Beranda Traveling Ketika Fans Jalan-Jalan Nonton Formula E di Hongkong

Ketika Fans Jalan-Jalan Nonton Formula E di Hongkong

JEPRETAN FANS: Beginilah situasi garasi tim Renault e.dams jelang balapan di Hongkong yang dipotret Mohamad Rezky di Hongkong Minggu lalu (3/12).

BELUM genap sejam menginjakkan kaki di Hongkong, selama perjalanan menuju hotel, saya sudah dibikin takjub oleh Tesla yang berseliweran ke sana kemari. Tesla merupakan pabrikan yang memelopori produksi massal mobil listrik. Tak salah kalau Hongkong menjadi tempat penyelenggaraan seri pertama dan kedua kejuaraan balap mobil listrik Formula-E musim 2016–2017 dan 2017–2018.

Sebagai penggemar balap mobil, sudah beberapa kali saya dan rekan-rekan F1 Mania Surabaya menonton langsung balapan F1 di sirkuit jalanan Singapura. Namun, kunjungan kali ini terasa spesial. Sebab, saya mendapat undangan dari penyelenggara untuk menjalani Pit Lane Experience. Artinya, saya bebas blusukan di area garasi tim-tim peserta dan melihat dari dekat aktivitas mereka menjelang race.

So, Minggu (3/12) pukul 08.30, di tengah dinginnya udara Hongkong, saya dan beberapa peserta lainnya mengantre di gate observation wheel Hongkong Central Harbourfront Circuit. Petugas memberikan wristband kepada kami. Setengah jam kemudian, dia mempersilakan kami memasuki kawasan pit lane.
Tak seperti garasi di F1 yang berjajar dalam satu garis lurus, garasi tim-tim peserta Formula-E terbagi dua. Yakni, di sisi kiri dan kanan pit lane. Tak ada hiruk-pikuk musik. Hanya garasi tim Renaulte.dams yang sayup-sayup memutar musik. Jumlah personelnya juga tak sebanyak tim F1. Satu per satu garasi tim saya sambangi, tak lupa foto-foto.

radarbogor universitas terbuka

Pemandangan menarik saya jumpai saat singgah di garasi tempat safety car dan medical car diparkir. Jika Indonesia dihebohkan dengan smartphone versi terbaru yang memiliki fitur wireless charging, mobil-mobil keren itu tengah di-charge secara wireless!

Hal menarik lain adalah saat salah satu mobil Formula-E didorong oleh para mekanik dalam kondisi mesin mati. Ketika asyik memotret bagian belakang mobil tersebut, tiba-tiba saja mobil melesat tanpa suara. Heran dong saya, bagaimana cara menyalakan mesinnya. Sebagai perbandingan, mobil F1 perlu alat starter khusus dari luar. ”Just switch on,” kata si mekanik dengan enteng, saat saya tanya.

Pukul 10.00, acara Pit Lane Experience berakhir. Para pembalap bermunculan untuk mengikuti sesi kualifikasi. Kami dipandu meninggalkan area pit lane. Waktu sejam tadi sungguh berkesan bagi fans yang datang untuk melihat langsung seri balapan yang digadang-gadang sebagai masa depan transportasi tersebut.
Dua seri balapan pembuka Formula-E musim ini digelar di Hongkong selama dua hari beruntun. Yakni, pada 2–3 Desember lalu. Sebenarnya, saya memesan tiket untuk dua hari. Namun, karena penerbangan saya sempat kena delay, saya gagal tiba di Hongkong tepat waktu. Saya tiba pada Sabtu sore saat seri pertama baru saja selesai. Saya hanya kebagian nonton penyerahan piala kepada juara hari itu, pembalap DS Virgin Racing Sam Bird.

Karena itu, untuk lomba pada Minggu (setelah paginya ikut Pit Lane Experience), saya datang lebih awal, yakni sekitar jam 13.00. Granstand tempat saya duduk terletak di bawah overpass. Setengah jam menunggu, kami disuguhi tontonan Roborace.

Itu adalah seri balapan pendukung Formula-E, yang mana mobil-mobilnya driverless alias tanpa pengemudi. Dikendalikan sepenuhnya oleh software kecerdasan buatan. Itu benar-benar gambaran masa depan, ketika mobil dapat mengendalikan dirinya sendiri tanpa perlu campur tangan manusia. Namun, karena masih memasuki tahap pengembangan, yang turun ke lintasan kali ini adalah DevBot. Yaitu, prototipe mobil balap Roborace yang masih memiliki tempat untuk pengemudi.

Pada lap-lap awal, salah seorang presenter TV dipersilakan naik. Sepanjang lintasan, kedua tangannya terangkat. Tidak menyentuh setir sama sekali. Di akhir acara, DevBot dibiarkan berjalan sendiri tanpa pengemudi selama beberapa putaran. Keren.

Tepat pukul 15.00, balapan dimulai. Pembalap tim Venturi, Edoardo Mortara, langsung leading. Lama pula, hingga beberapa lap sebelum finis. Namun malang, di tikungan pertama, dia melintir sehingga disalip pembalap Mahindra Felix Rosenqvist. Pembalap Swedia itu akhirnya menjadi juara seri kedua, disusul Mortara dan Mitch Evans dari Jaguar.

Saya menyaksikan seluruh peristiwa itu dari grandstand tempat saya duduk sambil menggigil kedinginan. Memang pada pukul 16.00, matahari bersinar terik. Namun, angin dingin seperti yang keluar dari AC berembus cukup kencang meniupkan hawa dingin. Selepas podium, saya bergegas menuju central station dan naik kereta ke bandara. Meski tak sampai dua hari di Hongkong, pengalaman yang saya dapat benar-benar unforgettable.(*/c21/na)