Beranda Politik RK dan Demiz Berpotensi Jomblo

RK dan Demiz Berpotensi Jomblo

CIBUNUT BERWARNA: Bakal calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meninjau Kampung Cibunut Berwarna, Jalan Sunda, Kota Bandung, (27/11). (ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES)

BANDUNG-Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar berpotensi jomblo di Pilgub Jabar 2018. Itu musabab belum solidnya koalisi yang terbentuk saat ini. Para partai pendukung Ridwan Kamil yakni Nasdem, PKB, PPP dan Golkar rentan pecah lantaran PKB, PPP dan Golkar masih posisi pendamping Ridwan Kamil dengan opsi konvensi dan musyawarah.

Pengamat politik Unpad Muradi menuturkan, PKB dan PPP nampaknya akan menghitung ulang dukungannya apabila dalam keputusan akhir, kadernya tidak diakomodir. Sementara Golkar yang akan menghadapi munaslub pemilihan ketum baru bisa terjadi juga kejutan.

“Saya kira harus dipenuhi betul. Emil kalau tidak sensitif, bisa kehilangan dukungan dari PPP dan PKB. Bisa jadi Golkar juga hilang, kalau munaslub ada perubahan, bisa jadi Golkar berubah dukungan,” kata Muradi pada diskusi publik bertajuk ‘Figur Gubernur Jabar 2018 – 2023’ di Centropunto, Jalan Trunojoyo, Kota Bandung, Senin (11/12).

universitas nusa bangsa unb

Situasi ditinggal partai koalisi juga mengancam Deddy Mizwar. Partai pendukungnya seperti PKS dan PAN di koalisi zaman now berpeluang mengubah arah dukungan dengan kemunculan Mayjen Sudrajat sebagai cagub dari Gerindra.

Partai pimpinan Prabowo Subianto tersebut berniat mengajak PKS dan PAN membentuk koalisi ‘reuni’ seperti di Pilgub DKI Jakarta. Apabila itu terjadi, secara otomatis Deddy Mizwar yang sudah menjadi kader Demokrat akan kehilangan kawanan.

Menurutnya, dengan situasi tersebut, Demokrat bersama Deddy Mizwar akan tersudutkan. Bukan tidak mungkin, sambung dia, partai berlogo Mercy tersebut hanya menjadi partai pendukung seperti Pilpres 2014 yang kala itu dimenangkan pasangan Jokowi-JK.

“Kalau PKS dan PAN ikut (Gerindra), pasti Demiz tidak punya teman. Maka besar kemungkinan dia tidak akan diusung oleh partai manapun karena PDIP sudah menutup diri. Kemudian PKB dan PPP berpikir dua kali,” tutur dia.

“Katakanlah Demokrat tidak bisa memilih, dia akan ikut mana saja. Seperti Pilpres 2014 lalu,” tambah Muradi.