Beranda Pendidikan Pornografi Picu Seks Pranikah

Pornografi Picu Seks Pranikah

BOGOR–Pada 2015, survei kesehatan berbasis sekolah di Indonesia menunjukkan, sebanyak 6,9 persen laki-laki dan 3,8 persen perempuan usia 12 sampai 18 tahun, pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Hal itu disampaikan perwakilan Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, Linda Siti Rohaeti pada Seminar Kesehatan Nasional yang digelar mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Ibn Khaldun (UIKA) di auditorium KH Abdullah Shidiq, Sabtu lalu (09/12).

Seminar mengusung tema Perspektif Islam dalam Membentengi Generasi Muda di Tengah Maraknya Perilaku Seksual Pra-Nikah. Linda menyampaikan, gadget menjadi faktor terbesar yang memengaruhi perilaku seksual pra-nikah tersebut. Karena berdasarkan data dari WHO pada 2012, jumlah remaja di dunia yang mengakses pornografi semakin meningkat. ”Dalam data tersebut, Indo­nesia bahkan menempati posisi keempat sebagai negara pengakses pornografi terbanyak di dunia,” tutur Linda.

Dia menyebutkan, data dari Komisi Perlindungan Anak (KPAI) 2015 semakin menguatkan fakta. Sebab, korban pornografi online di Indonesia ada sebanyak sebesar 28 persen, dan 21 persen merupakan pornografi anak online, prostitusi anak online sebesar 21 persen, 15 persen merupakan objek dari pornografi, serta kekerasan seksual anak sebesar 11 persen.

”Anak dan remaja rentan terhadap perilaku berisiko, seperti perilaku seksual pra-nikah itu sendiri, dan berdampak pada banyaknya remaja yang telah mengalami kehamilan,” ungkap Linda.

Hal tersebut, menurut Linda, tentu sangat berisiko bagi ibu maupun bayi yang akan dilahirkan. Linda memberikan fakta, menurut Indonesian Young Reproductive Health Survey (IYARHS) 2007, 1,38 persen perempuan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. ”Dan yang mengerikan, 60 persennya melaku­kan aborsi tidak aman.

Bukan hanya aborsi, namun jumlah yang terjangkit HIV AIDS semakin banyak, bahkan yang terdeteksi terjangkit HIV AIDS itu rata-rata berusia 21 tahun,” tuturnya.

Linda mengimbau, perlu adanya upaya preventif sejak remaja untuk menghindari hal tersebut. Jika dari sisi pemerintah, tentu perlu diadakan program maupun kebijakan-kebijakan untuk mencegah maraknya seksual pra-nikah. ”Kemenkes sendiri mengadakan kegiatan PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) sejak 2003 dan di dalamnya terdapat sex education,” jelasnya.

Di sisi lain, penulis buku ‘Nutrisi, Akal, dan Jiwa’, Ustaz Samsul Bahri menjelaskan, dalam perspektif Islam bahwa pencegahan seksual pra-nikah di kalangang remaja ini dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai religius. ”Pemuda harus kembali pada jalurnya, baru kemudian mereka bisa mengedukasi. Ini diperlukan kesungguhan dalam hati mereka,” jelasnya.

Ustaz Samsul menambahkan, pada surat Ar-Rum ayat 50 sudah dijelaskan bahwa remaja memiliki kelemahan pada fikriyah-nya, namun jasadiyah-nya kuat. “Kelemahan fikriyah tersebut harus dibalut dengan kekuatan ruhiyah, seperti yang tertera dalam surat Al-Kahfi ayat 13,” terangnya.

Pada kegiatan ini, hadir pula pembicara lainnya , yaitu pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Jawa Barat Nurhayati, Pengurus Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Ade Nurfadilah, Civitas Akademi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UIKA Fenti Dewi Pertiwi, serta alumni FIKES UIKA Aprina Suryani.

Ketua Program Studi Kesehatan Masya­rakat Andreanda Nasution menyebutkan, seminar ini merupakan bagian dari kegiatan Prodi Kesehatan Masyarakat UIKA untuk memperkenalkan program studi ini kepada masyarakat luas.

”Di samping itu juga kami ingin mengedukasi masyarakat, yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, yang sudah tahu bisa mengedukasi yang lainnya. Kegiatan ini juga dibuka untuk umum, bukan civitas Akademika UIKA saja,” jelasnya.

Tema pada seminar ini dipilih mengenai perilaku seksual pra-nikah karena menurut Andre, hal tersebut sudah menjadi masalah di Indonesia yang perlu dituntaskan bersama.
“Karena kesehatan itu kan bukan hanya fisik, tapi psikis juga yang terkait dengan karakter dan cara berperilku sosial, hal tersebutlah yang saat ini menjadi perhatian kami sehingga mengadakan seminar ini,” jelasnya.(cr1/c)