Beranda Berita Utama 112 Orang Terinfeksi Difteri

112 Orang Terinfeksi Difteri

JAKARTA–Laju penyebaran virus difteri belum melambat. Hingga berita ini diturunkan, pasien terindikasi difteri masih terus bertambah di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof Dr Sulianti Saroso. Sejak Desember, sudah 112 orang dirawat.

Berdasarkan data yang diperbarui kemarin (19/12) pukul 12 siang, pasien yang dirawat di rumah sakit kawasan Sunter, Jakarta Utara, itu berjumlah 84 orang. Berkurang 14 orang dari hari sebelumnya yang mencapai 98 orang.

Direktur Utama RSPI Prof Dr Sulianti Saroso, Rita Rogayah mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien berasal dari DKI Jakarta, Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, Bekasi bahkan Banten. “Rata-rata mereka dirujuk dari rumah sakit asal ke sini,” katanya kemarin (19/12).

Meski demikian, sudah 18 pasien yang dipulangkan. Baik itu yang benar-benar sembuh, ataupun yang memang terdiagnosis negatif difteri. “Pasien yang sudah kondisinya baik, pengobatan sudah cukup, serta hasil lab sudah diambil, kami pulangkan,” kata Rita.

Sebenarnya, kata Rita, RSPI Sulianti hanya memiliki dua ruangan isolasi dengan kapasitas masing-masing 22 tempat tidur. Namun dengan kondisi yang dihadapi, pihak RS membuka dua ruangan lagi. “Kemarin, kami sampai bisa menampung 98 orang pasien,” katanya.

Rita berharap jumlah pasien tidak bertambah lagi. Meskipun, dalam kondisi mendesak, pihak RS bisa membuka ruangan lagi. Rita menyiasatinya dengan merujuk kembali pasien yang sudah dinetralkan infeksinya. “Pasien yang sudah diberikan ADS (antidifteri serum), kami rujuk kembali ke rumah sakit asal, tinggal pemberian antibiotik rutin saja,” katanya.

Andaipun RSPI tidak bisa menampung, Rita mengatakan bahwa pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan beberapa rumah sakit di Jakarta. “Kami siapkan rujukan ke RS Persahabatan dan RS Fatmawati,” katanya.

Sampai saat ini, ke-84 pasien ditempatkan di ruang isolasi khusus. Pasien yang terinfeksi rata-rata berusia di bawah 19 tahun. Hanya ayah atau ibu yang diizinkan masuk ke ruang perawatan dengan memakai alat pelindung diri (APD). “Paling penting memang APD, tapi karena kami RS Infeksi, maka stok APD masih mencukupi,” kata Rita.

Kesenjangan imunisasi terbukti jadi faktor utama. Dari penjajakan pihak RS, ditemukan 42 orang tidak diimunisasi lengkap. Dua pasien menyatakan tidak imunisasi, sementara tujuh pasien menyatakan lupa pernah imunisasi atau tidak.

Sedangkan 10 orang mengaku telah imunisasi lengkap. “Nah, kalau lupa ini kami sulit menentukan dia imunisasi atau tidak, yang mengaku lengkap pun belum ada bukti,” terangnya.

Menurut Rita, kesadaran imunisasi di masyarakat juga belum mumpuni. Banyak yang belum tahu kalau imunisasi harus diulang dalam umur-umur tertentu. Tidak hanya sekali.

Dokter anak yang menangani pasien difteri di RSPI Sulianti, Suci Romadhoni mengatakan, pasien diberikan ADS untuk menetralkan infeksi. Lantas diberikan antibiotik secara teratur selama seminggu lebih.

Ciri utama difteri adalah panas tinggi disertai nyeri ketika menelan makanan. Di tenggoro­kan timbul semacam membran tipis berwarna putih. “Ciri khas­nya difteri, membran ini kalau disentuh berdarah,” katanya.

Menurut Suci, masih ada saja yang salah menduga. Tidak semua membran di tenggorokan adalah difteri. Senggolan berdarah bisa diketahui dengan pemeriksaan dokter. “Bisa juga infeksi tenggorokan lain,” katanya.

Secara umum, penyakit difteri bisa diatasi selama deteksi dan penanganannya cepat. “Yang kami khawatirkan sampai komplikasi, racunnya masuk ke jantung,” katanya.

Salah satu orang tua pasien, Hartati mengatakan bahwa putranya, Zaki Hasyi Hafiz mengalami demam tinggi sejak Senin (18/12) lalu. Lantas, ia mengeluh sakit saat menelan makanan. “Ada bercak-bercak juga di kulitnya,” kata Hartati.

Beruntung, Hartati tinggal di Sunter Bentengan, tidak jauh dari RSPI. Ia pun langsung membawa putranya yang masih berusia 10 tahun itu. “Sampai sini langsung dinyatakan positif difteri,” tuturnya.

Padahal, seingat Hartati tidak ada teman sekelas Zaki ataupun tetangganya yang terindikasi virus tersebut.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Mohamad Subuh mengatakan, sejak seminggu lalu, jumlah kasus difteri sudah menurun. Dari yang biasanya mencapai delapan kasus sehari, kini rata-rata hanya dua kasus sehari. ”Ini sudah terkendali.

Masyarakat sudah membawa diri mereka untuk imunisasi. Ini tren yang bagus. Tren penurunan,” kata Subuh kepada Jawa Pos (Grup Radar Bogor) kemarin.

Dia mengatakan, untuk saat ini, sebaran kasus difteri masih sama. Jawa Timur menduduki peringkat paling atas. Diikuti Jawa Barat dan Banten. Di luar Jawa, Aceh menjadi provinsi dengan kasus difteri terbanyak. ”Jumlahnya sekitar 96 kasus di sana. Daerah lain variatif. Ada yang tiga, dua, atau enam,” jelas Subuh.

Terkait dengan fasilitas kesehatan untuk penanganan pasien difteri, Subuh menuturkan, setiap RSUD sudah menyediakan kamar isolasi untuk penanganan pasien difteri.

Beberapa rumah sakit swasta pun sudah menyediakan kamar isolasi. Subuh mengatakan, kamar isolasi untuk pasien difteri tidak harus dibuat spesifik. Hanya perlu ruangan terpisah dari pasien lainnya. (tau/and/far)