Beranda Bogor Raya Sukses Pengrajin Limbah Kayu, Awalnya Untung Rp100 Ribu, Kini Puluhan Juta

Sukses Pengrajin Limbah Kayu, Awalnya Untung Rp100 Ribu, Kini Puluhan Juta

KREATIF: Produk hasil limbah kayu Ragaji milik Dani Abdul Madjid yang banyak disukai konsumen.

Demi mewujudkan mimpi, Dani Abdul Madjid (26) tak pernah lelah menghadapi rintangan dalam berusaha. Meski sempat putus sekolah pada 2009, saat beranjak ke kelas tiga SMA karena tuntutan ekonomi, dirinya terus berjuang untuk membawa kehidupan lebih baik ke depannya.

Pria yang akrab disapa Kuping ini patut menjadi contoh anak muda yang hidup dengan bekerja keras. Ia mulai berkarier pada 2012 sebagai pramuniaga, operator studio rekaman, hingga IT support tempat karaoke. Beragam kisah juga pernah dialaminya, seperti hidup di Jonggol tanpa air dan listrik selama dua tahun.

Meski demikian, dirinya tidak patah semangat untuk terus berkarya. ”Saya kerja terus biar bisa bantu orang tua. Alhamdulillah bisa melanjutkan sekolah hingga tamat SMA,” kenangnya.

universitas ibn khaldun bogor uika

Saat lulus SMA, tuntutan ekonomi masih terus menghantui. Ia hidup bersama kedua orang tua dan tujuh saudaranya dalam beratnya hidup. Tidak kehabisan akal, anak kedua dari Maulidi Undito (50) dan Evi Sartika (48) ini ternyata memiliki kemampuan luar biasa hingga membawanya ke jenjang karier yang lebih tinggi, yaitu owner Ragaji. ”Dulu ayah saya kerja serabutan, dia bantu support saya sehingga saya seperti sekarang ini,” tuturnya.

Awal mula membangun Ragaji, dikarenakan gerah terhadap limbah-limbah kayu yang terbuang. Ia pun berinisiatif membuat karya berupa funiture dan suvenir dari bahan-bahan dasar tersebut.

Tak disangka, hasil karyanya pun banyak diminati. ”Tahun 2016 Ragaji saya dirikan sendiri. Awalnya buat huruf-huruf kayu, terus banyak yang memesan. Dan akhirnya dikembangkan jadi usaha kayu limbah dengan berbagai produk,” kata dia.

Ia mengaku, omzet yang diperoleh dulu hanya Rp100-200 ribu per bulan. Seiring berjalannya waktu, tiga tahun belakangan, omzetnya melonjak drastis hingga Rp45 juta. ”Saya tidak mundur untuk berusaha meski ayah saya kena PHK 1998 silam. Tapi berkat support mereka, saat ini saya bisa berdiri dan membantu kebutuhan ekonomi keluarga,” ucapnya.

Ia juga berpesan pada anak muda agar tidak mudah putus asa walaupun memiliki keterbatasan. Karena itu merupakan salah satu hal yang menuntut berpikir kreatif. ”Saya belajar dari keterpurukan dan hal ini yang membuat saya untuk terus berpikir kreatif. Apa pun pasti bisa jadi peluang, namun terus didasari doa dan usaha,” pungkasnya.(cr2/c)