Beranda Berita Utama Akhir Tahun Panen Bencana, Awas Banjir, Longsor, dan Gempa

Akhir Tahun Panen Bencana, Awas Banjir, Longsor, dan Gempa

Reza Mangantar/ Manado Post
CUACA EKSTREM: Tinggi gelombang laut di perairan Manado mencapai 1–2 meter. Warga diimbau lebih berhati-hati khususnya bagi para nelayan. Foto diambil di kawasan Megamas Manado, Jumat (15/12).

JAKARTA–Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali menyalakan alarm bahaya. Masyarakat Indonesia diperingatkan potensi hantaman hujan lebat sepanjang akhir 2017. Hujan lebat bersama angin kencang berpotensi tinggi menimbulkan bencana.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kemarin menyatakan bahwa pada Desember ini, 93,27 persen wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan. Sementara sisanya, 6,73 persen masih mengalami musim kemarau yang sifatnya lokal.

”Baru kemudian pada Januari 2018, musim hujan memayungi wilayah Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara. Disusul wilayah timur lainnya pada Februari 2018,’’ ujarnya pada pewarta.

universitas pakuan unpak

Dwikorita memperingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Hujan lebat beserta angin kencang akan mewarnai periode perayaan menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018. Menjelang Natal (19–23 Desember 2017,) potensi hujan sedang hingga lebat akan terjadi di wilayah Aceh bagian Barat, pesisir selatan Sumatera, Banten, pesisir utara Jawa, Sulawesi Selatan, NTB, dan sebagian NTT.

Sementara dalam periode Natal 24–26 Desember 2017, hujan sedang-lebat akan meluas meliputi pesisir selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, dan Papua bagian Tengah.

Klik Gambar

“Berdasarkan hasil analisis BMKG, potensi hujan lebat menjelang natal dan tahun baru cukup besar,” katanya.

Sementara menjelang tahun baru 2018, yakni pada 26–31 Desember 2017, potensi hujan sedang hingga lebat terjadi di pesisir utara Jawa, Jateng, Jatim, Kaltara, Sulteng, Maluku. Pada awal tahun 1–7 Januari 2018, konsentrasi hujan sedang-lebat terjadi di Aceh, pesisir barat Sumatera, Jateng, Yogyakarta, Kaltim, Kaltara, Sulteng, dan NTT.

Selain itu, Dwikorita juga memperingatkan masyarakat akan potensi angin kencang yang dapat mencapai lebih dari 20 knot (lebih dari 36 km/jam) di beberapa wilayah Indonesia meliputi Laut China Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia, selatan Jawa Tengah hingga NTB.

Angin kencang, kata Dwikorita, akan berpengaruh pada gelombang tinggi. Bulan Desember hingga Januari adalah periode menguatnya pola angin baratan. Gelombang tinggi diperkirakan akan mewarnai perairan barat Sumatera, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, dan perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara. “Seperti di Laut China Selatan dan Laut Natuna Utara, tinggi gelombang bisa mencapai enam hingga tujuh meter,” katanya.

Dwikorita menjelaskan, hujan lebat yang merata disebabkan suplai massa udara lembap dari Samudera Pasifik, daratan Asia, serta dari Samudera Hindia terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia. ”Akibatnya, curah hujan di wilayah Indonesia bisa sangat intensif,” kata Dwikorita.

Dengan adanya situasi potensi cuaca ekstrem ini, Dwikorita memperingatkan potensi tanah longsor, pohon, dan bangunan yang tumbang, serta bahaya bagi kapal berukuran kecil. Para nelayan tradisional diharapkan bisa menunda kegiatan menangkap ikan untuk sementara waktu. “Ketika hujan lebat disertai petir, jangan berlindung di bawah pohon,” katanya.

Sementara itu, ancaman gempa dan tsunami juga belum boleh diabaikan. Saat ini, kata Dwikorita, belum ada teknologi yang dapat memprediksi terjadinya gempa bumi secara tepat dan akurat.

Sekitar 46 persen dari total panjang pantai Kepulauan Indonesia berpotensi tsunami. ”Panjang pantai tersebut meliputi 233 dari 515 kabupaten, dan 23 dari 34 provinsi,” katanya.

Berdasarkan perhitungan BMKG, di Indonesia telah terjadi gempa bumi rata-rata sebanyak 4.500 kali per tahun. Di antaranya, gempa bumi dengan magnitude 5 atau lebih yang sifatnya mulai merusak terjadi sebanyak rata-rata 360 kali per tahun. “Sebagai pengurangan risiko, bisa mempersiapkan diri seperti langkah penyelamatan, dan perbaikan struktur bangunan,” pungkasnya.

Ancaman bencana juga menghantui warga Kota dan Kabupaten Bogor. Polresta Bogor Kota sebelumnya telah mengidentifikasi titik-titik rawan bencana tersebut. Sedikitnya ada 40 titik yang berpotensi dihantam banjir, pohon tumbang dan longsor.

Dari hasil pemetaan daerah titik-titik rawan bencana alam itu, empat titik rawan banjir berada di pinggiran Sungai Cisadane dan Ciliwung. Kemudian 16 titik rawan longsor tersebar di wilayah Bogor Selatan, Bogor Timur, Bogor Tengah, dan Tanahsareal.

Selain itu, ada 20 titik rawan pohon tumbang saat hujan disertai angin kencang khususnya di Jalan Raya Pajajaran, Jalan Ahmad Yani, dan seputaran jalur sistem satu arah (SSA). ”Kota Bogor tergolong dalam daerah di luar daerah perkiraan musim (DPM), sehingga potensi terjadinya bencana cukup besar,’’ ujar Kepala BPBD Kota Bogor Ganjar Gunawan kepada pewarta.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga telah mengeluarkan laporan potensi pergerakan tanah di wilayah Kabupaten Bogor. Dalam laporan tersebut, sebanyak 38 kecamatan di Kabupaten Bogor berpotensi mengalami pergerakan tanah.

Sekretaris Dinas BPBD Kabupaten Bogor Budi Pranowo membenarkan hal itu. Menurutnya, tingkat pergerakan tanah dimulai dari skala menengah hingga tinggi. Budi pun mengimbau seluruh pihak untuk siaga dan mewaspadai kondisi tersebut.

Dia menambahkan, untuk mengantisipasi bahaya pergerakan tanah, pihaknya sudah menyampaikan melalui surat edaran kepada para camat di Kabupaten Bogor sebagai peringatan dini.

Pihaknya juga akan merelokasi warga yang tinggal di daerah rawan bencana untuk meminimalisasi korban jiwa. “Kondisi topografi di Kabupaten Bogor juga sangat berpengaruh. Karena itu, kami imbau untuk selalu waspada,” pungkasnya.(tau/red)