusaha muslim, suatu sistem hijrah dari ekonomi kapitalis, ke ekonomi syariah,” ujar Budi membuka pembicaraan saat dikunjungi Radar Bogor, Rabu (31/1) lalu.

Budi menjelaskan, konsep warungnya ini bagaimana mengubah ekonomi yang ribawi ke ekonomi syariah. Nama Re Poeblik sendiri berasal dari kata, re berarti kembali dan publik adalah ruang publik masyarakat. Lokasi ini menyajikan semikafe dengan produk kopi dan roti bermerek Re Poeblik.

“Di sini ada produk UMKM juga, roti republik. Kami ingin mengajak konsumen bersedekah 10 persen,” terangya.

Sebelum terjun ke dunia usaha syariah, Budi adalah seorang ahli IT yang sudah terjun di 20 perusahaan. Namun, hidayah akan dosa riba mengantarkannya hijrah pada 2015. Termasuk melepas semua hidup dan usahanya dari bunga.

Pada zaman Rasul sendiri, beliau mengajarkan umat Islam untuk berdagang. Kisah itu dirawihkan pada saat Madinah berkembang maju pesat dengan masyarakatnya sama seperti di Mekkah. Di dalam Gerakan Ekonomi Sedekah ini, lanjutnya, para pengusaha muslim menjauhi riba, atau bunga.

Nantinya, para pengusaha memberi kesempatan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha. Dengan pinjaman tanpa batas waktu yang dananya dikumpulkan dari sedekah dan pemodal. “Jadi, pinjam 500 ribu ya dikembalikan segitu juga, tanpa batas waktu, seumur hidup. Dan kami lihat perkembangan usahanya. Kami juga menaungi pengusaha yang sedang berusaha mengurus izin produknya,” kata Budi.

Gerakan Ekonomi Sedekah ini mengantarkannya bersama komunitas yang memiliki visi sama, yakni berkah dan amanah. Di mana setiap Selasa, selain berdagang, para komunitasnya menggelar diskusi usaha, pengajian, dan majelis ilmu Islam.

“Selasa pengajian jam 9 sampai zuhur. Wajib baca Alquran. Jumat memberikan berkah kepada yatim. Rabu dan Sabtu belajar tahsin,” terangnya.
Sedekah akan disalurkan melalui beberapa program. Misalnya, Jumat Berkah, setiap Jumat menyalurkan nasi boks untuk pondok pesantren dan dana bantuan. Seperti yang rutin dilakukan di Pondok Pesantren daerah Cimanglid, Ciapus, Darul Marhamah Lil Aitam.

Di sana ada 35 anak sekolah dasar tahfiz Quran dan 150 anak dari pesanten An-Annur. “Setiap hari pesantren gratis ini terkadang harus memutar otak agar anak-anak yatimnya bisa makan. Mereka kadang makan nasi dan rempeyek saja,” ungkapnya.

Lanjut Budi, dari satu butir nasi yang disedekahkan melahirkan 700 kebaikan dari Allah. Dari doa para yatim memanjatkan kebaikan bagi shidiqin sampai akhir hayat, dan menjadi saksi kebaikan di akhirat kelak.(*/c)