Beranda Bogor Raya Sungai Cisadane Kritis

Sungai Cisadane Kritis

(Nelvi/ Radar Bogor)
KOMPAK: Pelepasan bibit ikan di Sungai Cisadane

BOGOR-Sejumlah komunitas seni, budaya Sunda, pecinta alam, karang taruna dan aparatur Pemerintah Desa Rancabungur berkolaborasi menggagas Lulugu Puseur Cisadane di RT 01/04, Kampung Cagak Lebak, Desa Ranca­bungur, Sabtu (27/17).

Danrem 061 Suryakancana Kolonel Inf Mohamad Hasan mengatakan, dalam kegiatan ini pihaknya mengajak semua elemen agar bisa menjaga dan melestarikan alam.

”Minimal, adanya kegiatan ini ada timbul rasa kepedulian terhadap alam. Karena kami sangat prihatin dengan keru­sakan lingkungan yang tentunya perlu kita jaga,” ujarnya usai menanam pohon. Ia berharap, kegiatan postitif tersebut terus terselenggara dan ke depannya bisa ber­kesi­nam­bungan di tempat yang lain.

universitas nusa bangsa unb

Camat Rancabungur Cecep Iman mengungkapkan, bakal menggerakkan semua desa aga­r meningkatkan pola hidup ber­sih dan bisa menjaga ling­kun­gannya sendiri agar tetap sehat. ”Kegiatan yang berhu­bu­ngan dengan alam, tentu faktor lain seperti PHBS (peri­laku hidup bersih dan sehat) segera ditingkatkan,” katanya.

Kepala Desa Rancabungur, Sumantri yang didaulat sebagai ketua panitia Lulugu Puseur Cisadane mengatakan, kegia­tan tersebut digagas sebagai upa­ya penyelamatan Sungai Cisada­ne, terutama di wilayah Rancabugur, yang masuk bagian tengah daerah aliran sungai.

Sumantri mengemukakan, DAS Cisadane dalam kondisi kritis, lantaran banyaknya warga di bantaran sungai yang membuang sampah hingga limbah industri.

penanaman pohon di RT 01/04, Kampung Cagak Lebak, Desa Rancabungur, Sabtu (27/1).

Selain itu, kondisi tutupan hutan sepanjang DAS Cisadane juga mulai gundul akibat makin terdesak oleh pembangunan dan permukiman masyarakat. ”DAS ini menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga Bogor dan Tangerang. Harus dilestarikan demi keber­lang­sungan ekologis dan kese­jah­teraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Sumantri.

Humas Panitia Lulugu Puseur Cisadane Ahmad Fahir menambahkan, Sungai Cisa­dane memiliki peran sejarah besar pada masa silam Nusan­tara. ”Pada zaman Kerajaan Taruma Nagara yang berpusat di Ciaruteun, Sungai Cisadane telah menjadi lalu lintas orang dan barang. Begitu juga pada era Kerajaan Pakuan Pajajaran,” ujar Ahmad Fahir.

Oleh karena itu, kata Fahir, sungai bersejarah tersebut perlu dilestarikan secara serius oleh semua pihak demi menjaga keberlangsungan ekosistem.
Ketua Karang Taruna Tunas Muda, Ki Mubarok mengatakan, dalam kegiatan Lulugu Puseur Cisadane digagas sejumlah agenda, yakni penanaman pohon, bersih-bersih sampah, pelepasan bibit ikan, kampanye kesadaran lingkungan dan sosialisasi situs-situs bersejarah se-Bogor.

”Kegiatan ini sekaligus soft launching Desa Wisata Paniisan Rancabungur yang digagas untuk melestarikan budaya, alam dan wisata berbasis sejarah” demikian Mubarok.

Sementara, Ki Gatut Susanta dari Bharaya Kujang Pajajaran yang ikut mendorong acara, mengaku sangat senang bisa terlibat di acara lingku­ngan dan budaya seperti ini, dengan slogan ”Kolot miceun runtah, anak-incu balangsak”. Sehingga, ia berharap, budaya buang sampah di Sungai Cisa­dane akan terhenti dengan banyak­nya komunitas yang ikut menjaga. (nal/c)