Beranda Berita Utama DLH Uji Lab Air Sungai Bondongan, Warga Nanggung Mual dan Gatal-gatal

DLH Uji Lab Air Sungai Bondongan, Warga Nanggung Mual dan Gatal-gatal

MEDIASI: Puluhan warga mendatangi SDN Bantarkaret 01, Kecamatan Nanggung, untuk mediasi dengan pihak Antam terkait dugaan pencemaran.
BOGOR–Sebanyak 93 warga Kam­pung Sidempok, Desa Bantarkaret, Keca­matan Nanggung, Kabupaten Bogor dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit setempat, kemarin (19/12). Mereka mengalami gatal, pusing, dan mual disertai muntah-muntah.
Informasi yang dihimpun, sejak pukul 07.30 WIB, warga memenuhi  Klinik PT Antam dan Puskesmas Parengpen. Tiga di antaranya bahkan dilarikan ke RSUD Leuwiliang. “Warga gatal, mual dan pusing-pusing,” ujar Makmur (35) tokoh masyarakat Kampung Sidempok kepada Radar Bogor.
Menurut Makmur, sumber air yang digunakan warga sehari-hari diduga tercemar. Kondisi terse­but diakuinya terjadi sejak enam bulan lalu. “Kami tidak menya­lahkan siapa pun, karena tidak memiliki bukti,” imbuhnya.
Namun, kata dia, puncaknya saat ikan-ikan mati yang diduga dari kebocoran saluran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik PT Antam  Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor.
Sementara, ketika ditemui di Puskesmas PT Antam, sejumlah warga mengadu mengalami gejala mual dan muntah sejak bebe­rapa hari terakhir. Misalnya, Een (35), warga Kampung Sidempok  yang sempat pingsan saat dibawa ke Puskesmas PT Antam.
Sejumlah warga diperiksa di puskesmas lantaran mengalami gejala mual dan gatal-gatal.
Wajah ibu enam anak itu pun nampak pucat. Tangan kanannya menempel selang infus. “Lemas. Ya Allah sakit,” kata Een sembari tangan kirinya memegangi kepalanya.
Entah kebetulan atau tidak, gejala pusing dan mual massal ini, hanya berselang sehari ketika sejumlah ikan milik warga ditemukan mati mendadak. Dari data yang diterima Radar Bogor, ada 47 kolam ikan milik warga Kampung Sidempok, Desa Bantarkaret, yang diduga tercemar.
Kolam-kolam tersebut milik 35 warga. Salah seorang pemilik kolam Udin Wahyudin (30) mengatakan ada dua kolam miliknya yang tercemar. Bahkan semua ikan di kolamnya mati, meski sudah memasuki masa panen. “Saya minta ganti rugi,” tuturnya.
Sementara itu, kemarin (19/12) ratusan warga mendatangi ruang kelas SDN Bantarkaret 01, Kampung Sidempok. Mereka datang untuk bertemu pihak Antam.  “Warga meminta agar IPAL dipindahkan ke tempat yang lebih jauh dan dibuatkan sarana air bersih,” ujar Kepala Desa Bantarkaret, Jaro Pepen dalam pertemuan antara warga dan manajeman Antam.
Sementara itu pantauan Radar Bogor, Sungai Bondongan yang menjadi sumber air warga lebih mirip seperti selokaan dengan lebar 90 sentimeter. Aliran sungai itu mengalir menuju sejumlah kolam dan bak penampungan air milik warga.
Sedangkan posisi saluran IPAL PT Antam UBPE membentang di samping Sungai Bondongan. Tidak jauh dari lokasi, terdapat bak pengontrolan yang baru diperbaiki dengan cara disemen. Terlihat air bercampur semen mengalir ke arah hilir sungai.
Antam Kucurkan Bantuan
Di sisi lain, PT Antam UPBE Pongkor melalui VP CSR, HR & Finance ANTAM UBPE, Resna Handayani menyesalkan dan prihatin atas matinya ikan yang ditemukan di kolam warga Desa Bantarkaret.
“Kami akan memberikan bantuan kepada pemilik kolam. Saat ini kami juga melakukan penanganan taktis dan cepat terkait hal ini dan investigasi,” ujar Resna kepada Radar Bogor, kemarin (19/12).
LANGKAH ANTAM

1.Memberi bantuan kepada pemilik kolam.
2.Penanganan taktis dan investigasi sampel air sungai untuk dicek lab.
3.Menginventarisasi warga yang diperiksa di puskesmas.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, kata dia, telah mengambil sampel air Sungai Bondongan untuk diperiksa lebih lanjut guna mengetahui kandungan air.  “Kami juga mengirim empat sampel ikan mati milik warga serta air kolam ke laboratorium eksternal PT Water Laboratory Nusantara (PT WLN Indonesia) di Bogor untuk dicek,” jelasnya.
Pengecekan laboratorium eksternal, menurut Resna, untuk mendapatkan data valid perihal kondisi ikan mati dan air kolam. “Mohon kita sama-sama menunggu data laboratorium WLN dan dari DLH agar tidak simpang siur,” ujarnya.
Lebih lanjut Resna menjelaskan, menurut data laboratorim Aantam UBPE kondisi air masih memenuhi baku mutu. Sebagai perusahaan negara, dia menegaskan, Aantam UBPE berkomitmen terhadap praktik operasional yang baik.
Terkait informasi warga dilarikan ke klinik dan puskesmas, Resna menyatakan tengah mengin­ventarisasi data pemeriksaan tersebut. Sebab, kata dia, menurut dokter di klinik perusahaan, minim jika keluhan warga tersebut disebabkan indikasi keracunan. “Saat ini kami sedang inventarisasi  datanya. Mohon menunggu” beber dia lagi.
Sebab, kata dia, sebagian warga memiliki riwayat penyakit seperti darah tinggi dan sakit magh. Meski demikian, Aantam UBPE terus berkoordinasi dengan dokter puskesmas untuk mendapatkan data yang valid.
Kepala Seksi Pengendalian dan Pencemaran DLH Kabu­paten Bogor, Sugeng Suwandi membenarkan pihaknya sudah mengambil beberapa sampel untuk diuji lab. “DLH sudah mengambil sampling air dari ujung sebelum tercemar dan setelah tercemar. Kita juga ke warga ngambil sampel lumpur. Ada juga sawah yang katanya tercemar, kita ambil tanahnya. Kan kasian kalau memang benar,” jelasnya, kemarin.
Meski menurutnya warga sudah melakukan pertemuan dengan pihak Antam, DLH tetap meneliti dengan menggandeng lab independen. Dari sampel yang diambil kemarin, hasilnya baru akan terlihat setelah 10 hari kerja.
”Sembari menunggu hasil lab, kami minta warga tidak menggunakan air sungai itu,’’ tukasnya.(all/fik/d)