Beranda Bogor Raya Gas Pink tak Laku, Stok di Gudang Menumpuk

Gas Pink tak Laku, Stok di Gudang Menumpuk

CITEUREUP–Peluncuram gas 5,5 kg yang dilakukan PT Pertamina untuk warga kelas menengah ke atas, sepertinya belum efektif. Pasalnya, banyak warga dengan ekonomi mampu masih menggunakan gas subsidi. Hal itu terindikasi dari rendahnya daya beli gas nonsubsidi di agen-agen.

Seperti dikatakan Deni Suhandi. Pengelola agen Gas PT Wirabumi di Desa Sukhati, Citeureup, ini mengaku kesulitan menemukan pembeli gas 5,5 kg. Karenanya, 120 stok gas nonsubsidi ini masih utuh di gudangnya.

“Pangkalan gak ada yang mau beli gas 5,5 kg. Karena itu, stok kami masih utuh dari beberapa bulan lalu,” ungkapnya.

Menurut Deni, peminat gas tabung pink itu masih terbilang jarang. Lantaran, stok gas subsidi masih dapat memenuhi kebutuhan mereka. “Sampai 300 ribu tabung per bulan untuk memasok 49 pangkalan di wilayah Citeureup, Cileungsi, dan Klapanunggal,” sebutnya.

Bahkan, sambung Deni, permintaan para pangkalan bisa mencapai 4.320 tabung gas subsidi per hari. “Jadi tak dibedakan, yang miskin dan kaya dapat menikmati gas subsidi,” katanya.

Meskipun pemerintah telah mengimbau agar para agen selektif memilih konsumen dengan prioritas masyarakat miskin. Namun, praktik di lapangan masih sulit. Agen tidak dapat membedakan yang miskin dan tidak.

“Ada yang datang pakai mobil, kami tegur, ia malah menjawab, memangnya orang miskin tidak boleh punya mobil,” tuturnya

Karena itu, kata Deni, tingkat penggunaan gas subsidi oleh orang yang tak layak akan terus tinggi, selama belum ada alternatif hukum bagi yang melanggar.

Terutama pada warga kaya yang menikmati gas melon. “Setiap agen ditu­gaskan untuk menyortir, tapi tak mungkin bisa kami lakukan, karena lemahnya payung hukum. Akibatnya, banyak penikmat gas subsidi adalah orang kaya,” tukasnya.

Terpisah, Camat Citeureup Asep Mulyana mengimbau agar para warga yang mampu ikut membantu masyarakat miskin.

Di antaranya, dengan tidak menggunakan hak orang miskin dari subsidi gas tersebut. “Kalau yang kaya merasa miskin, tentunya akan menjadi beban negara dan secara tidak langsung merugikan masyarakat miskin, karena subsidi gas memiliki batas,” kata Asep.(azi/c)