Beranda Berita Utama 1.330 Gay Berkeliaran di Bogor

1.330 Gay Berkeliaran di Bogor

ilustrasi

Tak dapat dimungkiri, di era yang semakin modern banyak pria maupun wanita mengalami penyimpangan seksual. Bahkan, tak sedikit yang sudah menikah akhirnya memutuskan bercerai.

Seperti yang dialami (sebut saja) N (21), yang terpaksa harus berpisah de­ngan suaminya. “Wajahnya ganteng, seperti artis Korea,” ucapnya di Pengadilan Agama (PA) Bogor.

Selama beberapa bulan menikah, N tak pernah berhubungan layaknya suami istri. Kesal, akhirnya N memutuskan menggugat suaminya ke pengadilan.

Nah, ketika sudah masuk mediasi, akar permasalahannya baru diketahui bahwa suaminya merupakan seorang gay. “Saat berpacaran, tak terlihat hal-hal yang aneh,” katanya.

Berdasarkan data, hingga Oktober lalu, PA Kelas IB Kota Bogor telah memutus 1.314 kasus perceraian. Sebagian besar merupakan perkara cerai gugat. Yakni, istri yang mengajukan gugatan cerai.

”Paling banyak mengajukan itu memang dari pihak istri. Hingga pertengahan tahun sudah ada 1.028 istri yang mengajukan perkara cerai, sedangkan cerai talak ada 286,” ujar Panitera Muda Pengadilan Agama Bogor Kelas IA, Agus Yuspiain.

Dari data yang ia miliki, angka perceraian dari tahun ke tahun cenderung naik. Pada 2016, tercatat sebanyak 1.632 kasus. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan sebanyak 104 kasus. Pada 2015, kasus gugatan cerai di Kota Bogor mencapai 1.528 kasus. Mayoritas disebabkan tidak adanya keharmonisan. Lalu, disusul krisis akhlak dan tidak bertanggung jawab.

Maraknya pria yang mengalami kelainan seksual menjadi perhatian pemerintah daerah.Sebab, jika dibiarkan bisa berakibat negatif.

Pengelola Program HIV Dinkes Kota Bogor, Nia Yuniawati menjelaskan, ada 1.330 pria yang homoseksual. Data tersebut, kata dia, berdasar pria yang menjalani voluntary counseling and testing (VCT) oleh Dinkes Kota Bogor.

Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan upaya untuk menekan angka penyebaran virus HIV/AIDS. “Jadi, sebenarnya gay di Kota Bogor bisa lebih banyak lagi dari angka itu. Sebab, itu berdasarkan orang yang diperiksa Dinkes dari lokasi satu ke lokasi lain. Mereka kan belum tentu mau diperiksa HIV,” jelasnya ketika ditemui Radar Bogor, akhir pekan kemarin.

Kaum homoseksual yang menjadi sasaran, menurut Nia, terbagi menjadi dua jenis. Pertama, gay atau yang biasa disebut sebagai lelaki seks dengan lelaki (LSL), kemudian waria atau sebagai transgender.

Angka gay, kata dia, memang terlihat mendominasi yakni sebanyak 1.279 orang. Sisanya, 51 orang merupakan waria. “Tahun ini hasil pemetaannya belum selesai,” ucapnya.

Ia membedakan gay menjadi lima jenis:

Pertama, laki-laki tersebut berhubungan dengan wanita, tapi benaknya memikirkan pria.

Kedua, laki-laki yang sudah berani mesra dengan laki-laki.

Ketiga, berhubungan dengan perempuan dan laki-laki juga.

Keempat, dominan melakukan hubungan dengan sesama laki-laki.

Kelima, hanya dengan sesama lak-laki.

Dokter ahli narkotika dan seksologi, Bona Simanungkalit mengatakan, ada beberapa penyebab yang membuat seseorang menjadi homoseksual. Antara lain, psikologi dan lingkungan. Yang pasti, menurutnya, homoseksual sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, perilaku seksualnya dianggap tidak normal oleh masyarakat kebanyakan.

Ketika perilaku seksualnya tidak normal, maka menurut Bona, akan ada konsekunsinya. Peringatan tersebut juga berlaku untuk heteroseksual.

Artinya, segala potensi penyakit bisa timbul bukan berdasarkan siapa yang melakukannya, melainkan seperti apa aktivitas seksualnya. Terlebih, bagi kaum biseksual yang kerap gonta-ganti pasangan.

Psikolog asal Bogor, Retno Lelyani Dewi menambahkan, selain dari faktor lingkungan, perilaku homoseksual juga bisa timbul akibat pengalaman buruk lantaran pernah dicabuli. “Mungkin saja anak itu ketika dewasa, mencari korban,” kata Retno.(fik/c)