Beranda Berita Utama Demiz Ditinggalkan

Demiz Ditinggalkan

AKRAB: Sekjen PAN Eddy Soeparno (tengah) didampingi Ketua PAN Kota Bogor Safrudin Bima berkunjung ke Graha Pena bertemu CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu (kanan), kemarin. (meldrik/ Radar Bogor)

BOGOR–Deddy Mizwar santai saja melihat gejala perubahan koalisi partai politik (parpol) akhir-akhir ini. Terancam ditinggal PAN dan PKS, diam-diam ‘Jen­deral Nagabonar’ men­dekat ke PDI Perjua­ngan.

“Selamat kepada pak Sudrajat, semoga segera mendapatkan pasangan. Selamat kepada Gerin­dra, semoga segera men­­dapat koalisi agar bisa ikut kontestasi Pilgub Jabar,” begitu tanggapannya saat ditemui di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (13/12).

Soal koalisi, pria yang akrab dipanggil Demiz itu masih yakin koalisi “Zaman Now” yang digalang Demokrat, PKS dan PAN tetap kokoh. Demiz paham jika hingga saat ini surat keputusan (SK) pimpinan pusat masing-masing partai belum turun. Tapi, kata Demiz, hal itu juga dialami semua partai, bukan hanya di koalisi “Zaman Now”.

penerimaan mahasiswa baru universitas nusa bangsa bogor

Meski begitu, wakil gubernur Jawa Barat itu tak mau kalah melempar sinyal. Dia mengaku sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah partai, salah satunya PDIP. Demiz mengaku, komunikasi itu sudah sejak lama dan berlangsung hingga saat ini. Isi komunikasinya pun, kata Demiz, mengarah pada pencalonan di pilgub.“Sudah cukup lama, sampai tadi malam pun komunikasi. Gak ada salahnya kan? Siapa yang menghubungi? Ada aja lah,” imbuhnya sambil tertawa.

Sikap PDIP sendiri sampai saat ini terungkap dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto. PDIP berancang-ancang akan mengumumkan calon gubenur yang diusungnya pekan pekan ini.

“Jadi, direncanakan pada 17 Desember ini, ibu ketua umum akan mengumumkan beberapa paslon. Setidaknya ada lima paslon yang akan diumumkan. Jabar nanti akan diumumkan bersamaan dengan Lampung, Sumsel, Sumut, dan Jateng,” kata Hasto di Wisma Kinasih, Jalan Tapos, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/12).

Hasto memberi sinyal, PDIP akan memilih calon yang sangat memperhatikan kelestarian lingkungan. Untuk Jabar, kata Hasto, partainya sudah mengerucutkan kepada satu nama yang akan diusung.
“Jadi sebenarnya nama sudah mengerucut, tinggal komunikasi. Calon gubernur arahnya sudah jelas, wakil gubernur masih ada beberapa opsi. Kita berikan kesempatan untuk turun ke bawah,” ujar Hasto.

Sudrajat sendiri, Rabu (13/11) bertandang ke Kota Bandung, bersosialisasi ke Kantor DPD Gerindra Jabar di Jalan Suci. Dia menyebut kedatangannya ke Bandung merupakan salah satu upayanya mendongkrak popularitas sebagaimana titah sang ketua umum, Prabowo Subianto. Ia menyadari namanya tidak tenar di Jabar jika dibandingkan dengan kandidat lain semacam Deddy Mizwar atau Ridwan Kamil.

“Hari ini saya memperkenalkan diri bahwa saya calon gubernur dari Partai Gerindra dalam pemilihan gubernur yang akan datang,” ucapnya saat ditemui di Jalan Trunojoyo, Kota Bandung, Rabu (13/12).Wakil Ketua DPD Jawa Barat, Asep Wahyuwijaya menampik kabar burung tersebut.

“(Demiz) tidak ditinggal. Kita komunikasi dengan PDIP memang, tetapi dalam rangka silaturahmi ke pusat,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Selain itu, kata dia, ada pembicaraan lain terkait kemungkinan koalisi pilkada di kabupaten/kota. Juga membuka ruang kemungkinan PDIP bergabung dengan Demokrat. “Apakah ada kemungkinan ke provinsi? Ya kita ajak juga. Mereka masih menimbang-nimbang atau mencari-cari. Harapannya, program sama,” tuturnya.

Ia mengklaim, belum melihat ada indikasi Demiz akan diting­galkan oleh PKS dan PAN. Ditambah, dirinya juga belum melihat tanda-tanda PDIP akan bergabung. Saat ini, PAN, PKS dan Demokrat tengah mem­persiapkan deklarasi Demiz-Syaikhu, yang rencananya diselenggarakan pada 7 Januari 2018.

PAN Dirayu Gerindra

Konstelasi politik pemilihan gubernur 2018 di Jawa Barat berubah total setelah Partai Gerindra mengumumkan akan mengusung calon sendiri Sabtu lalu. Meski harus berkoalisi dengan partai lain untuk mencukupi jumlah kursi yang dipersyaratkan, pengumuman itu menyulitkan posisi Deddy Mizwar (Demiz). Gerindra saat ini terus aktif melobi partai lain untuk masuk dalam koalisinya, termasuk PAN yang sudah menyatakan koalisi dengan Demiz.

Sekjen PAN Eddy Soeparno siang kemarin datang ke Graha Pena bertemu CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu. Eddy mengungkapkan, pihaknya sudah didatangi para elite Partai Gerindra.
Mereka meminta agar PAN dapat mendukung Mayjen (Purn) Sudrajat untuk menjadi cagub Jawa Barat, mendampingi Ahmad Syaikhu dari PKS. “Kemarin malam (Selasa, red) elite Gerindra menemui PAN,” ujarnya didampingi Ketua DPD PAN Kota Bogor, Safrudin Bima.

Dalam pertemuan silaturahmi yang diterima Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan termasuk Ketua PAN Jawa Barat, Najib tersebut, kata dia, hadir Sudrajat didampingi Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, dan beberapa elite partai.

Menurutnya, pertemuan kedua elite partai saat itu mencair. Pria yang juga calon anggota DPR RI dapil Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor tersebut menambahkan, keduanya saling memahami gagasan visi misi termasuk konsep pembangunan yang ditawarkan Sudrajat.

“Tentu kami menyambut usulan tersebut secara positif, dan akan menjadi pertimbangan. Kami tidak sekonyong-konyong membuat keputusan tetapi sudah berkomitmen meskipun baru secara verbal, bagi PAN bebannya sama,” tegasnya.

Sebab, sambung dia, keputusan arah politik di Jawa Barat berdampak jangka panjang. “Kami lakukan kajian terlebih dahulu untuk menentukan arah dukungan di Pilkada Jawa Barat,” tambahnya.
Pertemuan tersebut sebagai ajang pengenalan sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Meski demikian, Pria kelahiran Jakarta, 6 Mei 1965 tersebut menilai jika Sudrajat memiliki intelektual, kapasitas berfikir dan konseptual sangat baik. “Kental dengan TNI punya ketegasan dan tercermin dari diri beliau, berintegrtitas juga tidak ada berita negatif terhadap dirinya,” tuturnya.

Meski demikian, PAN sendiri mengakui jika tiga pekan lalu partainya sudah “kadung” melakukan deklarasi dengan Deddy Mizwar. “Saat itu, kami lakukan ini untuk memecahkan kebuntuan komunikasi politik yang terjadi. Demiz jalan ditempat saat itu,” ujar dia.

Ketika PKS dan Demokrat bergabung dan sudah mengunci Demiz-Syaikhu, dengan adanya perkembangan baru ini rupanya Gerindra yang merupakan patner tetap PKS juga mengajak bergabung. Sehingga, disepakati kedua partai tersebut untuk mengusung Sudrajat dan Syaikhu.

“Pinangan” Gerindra terhadap PAN tentunya bukan menjadi perkara mudah. Partai pengusung, nantinya harus bekerja keras mengenalkan Sudrajat agar dapat menyaingi popularitas figur pesaingnya. Dengan waktu enam bulan saja, Sudrajat dituntut untuk mencapai popularitas diatas 80 persen dengan kisaran elektabilitas mencapai 25-30 persen.

Sementara itu, CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu menilai kecenderungan konstelasi politik di Jawa Barat sangat menarik. Jika nantinya PAN menerima pinangan Gerindra untuk mengusung Sudrajat-Syakhu, tentu diperlukan kerja keras. “Itu sangat penting sekali, semua komponen harus terlibat secara paralel sampai didaerah,” ujar dia.

Ia juga menilai, jika konstelasi politik terkait dengan penentuan Pilgub Jawa Barat berantakan. “Ini sebagai satu kecelakaan undang-undang, mestinya koalisi itu tercermin dari pusat sampai ba­wah,” tegasnya. (ded/bbb/c)