Beranda Bogor Raya Tekan Tawuran, Patroli di Jam Rawan

Tekan Tawuran, Patroli di Jam Rawan

LANJUTKAN PROGRAM: Acara pisah sambut Kapolsek Gunungputri. Kapolsek baru, Kompol Yudi Kusyadi akan fokus menjaga kamtibmas, termasuk mencegah aksi tawuran.

GUNUNGPUTRI–Aksi tawuran yang terjadi di wilayah Gunungputri menja­di prioritas Kapolsek anyar, Kompol Yudi Kusyadi. Pria asal Bandung ini meni­lai bahwa kejadian tersebut tak boleh lagi terjadi di wilayah hukum­nya. Ia pun akan memaksimalkan jam pat­ro­li anggota di waktu-waktu yang diang­gap rawan.

“Patroli akan ada di jam rawan, kalau siang hari sekitar pukul 13.00 dan 14.00 WIB, kalau malam dini hari hing­ga subuh,” ujar Kompol Yudi kepada Radar Bogor usai melakukan lepas sam­but di Mako Polsek Gunungputri, kema­rin (30/1).

Ia pun tak segan-segan untuk menangkap siswa yang terlibat dalam aksi tawuran. Namun, apabila tidak ada kaitannya dengan pidana, tinda­kan yang dilakukan adalah memanggil orang tua dan sekolah un­tuk melaku­kan pembinaan.

universitas nusa bangsa unb

“Pelaku ta­wu­ran itu hanya ada tiga pilihan, me­nang jadi pembunuh, kalah ja­di korban, dan terakhir tertangkap polisi,” tuturnya.
Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Amin Sugandi mengatakan, aksi remaja saat ini semakin di luar batas. Adat ketimu­ran masyarakat Indonesia yang terke­­nal ramah, juga semakin terki­kis pada jiwa generasi muda. Keti­ka aksi tawuran terjadi, mereka tak lagi memedulikan apa dampaknya. Bahkan, tak segan-segan untuk meng­hilangkan nyawa yang dianggapnya sebagai lawan.

“Kita khawatir mereka akan menjadi apa ke depannya. Karena mereka merupakan aset generasi penerus bangsa, makanya harus dididik, baik secara langsung maupun secara keagamaan,” katanya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) juga perlu mewadahi kreativitas generasi muda. Sebab, permasalahan tidak akan selesai jika tidak dilahirkan suatu solusi. Selain itu, sebagai pendidik, guru juga perlu mengetahui karakter dari masing-masing anak.
Terlebih, ketika anak ketahuan melakukan aksi tawuran, sekolah tak boleh langsung menge­luarkannya, tetapi lebih mengedepankan pembinaan.

“Kalau dikeluarkan harus dipikir­kan juga dampaknya, karena bisa jadi me­re­ka malah semakin tak bisa diatur dan lebih parah daripada ketika di seko­lah,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Ketua MUI Kecamatan Gunung Putri KH Nur Ali mengungkapkan, pendidikan sekolah umum yang paling tepat saat ini mengadaptasi pendidikan di pesantren. Sebab, selama ini belum pernah ada anak santri melakukan tawuran. Menurutnya, tawuran terjadi karena waktu sekolah sedikit sedangkan waktu luang mereka lebih banyak.

“Apa pun alasannya akan sulit untuk menekan angka terjadinya tawuran jika waktu pendidikan mereka masih tetap seperti itu. Konsep full day school sebenarnya bisa menekan itu,” pungkasnya.(rp2/c)