Beranda Berita Utama 19 Gempa Susulan

19 Gempa Susulan

HANCUR: Kantor Bupati Tasikmalaya sebagian hancur akibat gempat (Jawapos)

BOGOR-Gempa bumi yang mengguncang wilayah selatan Jawa bagian barat pada Jumat malam (15/12), menimbulkan kerusakan setidaknya di 10 kabupaten sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Total 473 rumah rusak ditambah beberapa bangunan publik. Gempa juga dilaporkan telah merenggut tiga korban jiwa.

Selain gempa utama yang terjadi pukul 23.47, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga melaporkan adanya dua gempa besar lain yang terjadi hanya beberapa jam setelah gempa pada Jumat malam tersebut. Yang pertama terjadi di 13 km tenggara Kabupaten Boalemo, Gorontalo atau 32 km di barat daya Kabupaten Gorontalo Utara. Terjadi pada sabtu pagi pukul 04.27 WITA dengan kekuatan 5.1 Skala Richter (SR) episentrum berada di kedalaman 63 km.

Gempa kedua terjadi empat jam kemudian pada pukul 07.22 hanya beberapa ratus meter dari lokasi gempa pertama. Yakni di 129 km di barat daya Garut, Jabar. Berkekuatan 5.7 SR di kedalaman 10 km laut Indonesia.

Kepala Humas BMKG Hary T. Djatmiko mengatakan, dua gempa ini memiliki sumber yang berbeda dari gempa pertama pada jumat malam dan tidak termasuk gempa susulan. Akibat yang ditimbulkan keduanya tidak signifikan. “Dua gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami,” kata Hary, kemarin (16/12).

Sementara itu, beberapa jam setelah gempa pertama Jumat malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan setidaknya 19 kali gempa susulan sepanjang Sabtu dini hari hingga pagi. Gempa susulan rata-rata memiliki kekuatan di bawah 5 SR. “Gempa susulan ini proses yang alami karena dua lempeng menyesuaikan posisi masing-masing,” kata kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo menjelaskan, gempa yang terjadi Jumat malam merupakan hasil pergerakan subduksi. Lempeng Indo Australia yang berada di selatan Jawa bergerak mendesak ke bawah Lempeng Eurasia. Kedua lempeng memang dikenal sangat aktif dengan pergerakan 7-8 sentimeter per tahun. “Maka dari itu seluruh wilayah Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara memang rawan gempa,” katanya.

Sutopo menuturkan, pukul 23.47 malam BMKG melaporkan gempa dengan kekuatan 7,3 SR dengan kedalaman 105 km yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,9 SR.

Guncangan terbagi dalam tiga zona, zona terdekat dengan skala getaran 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) dengan guncangan terkuat terasa di sebagian KabupatenTasikmalaya, Pangandaran, dan Kabupaten Banjar.

Zona kedua dengan skala 5 MMI mengguncang sebagian Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Banjar, Singaparna, Cilacap, Banyumas, Cimahi, Bandung, Tegal, Cirebon, serta Indramayu.

Sementara zona ketiga skala 4 MMI terasa di hampir seluruh Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jogja dan Jawa Tengah. Karenanya, warga ibu kota juga merasakan gempa terutama yang tinggal di gedung-gedung tinggi. “Umumnya kalau sudah mencapai 6 MMI, bangunan yang tidak pakai konstruksi gempa akan rusak,” kata Sutopo.

Dalam panduan BNPB, kriteria gempa yang bisa menimbulkan tsunami diantaranya berkekuatan lebih dari 7 SR, serta berada di lokasi subduksi kedua lempeng. Setelah dianalisa, tim BNPB menyimpulkan bahwa gempa Jumat malam bisa berpotensi tsunami. “Lima menit setelah peringatan BMKG, kami langsung tekan sirene tsunami,” katanya.

Sutopo menjelaskan, sebagian besar sirene tsunami di selatan Jabar dan Jateng berbunyi normal. Hanya di Cilacap yang berbunyi sebentar, lantas mati gara-gara listrik PLN padam. Peringatan level siaga disampaikan pada warga di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya.

Dengan ketinggian muka air laut antara 0,5 hingga kurang dari 3 meter. Sementara peringatan level waspada diberikan pada warga Bantul, Kulonprogo, Cianjur, Garut, Sukabumi, Cilacap, dan Kebumen dengan gelombang air laut kurang dari setengah meter.

Masyarakat langsung merespons dengan mengevakuasi diri dibantu aparat. Sebagian besar menggunakan kendaraan. Kemacetan dilaporkan terjadi di wilayah-wilayah tersebut. Sutopo juga menyebut, pihaknya tidak bisa memetakan waktu kedatangan tsunami, serta daerah yang berpotensi dihantam gelombang karena ketiadaan pelampung tsunami (tsunami buoy) di lepas pantai selatan Jawa. “Sejak 2012 tsunami buoy sudah tidak berfungsi karena keterbatasan anggaran,” katanya.

BNPB semata mengandalkan perhitungan modeling dengan kriteria tersebut di atas. Petugas juga turun ke pantai untuk mengamati perubahan muka air laut. Sampai pukul 02.30 dini hari, tidak ada laporan perubahan muka air laut. “Sehingga peringatan tsunami langsung dicabut, kenyataannya memang tidak ada,” katanya.

Banyak pihak bertanya-tanya. Gempa dengan kekuatan 6,9 SR itu kok sampai terasa di Jakarta bahkan sampai ke Jawa Timur? Ahli geofisika Indonesia Surono menjelaskan, yang memicu gempa Tasikmalaya itu dirasakan hingga jauh adalah kedalamannya. ’’Saat gempa terjadi, saya berada di daerah Kemayoran. Di apartemen lantai 32. Sempat heboh,’’ katanya, kemarin (16/12).

Dia bahkan harus turun bersama keluarganya ke lantai dasar melalui tangga darurat. Sebagaimana diumumkan BMKG, gempa yang sempat memicu peringatan dini tsunami itu berpusat di kedalaman 107 km.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menjelaskan dampak dari gempa yang pusatnya sangat dalam adalah jangkauan getarannya cukup jauh. Dia mengibaratkan seseorang yang menyorotkan lampu senter ke atap. Semakin jauh jarak antara senter dengan atap, maka sinar senternya makin luas. Sebaliknya semakin dekat jarak senter dengan atap, sinarnya semakin kecil.

Surono menuturkan, gempa malam itu terjadi akibat penujaman dari lempeng Australia dengan lempeng Eurasia. Jadi lempeng Australia menghujam ke lempeng Eurasia. Dengan sifat ini, Surono menuturkan gempa Tasikmalaya Jumat malam sejatinya tidak berpotensi tsunami. Meskipun gempa ini mengakibatkan kerusakan bangunan di sejumlah titik.

Menurut dia, ada beberapa kriteria gempa yang bisa memicu tsunami. Di antaranya pusat gempa berada di kedalaman 10 km. ’’Sedangkan gempa jumat malam itu cukup dalam. Sehingga sejak awal saya sudah memperkirakan tidak akan memicu tsunami,’’ pungkasnya.

Analisis Surono itu ternyata tepat. Meskipun beberapa saat setelah gempa ada peringatan dini tsunami di beberapa daerah, tetapi tidak terjadi. Sebelumnya peringatan dini tsunami itu muncul untuk kawasan Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, Bantul, Kebumen, Kulon Progo, dan Cilacap.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menuturkan, turut memantau proses penanganan di lapangan terkait gempa jelang Sabtu dini hari kemarin. Bahkan, dia sampai terjaga hingga pukul 03.00. Jokowi pun telah menerima laporan tiga korban jiwa dan kerusakan rumah terdampak gempa. Dia berharap masyarakat tetap waspada, tapi tidak boleh terlalu resah.

”Saya kira masyarakat tidak perlu terlalu resah karena peristiwa tadi malam menunjukkan bahwa peringatan dan evakuasi mandiri suatu yang bagus karena negara kita memang dikelilingi oleh titik gempa,” ujar Jokowi, usai menghadiri Apel Kebangsaan Pemuda Islam Indonesia di pelataran Candi Prambanan, kemarin (16/12).

Dia mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap gempa terutama yang berada di tengah laut karena itu bisa menimbulkan tsunami. Namun, setelah peristiwa semalam, Jokowi memastikan bahwa sistem peringatan dini terhadap bencana di Indonesia telah berjalan dengan semestinya.

Selain itu, dia mengapresiasi respons langsung yang diberikan masyarakat terhadap peringatan dini yang diberikan BMKG terkait potensi tsunami setelah gempa terjadi. Masyarakat merespons langsung peringatan tsunami dan mengevakuasi mandiri dengan diarahkan oleh aparat kita.

”Saya kira ini sebuah hal yang sangat baik dan alhamdulillah sudah tidak terjadi apa-apa. Masyarakat sudah kembali ke rumah dan penanganan dampak dari gempa tadi malam juga telah dilakukan,” tuturnya.

Tak hanya itu, warga Bogor pun mengaku, khawatir ada gempa susulan. “Getaran cukup kencang, sampai pintu lemari kebuka,” ujar Ismiatun (24) warga Kecamatan Ciomas.
Alumni IPB itu mengaku, saat terjadi gempa kemarin malam sempat berlari keluar rumah untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. (jp/cr1)