Beranda Bogor Raya 7.486 Balita Derita Pneumonia

7.486 Balita Derita Pneumonia

Klik gambar
CIBINONG–Fenomena p­e­nya­kit pneumonia yang terjadi pada balita di Kabupaten Bogor terbilang tinggi.  Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian dan Pem­berantasan Penyakit Menular dan Tidak Menular (P2M) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Yusnita Sihite mengungkapkan, selama 2017, tercatat penyakit yang membuat penderitanya mengalami sesak napas ini me­nyerang 7.486 balita yang ter­sebar dari 40 puskesmas. ”Data tersebut belum termasuk dari data rumah sakit,” kata dia.
Berdasarkan imbauan Kemen­­terian Kesehatan (Kemenkes), kata dia, untuk penemuan pneumonia, khususnya pada balita, ditargetkan mencapai 10 persen dari jumlah penduduk Kabupaten Bogor yang mencapai 5.155.882 jiwa.
Namun, kata Yusnita, untuk di Kabupaten Bogor di­berikan rumus tersendiri yak­ni target sebanyak 4.62 persen dari jumlah penduduk, sehingga penemuan pneu­monia ditargetkan sebanyak 23.820 balita.
Berdasarkan data tersebut, Yusnita juga menetapkan untuk kawasan Ciawi tercatat paling tinggi balita yang mengidap pneumonia, terutama dari Desa Ciawi, Banjarsari dan Citapen sebanyak 1.567 balita.
”Penyebabnya, penyakit ini terjadi karena diakibatkan polusi, daya tahan tubuh, kuman bakteri, bahkan kondisi lingkungan yang tidak memadai serta rumah tidak memiliki ventilasi. Setiap tahunnya kami menyediakan petugas home care untuk pengecekan ke lapangan, mereka jemput bola untuk menemukan pneumonia pada balita,” terangnya.
Sementara itu, sambung dia, untuk penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara keseluruhan di Kabupaten Bogor tercatat mencapai 58,85 persen dari jumlah warga Kabupaten Bogor.
Lebih lanjut ia mengatakan, ISPA sangat berbeda dengan ­pneumonia, karena sangat berbahaya dan harus cepat mendapat penanganan.
”Kami lakukan penemuan secara dini untuk pneumonia.Masyarakat biasanya diam saja di rumah, tapi petugas home care jemput bola,” terangnya.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor Erwin Suryana berharap, tingkat kesadaran masyarakat tetap tinggi terutama untuk pengobatan ­pneumonia tersebut.
”Kami imbau agar orang tua lebih memperhatikan balitanya apabila telah terserang ISPA, karena khawatir itu akan menjadi gejala berat yang mengakibatkan ­pneumonia­ sehingga membahayakan balita tersebut,” tandasnya.(wil/c)