Beranda Berita Utama Transaksi Tanpa Pajak, Pengunjung Naik 10 Kali Lipat

Transaksi Tanpa Pajak, Pengunjung Naik 10 Kali Lipat

ilustrasi

Pesta diskon Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2017 yang digelar bulan ini, secara masif sukses menarik minat masyarakat untuk mengeluarkan uangnya.

Tak heran, total transaksi Harbolnas 2017 diprediksi me­lonjak 50 persen dibanding tahun sebelumnya atau sekitar Rp4 triliun. Sebanyak 254 peserta e-commerce mera­maikan momen tahu­nan ter­sebut.

Masing-masing e-com­merce memiliki pro­gram berbeda-beda un­tuk merayakan Harbolnas. Meski perayaan jatuh pada tanggal 12 Desember, banyak e-commerce yang mem­perpanjang masa diskon 3–7 hari ke depan.

Berdasarkan data yang dihimpun ShopBack, salah satu platform penyedia cash back belanja online dari 170 e-commerce, jumlah pengunjung e-commerce peserta Harbolnas rata-rata meningkat hingga 10 kali lipat.

“Sejak pukul 12 malam sampai pukul 9 pagi tadi, rata-rata e-commerce mengalami peningkatan trafik pengunjung sampai 10 kali lipat dibandingkan hari biasa,” ujar Country General Manager ShopBack Indonesia Indra Yonathan, kemarin (12/12).

Dari banyaknya produk yang dijual oleh lebih dari 250 e-commerce peserta Harbolnas 2017, Indra mengungkapkan kategori gawai (gadget) seperti smartphone dan tablet menjadi barang yang paling banyak dicari.

Disusul kemudian oleh produk-produk kesehatan dan kecantikan, serta produk kebutuhan ibu dan anak. “Dari hasil survei yang kami lakukan jelang Harbolnas 2017, konsumen Indonesia akan mengeluarkan bujet 4–5 kali lebih besar dibandingkan pem­belanjaan online pertama kali. Rata-rata yang akan dihabiskan senilai Rp250.000 sampai Rp1.000.000,” tambah Indra.

Peminat belanja daring pada momen Harbolnas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2015, total transaksi mencapai Rp2,1 triliun. Kemudian pada 2016, transaksi mencapai Rp3,3 triliun. “Tahun ini, transaksi yang ditargetkan adalah sebesar Rp4–4,7 triliun atau 50 persen lebih tinggi dari tahun lalu,” ujar Ketua Harbolnas Achmad Alkatiri saat ditemui di kantor Lazada, kemarin.

Achmad membeberkan bahwa peminat Harbolnas tahun ini sangat antusias. Termasuk jika dibandingkan dengan event diskon serupa pada 11 November (11-11) lalu, menurut Achmad peningkatannya sangat signifikan. “Cukup terkejut saat kami memantau grafik pengunjung e-commerce sejak pagi tadi (kemarin, red), gapnya sangat jauh mungkin bisa lebih dari 10 kali lipat,” urainya.

Tingginya animo pembeli online saat Harbolnas, membuat para e-commerce melakukan persiapan khusus demi nengantisipasi lonjakan order. Lazada, misalnya. Pada salah satu warehouse-nya yang ada di kawasan Cimanggis, Lazada menambah pasokan item menjadi 5 juta unit dan total pekerja hingga 3.500 orang. “Biasanya per hari dari warehouse ini meluncur sekitar 400 ribu barang untuk dikirim ke konsumen. Tapi saat Harbolnas, arus order bisa meningkat 7 kali lipat dibanding hari biasa,” ujar Co-CEO Lazada Indonesia Florian Holm.

Pelaku e-commerce meyakini bahwa perayaan Harbolnas tahun ini akan menjadi yang terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seperti halnya momen serupa yang dihelat e-commerce di berbagai belahan dunia.

“Seperti yang China punya perayaan dengan ’Single Day’ nya, Amerika ada ’Black Friday’, lalu sekarang ada ’Cyber Monday’ juga. Kemudian di Inggris ada ’Boxing Day’ yang sekarang akhirnya dipakai oleh negara-negara Commonwealth. Antusiasme belanja online di Indonesia sendiri akan semakin meningkat seperti itu setiap tahunnya,” ujar CEO Blibli.com Kusumo Martanto.

Namun, di sisi lain, rupanya layanan belanja daring berpotensi membuat pajak dari sektor perdagangan mengalami penurunan. Seperti diutarakan pengamat ekonomi, Saifuddin Zuhdi.

Menurutnya, kini para produsen berbondong-bondong menjualnya melalui website. Sehingga, sebagian besar kegiatan perdagangan sudah tidak membutuhkan jasa pertokoan. Padahal, pajak yang masuk ke pemerintah justru diambil dari tempat perdagangan.

“Sekarang ini, untuk online belum dikenakan pajak. Sehingga, otomatis berdampak pada pendapatan negara,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Tak sedikit pula pedagang memasarkan barang dagangannya di akun media sosial pribadinya. “Ini dampak dari perkembangan teknologi yang cukup cepat,” kata Zuhdi.

Artinya, semakin tumbuh berkembangnya website jual beli online, maka akan menggerus aktivitas perdagangan konven­sional. Pasalnya, konsumen akan memilih mekanisme yang efisien, karena tidak perlu jauh-jauh melangkahkan kaki untuk berbelanja.

Yang lebih membuat masyarakat tergiur, antara lain sejumlah diskon yang ditawarkan, seperti Harbolnas kali ini. Zuhdi mengaggap, diskon di laman jual beli daring ini mudah dilakukan karena penjualannya tidak melalui banyak perantara. Artinya, kerap kali dari tangan produsen langsung ke tangan pembeli.

“Sekarang kalau yang konven­sional distribusi dari pabrik ke grosir kemudian toko, itu membutuhkan biaya. Harganya jadi tinggi,” ujarnya.

Memang, dalam jual beli online biasanya dikenakan ongkos kirim. Tapi, terkadang biayanya cenderung lebih murah daripada harus mengorbankan waktu untuk ke tempat perbelanjaan dan mengeluarkan ongkos transportasi.

Kepala Badan Pendapatan (Bapenda) Kota Bogor, Daud Nedo membenarkan bahwa tidak ada pajak perdagangan online yang masuk untuk Kota Bogor. Kalaupun ada, menurutnya tidak akan masuk kepadanya, melainkan ke pemerintah pusat. “Kalau belanja itu dia kena PPH dan PPN. Tidak ada di daerah. Ini masuknya ranah pusat,” ungkapnya.(fik/jp/d)