Beranda Female Rauh Raihan Tekuni Jahit-menjahit Karena Tertarik Sejak SD

Rauh Raihan Tekuni Jahit-menjahit Karena Tertarik Sejak SD

Rauh Raihan

Jika masih beranggapan menjahit dan menyulam adalah hobi ibu-ibu zaman dulu, itu salah. Pasalnya, zaman now pun tak sedikit kawula muda yang suka menyulam dan menekuni dunia jahit-menjahit. Salah satunya, Rauh Raihan.

Rauh sering memperhatikan orang tuanya yang suka menjahit sejak masih duduk di sekolah dasar (SD). Wanita kelahiran 26 Mei 1989, ini juga sering membantu orang tuanya menjahit. Akhirnya, timbul keinginan menekuni bidang tersebut.

Rauh pun mulai menjahit tempat pensil untuk keperluannya sendiri, dan tak disangka banyak temannya yang tertarik dengan tempat pensil tersebut sehingga rasa percaya diri Rauh semakin tinggi dan mulai menjahit barang lainnya.

universitas ibn khaldun bogor uika

Ketika SMP, ia mulai mendalami hobinya tersebut, terlebih melihat kakaknya yang menjalani pendidikan di tata busana. Rauh diajari dan membantu tugas kuliah kakaknya. ”Menjahit bagi saya sudah jadi bagian hidup, karena memang dari kecil sudah suka membuat berbagai jenis benda handmade. Jadi sekarang saya kembangkan,” tutur Rauh yang merupakan pengajar di Mts Assa’adah ini.

Sejak kuliah hingga menikah, Rauh semakin mendalami hobinya tersebut. Ia juga sempat bekerja, tetapi memilih resign karena hamil anak pertama. Karena sudah terbiasa dengan kesibukan saat bekerja, Rauh lebih fokus menjahit untuk mengisi waktu luang.

Pada 2015, Rauh dibelikan mesin jahit oleh suaminya. Ia ingin membuat sesuatu yang unik dan berbeda. Seperti saat sedang booming pin cushion yang multifungsi.

Salah satunya untuk meletakkan jarum pentul agar tidak berantakan. ”Bagi saya pin cushion itu unik. Karena saya senang menjahit dan memiliki anak kecil, jadi saya harus teliti meletakkan benda kecil dan berbahaya seperti jarum pentul. Saya pun membuat pin cushion untuk tempat jarum pentul,” tuturnya.

Awalnya membuat pin cushion berbentuk cup cakes, kemudian berinovasi hingga berbentuk labu. Selain itu, Rauh juga mencoba mencari bentuk lebih unik dan berbeda, akhirnya dalam bentuk kura-kura. ”Pin cushion itu istimewa, selain memiliki bentuk cantik dan unik, juga bisa menjaga anak-anak agar tidak bermain dengan peralatan menjahit saya,” tuturnya.

Rauh sering mencari inspirasi di dunia maya, tapi pola dan desain keseluruhannya dibuat sendiri. Sempat gagal membentuk pola kura-kura, ia terus mencoba dan berlatih, akhirnya berhasil dengan bentuk sempurna.

”Saya selalu membuat barang yang belum booming di pasaran, agar terkesan lebih eksklusif karena menciptakan sendiri dan selalu membuat dengan penuh cinta,” tuturnya.

Setelah itu, Rauh mulai mencoba-coba membuat barang lainnya seperti gorden, pakaian muslim untuk anaknya, bantal sofa, seprai, bros dan berbagai keperluan rumah tangga dan home decor.(cr6/c)