Beranda Female Menjadi Orang Tua Cerdas

Menjadi Orang Tua Cerdas

KASIH SAYANG: Agar anak bermental kuat, sering-seringlah memuji dan memeluk anak.

Menjadi orang tua di jaman modern ini tidak mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi tetapi sebagai orang tua kita juga harus cerdas dalam menghadapi masalah, agar anak bisa menjadikan orang tua sebagai panutan.

Psikolog dan Mental Coach Indonesia Anrio Mafrizal, S.Psi yang akrab di sapa Rio menceritakan sebuah realitas kehidupan anak sekolah yang sering terjadi pada umumnya. Seorang anak laki-laki yang memiliki perawakan kecil pendek dan warna kulit agak gelap, anak tersebut dari kelas tiga sampai enam SD dipanggil si item. Ketika masuk SMP sebagian besar teman lamanya memasuki kelas yang sama dengannya dan anak tersebut tetap di panggil item. Ketika pulang sekolah anak itu menangis dan mengadu kepada ibunya bahwa dia ingin pindah sekolah.

Rio menuturkan bahwa ibu anak tersebut sangat cerdas saat menangani permasalahan anaknya, ibu meminta anak untuk menceritakan semua persoalan yang terjadi, ketika mengetahui hal tersebut ibu memberikan pengertian kepada anak bahwa dirinya memang memiliki kulit hitam. Permasalah pindah sekolah itu perkara mudah tetapi ibu tidak ingin memiliki anak yang pengecut, lihat kulit ibu sama seperti kamu itu tandanya kamu adalah anak kandung ibu, ibu bangga memiliki anak seperti kamu, kata ibu tegas untuk memperkuat karakter anak.

universitas pakuan unpak

Ke esokan harinya anak tersebut sudah rapih dengan seragam sekolahnya dan bilang bahwa dia tidak mau pindah sekolah dan ibunya tidak membahas persoalan yang kemarin, meskipun ketika di sekolah ibu anka tersebut membicarakan hal terkait dengan pihak sekolah.

Rio menjelaskan dari cerita tersebut banyak hal yang bisa dijaladikan pelajaran dalam mendidik anak, ketika anak mendapatkan masalah biarkan anak bercerita, jangan langsunsg terbawa emosi dan membela anak, sebnagai orang tua harus smart dalam mendidik anak.

“Rasa percaya diri paling kuat di bangun dari lingkungan keluarga, mau seisi dunia membully tetapi orang tua tidak pernah membully dan selalu menguatkan maka anak menjadi kuat,” tuturnya dalam Seminar Parenting di PG/TK Kesatuan Kamis (7/12) dengan tema “Smart Parents, Smart Kids”.

Hargai anak dengan pujian yang baik seperti ganteng, cantik, manis dan lain-lain, hal tersebut melatih anak secara dini sampai dewasa agar nanti jika sudah masuk masa SMP dan SMA bisa membatasi diri dari pergaulan bebas. Ada anak ketika SD memiliki perilaku baik dan ketika SMP dan SMA sangat berubah dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena disebabkan oleh  krisis kata-kata yang membuatnya dihargai. Anak yang memiliki perilaku seperti itu mudah diperdaya oleh lawan jenisnya.

Peluk anak agar merasa memiliki tempat untuk recharge, tetapi yang paling berbahaya adalah ketika di sekolah di apresiasi tetapi di rumah disepelekan dan selalu dibanding-bandingkan. Sekecil apapun berikan apresiasi kepada anak, tidak perlu yang mahal berikan pujian atau makanan yang anak sukai itu sudah bentuk apresiasi.

Sebagai orang tua jangan membanding-bandingkan anak dengan orang lain, jangan hanya memuji anak ketika memiliki nilai yang tinggi, saat anak memiliki nilai yang rendah tanya penyebabnya dan bantu untuk memperbaiki nilai anak. Didik anak dengan pola asuh yang benar maka anak tidak akan terjerumus dengan pergaulan yang tidak baik. Anak yang nakal dan lebih betah di luar rumah bukan karena mereka mau seperti itu tetapi karena mereka tidak tau harus kemana jika di rumah selalu di bading-bandingkan dan disalahkan.

“Setiap anak memiliki kelebihannya masing-masing, ada anak yang cerdas di bidang akademik tetapi ada anak yang menonjol di bidang non akademik, itu tetap harus diapresiasi karena setiap anak tidak bida dibandingkan dengan yang lainnya. Kalau mau melihat kelebihan anak dari masa kecilnya, berhenti membanding-bandingkan,” tegasnya. (cr6)