Beranda Berita Utama Produk Lokal Tergerus Impor

Produk Lokal Tergerus Impor

Di tengah melejitnya tren belanja online, cukup disayangkan bahwa produk yang beredar di e-commerce masih didominasi impor. Pengamat menilai pemerintah perlu lebih memperhatikan penguatan produk lokal supaya e-commerce dapat meningkatkan daya saing produk dalam negeri.

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia, Achmad Alkatiri mengakui bahwa saat ini lebih dari 50 persen barang yang dijual seller adalah produk impor. Menurut Achmad, setidaknya ada dua alasan mengapa seller lebih memilih impor untuk barang jualannya.

Pertama karena belum semua barang bisa di-fulfil oleh produsen dalam negeri. “Kita bicara salah satu yang paling banyak dicari, misal aksesori gadget, seperti powerbank. Itu kan di sini belum ada yang bisa buat,” ujarnya.

universitas pakuan unpak

Alasan kedua adalah soal harga. Barang impor cenderung lebih murah sehingga para seller lebih memilih mendatangkan produk dari luar negeri. “Apalagi konsumen di sini (e-commerce, red) sangat sensitif soal harga. Jadi, ya, memang lebih disukai barang yang harganya murah,” tambah Achmad.

Sebagai contoh, di Lazada terdapat channel Taobao. Ini adalah kumpulan UMKM asal Tiongkok yang difasilitasi oleh Jack Ma, bos Alibaba, agar bisa berekspansi ke pasar luar negeri. Saat dicek tadi malam, ketika mengetik kata kunci Taobao, maka muncul 3,7 juta item produk seperti tas, sepatu, pakaian, yang bisa dibeli dengan harga puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

Pengamat BUMN, Said Didu menyatakan bahwa jika e-commerce terus-terusan dibanjiri dengan produk asing, kondisi tersebut akan mengancam perekonomian Indonesia sendiri. “Beda dengan luar negeri yang ketika e-commerce masuk, negara mereka sudah siap dengan produk lokal dan segala sistem logistik distribusinya.

Salah jika menganggap e-commerce adalah satu-satunya solusi ekonomi, jika di sisi lain bisa mematikan industri kita sendiri,” ujarnya saat dihubungi kemarin (12/12).

Menurut Said, pengembangan digital harus dibarengi pemerintah dengan penguatan produk lokal. Sebab, kemajuan e-commerce justru harus memacu industri lokal untuk semakin berkualitas dan efisien. “Saya setuju digitalisasi tidak dapat dihindari. Tapi, membuat produk lokal tidak boleh dilupakan.

Sekarang saja sudah banyak anak muda yang masuk di e-commerce. Jangan sampai generasi produktif tersebut nantinya hanya menjadi konsumen tanpa ada dorongan untuk meng-create sesuatu,” tambahnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia, Ikhsan Ingratubun menyatakan bahwa keberpihakan pemerintah dalam mempro­mosikan produk dalam negeri masih sangat kurang. “Apakah kuantitas produk kita belum fulfil atau harga barang impor lebih murah? Sebenarnya jawabannya tidak. Hanya karena kualitas produk dalam negeri belum memadai dan pengetahuan tentang kemasan produk masih perlu ditingkatkan,” urainya.

Menurut Ikhsan, dampak jika produk impor merajalela, produk UMKM di Indonesia tidak bisa menjadi tuan di negerinya sendiri. “Pemerintah harus bertindak dengan cepat untuk memberikan akses pemasaran.

Salah satunya dengan cara mempromosikan secara serius produk indonesia. Juga memberikan akses permodalan serta memberikan pengetahuan kemasan yang bertaraf internasional,” tuturnya.

Tak ingin ketinggalan, pusat perbelanjaan pun kini mulai menerapkan sistem online. Humas Bogor Trade Mall (BTM), Sisko Delgado mengatakan, pihak­nya kini turut mengem­bang­kan penjualannya via online.

Menurutnya, manajemen sudah menggandeng salah satu situs jual beli online untuk memasarkan barang-barang yang ada di BTM.

Jadi, momentum Harbolnas ini tidak terlalu membawa dampak buruk pada penjualan 1.000-an pedagang di Mal BTM. “Momentum ini membuat penjualan online kami lebih banyak lagi peminatnya. Konvensionalnya, kalau drop (barang), dinaikkan di online-nya,” ujarnya.

Manajer Marketing Komunikasi Pusat Grosir Bogor (PGB), Rizal, mengklaim, meski digempur situs jual beli daring, tidak terlalu memengaruhi tingkat penjualan. Menurutnya, pengunjung tetap stabil, bahkan meningkat. “Minggu kemarin malah membeludak,” ungkapnya.

Tak heran, menurut Rizal, bertambahnya jumlah pengunjung itu lantaran momentum jelang Natal dan tahun baru. Menurutnya, penjualan yang mengalami peningkatan antara lain barang-barang seperti pakaian dan perlengkapan bepergian.

Transaksi jual beli tanpa diperantarai oleh pengelola website memang cukup berisiko. Seperti yang dialami Tri Wahyudi (25), warga Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Pria yang akrab disapa Yudi itu sempat tertipu saat hendak membeli modem bekas di sebuah situs jual beli daring. “Harganya Rp200 ribu. Sudah ditransfer duluan uangnya, tapi nunggu berhari-hari tidak datang-datang barangnya,” ungkapnya ketika diwawancarai Radar Bogor.

Pengalaman serupa pernah dialami Akbar Fadillah (23) warga Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Ia tertipu saat hendak membeli tas gunung bekas di salah satu media sosial yang menyediakan forum jual beli.

Saat itu, ia menemukan salah satu akun yang menjual tas gunung bekas lantaran sedang butuh uang. Jelas saja Akbar tergiur, tas bekas dengan harga normal Rp1 jutaan itu dibanderol seharga Rp750 ribu. “Bilangnya sih itu tas baru sekali pakai. Makanya, saya cepat-cepat hubungi dia,” tuturnya.

Merasa takut ditipu, sebelum mentransfer uang Akbar sempat meminta penjual untuk mengirimkan foto kartu identitasnya. “Dia kirim foto KTP, gak tahu itu KTP siapa. Terus saya transfer setengah harganya, karena setengah harganya lagi dibayar saat barangnya sampai, katanya,” kata Akbar.

Namun, tas gunung itu tak kunjung sampai ke tempat tinggal Akbar. Saat mencoba menghubungi juga tidak bisa, lantaran nomor Akbar sudah diblokir si penjual.(fik/jp/c)